LANGIT7.ID-, Jakarta- - Mata uang rupiah mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan hari ini, ditutup melemah 100,5 poin ke level Rp15.600 dari penutupan sebelumnya di Rp15.499,5. Pelemahan ini terjadi di tengah gejolak politik domestik dan ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi pasar keuangan.
Sentimen Negatif dari Dalam NegeriFaktor utama yang memicu pelemahan rupiah adalah gejolak politik domestik terkait revisi Undang-Undang Pilkada. Delapan dari sembilan fraksi di DPR sepakat untuk hanya menerapkan sebagian putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait syarat pencalonan kepala daerah pada rancangan perubahan UU Pilkada. Keputusan ini dianggap sebagai "pembangkangan" terhadap putusan MK dan telah memicu gelombang aksi massa di berbagai daerah.
Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, mengomentari situasi ini dengan menyatakan, "Seharusnya DPR dan pemerintah membangun iklim investasi yang kondusif, transparan, dan terukur. Sebab, pelaku usaha akan memasukkan risiko politik dalam perencanaan ekspansi bisnis mereka," ujar dia dalam keterangan resmi, Kamis (22/8/2024).
Ketidakpastian politik ini telah menciptakan sentimen negatif terhadap rupiah, membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka di aset rupiah.
Faktor Eksternal yang MempengaruhiSementara itu, di panggung global, indeks dolar AS menguat 0,2% dalam perdagangan hari ini, bangkit kembali setelah tiga hari penurunan tajam yang menempatkannya pada posisi terendah tujuh bulan. Penguatan dolar AS ini turut memberikan tekanan pada rupiah.
Pasar global masih menantikan pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell di Simposium Jackson Hole pada hari Jumat, yang diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan moneter AS. Sebelumnya, risalah rapat Fed akhir Juli menunjukkan sebagian besar pembuat kebijakan mendukung suku bunga yang lebih rendah, meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga pada September.
Revisi tajam ke bawah pada data penggajian AS untuk tahun hingga Maret 2024 juga memperkuat alasan untuk penurunan suku bunga. Namun, hal ini juga memicu kekhawatiran baru tentang kemungkinan resesi di AS, mengingat data penggajian beberapa bulan terakhir juga menunjukkan pelemahan.
Selain itu, risiko geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi perhatian investor. Upaya diplomasi AS untuk menengahi gencatan senjata antara Israel dan Hamas belum membuahkan hasil, menambah ketidakpastian di kawasan tersebut.
Prospek Rupiah ke DepanUntuk perdagangan besok, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp15.590 - Rp15.650. Proyeksi ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek.
Pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan politik domestik serta isyarat kebijakan moneter global, terutama dari Federal Reserve AS. Stabilitas politik dan kepastian hukum di dalam negeri akan menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan investor dan memperkuat posisi rupiah di pasar valuta asing.
(lam)