Masak Muhammadiyah Tumbang oleh Tambang?
Tim langit 7
Rabu, 31 Juli 2024 - 15:46 WIB
Fathin Najla, Novelis/Pegiat APIMU.Foto/ist
Fathin Najla
Novelis/Pegiat APIMU
Geger persoalan pengelolaan tambang oleh Muhammadiyah masih terus menggema. Justru yang bereaksi keras kader kader internal Muhammadiyah.
Mengapa? Ada hal mendasar bahwa mencintai Muhammadiyah salah satu manifestasinya adalah dengan mencintai lingkungan. Sedangkan kegiatan tambang sendiri pasti menimbulkan banyak kerusakan. Respon masyarakat pun sangat beragam, mulai dari menyayangkan keikutsertaan Sang Surya dalam praktik pertambangan dan ada pula yang menantikan gebrakan kemaslahatan apa yang akan dibawa Muhammadiyah nanti.
Mengutip salah satu ungkapan aktivis lingkungan yang pernah disampaikan, Dhandy Laksono mengatakan “Tidak ada dalam sejarah kota tambang yang sejahtera pasca penambangan”. Hal tersebut menandakan bahwa kegiatan penambangan memang selalu identik dengan segala dampak negatif daripada kebermanfaatan. Bahkan dalam sosial media, ramai para stakeholder Muhammadiyah di berbagai daerah menyuarakan kekecewaannya dengan keputusan ini, tidak lain karena mereka semua tidak ingin Muhammadiyah menjadi salah satu pisau yang melukai hati rakyat.
Wajar jika muncul pertanyaan, sebenarnya Muhammadiyah sedang membela siapa?
Meski penerimaan pengelolaan izin tambang tersebut didasari dengan 9 komitmen yang telah dirilis di akun resmi Muhammadiyah, hal demikian tidak lantas dapat meredam kekecewaan masyarakat terhadap pilihan Muhammadiyah. Hal ini juga cukup sengit diperbincangkan dalam internal Muhammadiyah sendiri, terbentuk kolektif yang mendukung adapula yang memilih menyudahi keterlibatannya dalam perkaderan Muhammadiyah sebagai bentuk penolakan dan protes. Resistensi sudah mulai nampak terjadi di berbagai jajaran persyarikatan.
Novelis/Pegiat APIMU
Geger persoalan pengelolaan tambang oleh Muhammadiyah masih terus menggema. Justru yang bereaksi keras kader kader internal Muhammadiyah.
Mengapa? Ada hal mendasar bahwa mencintai Muhammadiyah salah satu manifestasinya adalah dengan mencintai lingkungan. Sedangkan kegiatan tambang sendiri pasti menimbulkan banyak kerusakan. Respon masyarakat pun sangat beragam, mulai dari menyayangkan keikutsertaan Sang Surya dalam praktik pertambangan dan ada pula yang menantikan gebrakan kemaslahatan apa yang akan dibawa Muhammadiyah nanti.
Mengutip salah satu ungkapan aktivis lingkungan yang pernah disampaikan, Dhandy Laksono mengatakan “Tidak ada dalam sejarah kota tambang yang sejahtera pasca penambangan”. Hal tersebut menandakan bahwa kegiatan penambangan memang selalu identik dengan segala dampak negatif daripada kebermanfaatan. Bahkan dalam sosial media, ramai para stakeholder Muhammadiyah di berbagai daerah menyuarakan kekecewaannya dengan keputusan ini, tidak lain karena mereka semua tidak ingin Muhammadiyah menjadi salah satu pisau yang melukai hati rakyat.
Wajar jika muncul pertanyaan, sebenarnya Muhammadiyah sedang membela siapa?
Meski penerimaan pengelolaan izin tambang tersebut didasari dengan 9 komitmen yang telah dirilis di akun resmi Muhammadiyah, hal demikian tidak lantas dapat meredam kekecewaan masyarakat terhadap pilihan Muhammadiyah. Hal ini juga cukup sengit diperbincangkan dalam internal Muhammadiyah sendiri, terbentuk kolektif yang mendukung adapula yang memilih menyudahi keterlibatannya dalam perkaderan Muhammadiyah sebagai bentuk penolakan dan protes. Resistensi sudah mulai nampak terjadi di berbagai jajaran persyarikatan.