Rupiah Melemah, Dampak Gejolak Politik dan Kebijakan The Fed
Nabil
Kamis, 22 Agustus 2024 - 16:14 WIB
Rupiah Melemah, Dampak Gejolak Politik dan Kebijakan The Fed
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Mata uang rupiah mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan hari ini, ditutup melemah 100,5 poin ke level Rp15.600 dari penutupan sebelumnya di Rp15.499,5. Pelemahan ini terjadi di tengah gejolak politik domestik dan ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi pasar keuangan.
Sentimen Negatif dari Dalam Negeri
Faktor utama yang memicu pelemahan rupiah adalah gejolak politik domestik terkait revisi Undang-Undang Pilkada. Delapan dari sembilan fraksi di DPR sepakat untuk hanya menerapkan sebagian putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait syarat pencalonan kepala daerah pada rancangan perubahan UU Pilkada. Keputusan ini dianggap sebagai "pembangkangan" terhadap putusan MK dan telah memicu gelombang aksi massa di berbagai daerah.
Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, mengomentari situasi ini dengan menyatakan, "Seharusnya DPR dan pemerintah membangun iklim investasi yang kondusif, transparan, dan terukur. Sebab, pelaku usaha akan memasukkan risiko politik dalam perencanaan ekspansi bisnis mereka," ujar dia dalam keterangan resmi, Kamis (22/8/2024).
Ketidakpastian politik ini telah menciptakan sentimen negatif terhadap rupiah, membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka di aset rupiah.
Faktor Eksternal yang Mempengaruhi
Sementara itu, di panggung global, indeks dolar AS menguat 0,2% dalam perdagangan hari ini, bangkit kembali setelah tiga hari penurunan tajam yang menempatkannya pada posisi terendah tujuh bulan. Penguatan dolar AS ini turut memberikan tekanan pada rupiah.
Sentimen Negatif dari Dalam Negeri
Faktor utama yang memicu pelemahan rupiah adalah gejolak politik domestik terkait revisi Undang-Undang Pilkada. Delapan dari sembilan fraksi di DPR sepakat untuk hanya menerapkan sebagian putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait syarat pencalonan kepala daerah pada rancangan perubahan UU Pilkada. Keputusan ini dianggap sebagai "pembangkangan" terhadap putusan MK dan telah memicu gelombang aksi massa di berbagai daerah.
Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, mengomentari situasi ini dengan menyatakan, "Seharusnya DPR dan pemerintah membangun iklim investasi yang kondusif, transparan, dan terukur. Sebab, pelaku usaha akan memasukkan risiko politik dalam perencanaan ekspansi bisnis mereka," ujar dia dalam keterangan resmi, Kamis (22/8/2024).
Ketidakpastian politik ini telah menciptakan sentimen negatif terhadap rupiah, membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka di aset rupiah.
Faktor Eksternal yang Mempengaruhi
Sementara itu, di panggung global, indeks dolar AS menguat 0,2% dalam perdagangan hari ini, bangkit kembali setelah tiga hari penurunan tajam yang menempatkannya pada posisi terendah tujuh bulan. Penguatan dolar AS ini turut memberikan tekanan pada rupiah.