LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah tercatat menguat 35 poin pada perdagangan Selasa (04/03/2025), ditutup di level Rp16.445 dari penutupan sebelumnya di Rp16.480. Penguatan ini terjadi seiring dengan melemahnya indeks dolar Amerika Serikat yang dipicu oleh kebijakan tarif baru yang diterapkan Presiden Donald Trump.
Presiden Trump pada Senin (3/3) mengonfirmasi pemberlakuan tarif sebesar 25% untuk impor dari Meksiko dan Kanada yang mulai berlaku pada 4 Maret pukul 5:01 GMT. Tidak hanya itu, Trump juga menandatangani perintah untuk menaikkan tarif atas barang-barang dari China dari 10% menjadi 20%.
Kebijakan tarif baru ini semakin memperkeruh hubungan antara Amerika Serikat dengan China. Pihak China sendiri telah berjanji akan mengambil tindakan balasan untuk melindungi kepentingan ekonominya. Sementara itu, Kanada juga tengah mempersiapkan pembalasan serupa, seperti yang disampaikan oleh pemerintah mereka pada Selasa (4/3).
Ketegangan Geopolitik Memengaruhi Pasar GlobalSelain perang dagang, ketegangan geopolitik juga turut memengaruhi pergerakan pasar global. Penghentian sementara semua bantuan militer AS ke Ukraina baru-baru ini dikonfirmasi oleh seorang pejabat Gedung Putih. Keputusan ini diambil menyusul bentrokan antara Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy di Ruang Oval minggu lalu.
Pasar telah melihat semakin jauhnya jarak antara Gedung Putih dan Ukraina sebagai tanda potensi meredanya konflik. Hal ini diperkirakan dapat berujung pada pencabutan sanksi bagi Rusia. Penghentian bantuan tersebut juga menyusul laporan Reuters bahwa Gedung Putih telah meminta Departemen Luar Negeri dan Departemen Keuangan untuk menyusun daftar sanksi yang dapat dilonggarkan untuk dibahas dengan perwakilan Rusia dalam waktu dekat.
Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang, memperkirakan bahwa untuk perdagangan besok, nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.430 hingga Rp16.500.
"Tarif baru yang diberlakukan Trump diperkirakan akan meningkatkan ketidakpastian perdagangan, mengganggu rantai pasokan, dan melemahkan permintaan ekspor. Kondisi ini berpotensi merugikan pertumbuhan ekonomi dan kepercayaan investor di pasar Asia," ujar dia dalam keterangan resmi, Selasa (4/3/2025).
Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Tantangan GlobalDi tengah berbagai tantangan global, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang patut diapresiasi. Memasuki kuartal pertama 2025, konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Indeks Kepuasan Konsumen (IKK) tercatat di level ekspansif 127,2 pada Januari, sedangkan Indeks Penjualan Ritel (IPR) masih tumbuh positif sebesar 0,4%.
Stabilitas konsumsi masyarakat Indonesia didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah, salah satunya adalah program diskon tarif listrik sebesar 50% yang diterapkan pada Januari dan Februari 2025. Program ini tidak hanya membantu menekan pengeluaran rumah tangga, tetapi juga berkontribusi pada terjadinya deflasi sebesar 0,09% secara tahunan pada Februari. Komponen Administered Price mencatat deflasi tajam hingga 9,02%, menjadi faktor utama penekan inflasi.
Pemerintah juga tengah mempersiapkan langkah strategis menghadapi Ramadan dan Idulfitri 2025. Berbagai program seperti operasi pasar, gerakan pasar murah, hingga pengawasan distribusi pangan diperkuat untuk menjamin harga kebutuhan pokok tetap terjangkau bagi masyarakat.
Selain fokus pada kebutuhan pokok, pemerintah juga memberikan insentif berupa diskon tarif tol dan pembebasan PPN untuk tiket pesawat. Kebijakan ini digulirkan untuk mendukung mobilitas masyarakat saat mudik Lebaran, sehingga masyarakat dapat merayakan Idulfitri bersama keluarga tanpa terbebani biaya tinggi. Secara tidak langsung, kebijakan ini juga memberikan dorongan tambahan pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Penguatan rupiah pada perdagangan Selasa menunjukkan bahwa pasar valuta asing masih memberikan respons positif terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Meski dihadapkan pada berbagai tantangan global, baik dari sisi kebijakan tarif Trump maupun ketegangan geopolitik, perekonomian Indonesia masih menunjukkan fundamental yang cukup kuat, terutama dengan didukung oleh konsumsi domestik yang stabil.
(lam)