Teliti Teori Kuantum, Doktor ITS Lulus 2,5 Tahun dengan Lima Publikasi Q1
Tim langit 7
Selasa, 30 Juli 2024 - 18:00 WIB
Muhammad Taufiqi (tiga dari kiri) bersama keluarga dan dosen pembimbing selepas melakukan sidang disertasi untuk promosi doktornya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali melahirkan lulusan doktor berprestasi dari Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD). Dia adalah Muhammad Taufiqi yang berhasil menamatkan studinya hanya dalam waktu 2,5 tahun.
Tak tanggung-tanggung, selama masa studi doktoralnya, ia telah sukses mempublikasikan lima jurnal ilmiah internasional sekaligus dengan reputasi Quartile 1 (Q1), yakni tingkatan dalam jurnal internasional Scopus yang memiliki dampak paling signifikan dibandingkan dengan klasifikasi lainnya.
Lelaki yang akrab disapa Taufiqi ini sebenarnya bisa saja lulus dalam waktu dua tahun. Namun, aturan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Riset Teknologi (Diktiristek) bahwa program doktoral harus dijalani lebih dari dua tahun yang akhirnya menyebabkan Taufiqi menambah satu semester lagi.
Baca juga:Pelatihan Spiritual dan Kebangsaan di ITS Dorong Mahasiswa Baru Aktif Bereksplorasi
Tak ingin menghabiskan waktunya sia-sia, Taufiqi mengoptimalkan waktu tambahan tersebut untuk memperkuat penelitiannya.
Dalam penelitiannya, dosen Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang ini berfokus pada pengembangan protokol teleportasi kuantum yang lebih aman. Ia menggabungkan dua konsep teori kuantum, yaitu protokol enkripsi dan protokol teleportasi menjadi satu kesatuan untuk dapat digunakan secara bersamaan.
"Topik ini saya pilih karena memiliki potensi besar untuk meningkatkan keamanan data dalam komunikasi kuantum," jelas lelaki asal Pasuruan, Jawa Timur tersebut.
Tak tanggung-tanggung, selama masa studi doktoralnya, ia telah sukses mempublikasikan lima jurnal ilmiah internasional sekaligus dengan reputasi Quartile 1 (Q1), yakni tingkatan dalam jurnal internasional Scopus yang memiliki dampak paling signifikan dibandingkan dengan klasifikasi lainnya.
Lelaki yang akrab disapa Taufiqi ini sebenarnya bisa saja lulus dalam waktu dua tahun. Namun, aturan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Riset Teknologi (Diktiristek) bahwa program doktoral harus dijalani lebih dari dua tahun yang akhirnya menyebabkan Taufiqi menambah satu semester lagi.
Baca juga:Pelatihan Spiritual dan Kebangsaan di ITS Dorong Mahasiswa Baru Aktif Bereksplorasi
Tak ingin menghabiskan waktunya sia-sia, Taufiqi mengoptimalkan waktu tambahan tersebut untuk memperkuat penelitiannya.
Dalam penelitiannya, dosen Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang ini berfokus pada pengembangan protokol teleportasi kuantum yang lebih aman. Ia menggabungkan dua konsep teori kuantum, yaitu protokol enkripsi dan protokol teleportasi menjadi satu kesatuan untuk dapat digunakan secara bersamaan.
"Topik ini saya pilih karena memiliki potensi besar untuk meningkatkan keamanan data dalam komunikasi kuantum," jelas lelaki asal Pasuruan, Jawa Timur tersebut.