LANGIT7.ID - Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering kali serbacepat, manusia sering kali terlena oleh rutinitas dan melupakan perenungan mendalam mengenai eksistensi dirinya sendiri. Padahal, jika seseorang mengamati diri sendiri maupun orang-orang yang ada di sekitarnya, akan muncul sebuah kesadaran yang tidak bisa ditawar lagi mengenai berbagai kekuasaan Allah Azza wa Jalla.
Kehidupan di dunia ini bukanlah sebuah siklus acak yang bergerak tanpa arah, melainkan sebuah perjalanan panjang dan terencana yang pasti melewati berbagai fase yang tidak bisa dipungkiri, terutama jika seseorang dianugerahi umur yang panjang.
Perjalanan ini dimulai dari titik awal yang sama sekali tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Sebelum lahir ke dunia, manusia tidak ada, atau lebih tepatnya tidak disebut sebagai sesuatu yang memiliki wujud. Kemudian, proses penciptaan membawanya ke alam dunia sebagai seorang bayi yang lemah dan sama sekali tidak berdaya, sangat bergantung pada orang lain, dan memerlukan kasih sayang serta perlindungan penuh.
Fase permulaan yang rapuh ini seiring waktu bertransisi secara perlahan menuju masa kanak-kanak, sebuah fase di mana manusia mulai belajar berjalan, berbicara, mengeksplorasi lingkungan, dan membangun fondasi ingatan serta kepribadian awal.
Setelah fase kanak-kanak terlewati, siklus pertumbuhan melangkah ke masa muda. Fase ini adalah masa di mana manusia berada dalam kondisi puncak kekuatan fisik, emosi, dan intelektual. Pada tahapan ini, gelora untuk belajar, mencari jati diri, serta mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup sangat terasa. Namun, dinamika ini tidak berhenti di sana. Manusia akan melangkah lebih jauh menuju fase kedewasaan. Di masa dewasa, manusia memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar, baik dalam konteks sosial, pekerjaan, maupun pembinaan keluarga.
Akan tetapi, roda terus berputar tanpa henti. Fase penuaan menjadi fase yang tidak dapat dihindari bagi mereka yang dikaruniai umur panjang. Pada masa tua, kekuatan fisik yang sebelumnya memuncak mulai mengalami kemunduran, rambut berangsur memutih, dan kulit mulai mengerut. Puncak atau akhir dari seluruh fase ini adalah kematian, suatu kepastian yang tidak dapat dihindari oleh setiap jiwa yang bernyawa.
Rangkaian fase kehidupan ini dijelaskan dengan sangat gamblang di dalam Alquran, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taala dalam Surah Al-Baqarah ayat 28:
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَKaifa takfuruna billahi wa kuntum amwatan fa ahyakum, thumma yumitukum thumma yuhyikum, thumma ilaihi turja'un.Artinya:
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?Terkait ayat tersebut, Imam Baghawi rahimahullah memberikan penjelasan yang sangat mendalam. Dalam kitab Tafsîr al-Baghawi jilid 1 halaman 77, beliau menyatakan bahwa Allah Azza wa Jalla melontarkan pertanyaan yang bernada keheranan kepada orang-orang musyrik Arab mengenai alasan mereka kafir kepada Allah. Padahal, tanda-tanda kebesaran-Nya telah sangat jelas dan dalil-dalil telah ditegakkan.
Imam Baghawi menguraikan bahwa manusia tadinya mati, yaitu dalam bentuk setetes mani yang berada di dalam tulang sulbi ayah mereka. Lalu Allah menghidupkan manusia di dalam rahim ibu dan kemudian di dunia. Setelah itu, Allah mematikan manusia ketika ajal telah habis, dan kemudian akan menghidupkan mereka kembali pada hari kebangkitan setelah kematian. Pada akhirnya, manusia akan kembali kepada-Nya di akhirat, di mana Allah akan memberikan balasan atas segala perbuatan yang dilakukan selama di dunia.
Jika kita menelaah lebih jauh dari sudut pandang ilmu psikologi perkembangan, konsep pentahapan ini sejalan dengan apa yang diuraikan oleh pakar psikologi Erik Erikson dalam bukunya
Childhood and Society. Erikson membagi perkembangan psikososial manusia ke dalam delapan tahapan, mulai dari masa bayi hingga usia lanjut. Setiap tahapan memiliki krisis atau tugas perkembangan yang harus diselesaikan, yang membuktikan bahwa perubahan fisik dan mental manusia adalah sesuatu yang sudah menjadi hukum alam atau sunatullah. Teori ini memperkuat gagasan bahwa transisi fase hidup adalah hal yang universal dan terprogram secara biologis maupun psikologis.
Di sisi lain, sosiolog Robert N. Bellah dalam karyanya
Sosiologi Agama memberikan perspektif sosiologis mengenai bagaimana manusia memaknai siklus hidup. Bellah menyatakan bahwa transisi dari fase muda hingga fase tua dan akhirnya menghadapi kematian merupakan proses pendewasaan spiritual. Kesadaran akan keterbatasan waktu hidup di dunia seharusnya mengubah orientasi manusia dari yang bersifat materialistik menuju pencarian makna yang lebih hakiki dan spiritual.
Sementara itu, Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi dalam karyanya
Al-Iman bil Malaikah menegaskan bahwa merenungkan fase-fase kehidupan ini dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Manusia yang menyadari bahwa dirinya tumbuh dari setetes air mani, kemudian menjadi manusia dewasa, dan pada akhirnya akan kembali ke tanah, akan menyadari kelemahan dirinya. Kesadaran akan ketidakberdayaan ini akan menghilangkan kesombongan dan mendorong manusia untuk selalu bersyukur kepada Sang Pencipta.
Pada akhirnya, naskah ini mengajak kita semua untuk melihat bahwa siklus kehidupan di dunia bukanlah sekadar rangkaian proses biologis yang kosong makna. Di balik setiap perubahan fisik dan mental, terdapat sebuah pesan teologis yang kuat mengenai asal usul dan tujuan akhir kehidupan manusia. Perjalanan dari ketiadaan hingga kembali kepada Allah adalah sebuah proses pembuktian, di mana setiap fase memberikan kesempatan kepada manusia untuk mempersiapkan bekal terbaik.
(mif)