LANGIT7.ID-, Jakarta - - Perjalanan
sektor ekonomi menunjukkan tren yang dinamis selama tahun 2024, baik global maupun domestik. Namun, ketidakpastian di sektor ini juga diprediksi masih akan menjadi bayang-bayang pada tahun 2025.
Business Development Advisor, Bursa Efek Indonesia, Poltak Hotradero, memproyeksikan bahwa perekonomian global akan stagnan di angka 3,2 persen.
“Saat ini juga sedang terjadi
soft landing di mana terjadi perlambatan siklus
pertumbuhan ekonomi untuk menghindari
resesi,” kata Poltak Hotradero dalam diskusi media Allianz, bertema Economy Outlook 2025: How Insurance & Media Industry Navigate the Uncertainty di Jakarta, Rabu (11/12/2024) kemarin.
Baca juga: Mendag Budi Tekankan Kewirausahaan sebagai Indikator Penting Pertumbuhan EkonomiIa menambahkan bahwa saat ini,
bank sentral sedang berupaya untuk menaikkan suku bunga secukupnya sehingga dapat menghentikan ekonomi dari inflasi yang tinggi tanpa menyebabkan
downturn yang parah.
Sementara kondisi perekonomian nasional diproyeksikan juga akan mengalami ketidakpastian.
Selain terdampak kondisi perekonomian global, berbagai pihak masih menanti kebijakan dari pemerintahan baru walaupun hingga triwulan III 2024 pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik di tengah peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal tersebut ekonomi Indonesia tercatat tumbuh sebesar 4,95 persen (yoy) setelah sebelumnya mencapai angka 5,05 persen (yoy) dan 5,11 persen (yoy) yang didorong oleh aktivitas ekonomi musiman, seperti momen Pemilu, Ramadan, Idulfitri, liburan sekolah, hingga acara keagamaan lainnya.
“Walaupun pertumbuhannya terjaga, namun tetap terlihat adanya perlambatan apabila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Kuartal selanjutnya diperkirakan akan banyak didorong oleh momen Natal dan Tahun Baru. Namun, tetap tidak akan ada kenaikan yang signifikan,” terang Poltak.
Menurutnya, ketidakpastian ekonomi cukup memunculkan kebingungan dan berdampak pada masyarakat.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Mudharabah dan PropertiTak heran apabila terjadi peningkatan harga pada bahan pokok, BBM, gas elpiji serta rumor kenaikan iuran tarif BPJS, hingga tarif transportasi yang menyebabkan masyarakat menjadi kurang tertarik untuk melakukan spending.
Menurut data Purchasing Managers Index (PMI), sektor manufaktur Indonesia hingga Juli 2024 turun ke level 49,7 yang mana menjadi tanda bahwa ekonomi Indonesia sedang lesu. Ini adalah level terendah sejak Agustus 2021.
Di sisi lain, tingkat pengangguran juga meningkat dikarenakan gelombang PHK yang semakin besar. Hal ini terjadi karena perusahaan dari berbagai industri sedang mengalami deflasi karena daya beli masyarakat yang lesu.
Dari permasalahan-permasalahan tersebut kelompok masyarakat yang cukup terdampak adalah kelas menengah. Padahal, masyarakat kelas menengah memiliki kontribusi yang esensial untuk daya tahan perekonomian.
Terkait itu, Poltak menyarankan masyarakat untuk selalu menjaga
cash flow supaya tetap sehat, tidak menumpuk terlalu banyak utang, memiliki dana darurat dan aset lancar yang cukup, tetap memiliki investasi walaupun sedang di masa-masa yang sulit, dan memiliki proteksi yang tepat, seperti BPJS maupun asuransi swasta.
Baca juga: Menuju Ekonomi Hijau: Wamendag Prioritaskan Perdagangan BerkelanjutanCountry Chief Product Officer Allianz Life Indonesia, Himawan Purnama, menjelaskan bahwa Allianz juga memahami adanya ketidakpastian ekonomi dalam negeri maupun global yang akan terjadi pada tahun 2025.
Menurunnya daya beli masyarakat serta kesadaran akan pentingnya asuransi juga terlihat pada angka penetrasi asuransi yang masih rendah, yakni sebesar 2,8 persen (per September 2024) yang mana belum sebanding dengan angka literasi dan inklusi asuransi yang sudah mencapai 76,25 persen dan 12,21 persen.
Sebagai perusahaan penyedia layanan asuransi, Allianz Indonesia berkomitmen untuk terus beradaptasi dengan situasi terkini.
Himawan menyampaikan bahwa penting bagi masyarakat untuk tetap memiliki proteksi dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi pada tahun 2025.
“Hal tersebut mendorong kami untuk terus meningkatkan pemahaman dan penetrasi asuransi dengan menyediakan solusi dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” kata Himawan.
(est)