LANGIT7.ID-Jakarta; Rupiah ditutup melemah 27 poin ke level Rp16.339 pada perdagangan Kamis (6/3/2025), meski sempat menguat 50 poin di awal sesi. Menurut pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, rupiah diprediksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp16.320-Rp16.370 pada perdagangan besok.
Pelemahan terjadi saat indeks dolar AS melemah setelah Gedung Putih mengumumkan pengecualian satu bulan dari tarif 25% untuk impor kendaraan dari Meksiko dan Kanada. Namun, sentimen tetap rapuh karena Trump tidak memberikan pengecualian dalam tarif 20% terhadap Tiongkok, memicu pembalasan dari Beijing.
Trump kemungkinan akan menghapus tarif 10% pada impor energi Kanada yang mematuhi perjanjian perdagangan yang ada. Gedung Putih menyatakan Trump terbuka mempertimbangkan pengecualian tarif tambahan setelah kebijakan tersebut berlaku Selasa lalu.
Stimulus Tiongkok dan Data Ekonomi ASInvestor mencermati rencana stimulus Tiongkok yang diumumkan dalam pertemuan pemerintah tingkat tinggi minggu ini. Tiongkok menetapkan target pertumbuhan PDB 2025 sekitar 5% untuk menyegarkan ekonominya yang melambat.
Pasar menantikan data penggajian nonpertanian AS untuk Februari yang akan dirilis Jumat. Indikasi kekuatan berkelanjutan di pasar tenaga kerja AS akan memberi Federal Reserve alasan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, mendukung penguatan dolar.
Deflasi dan Prospek Ekonomi IndonesiaIndonesia mengalami deflasi pada Januari dan Februari 2025, terutama disebabkan kebijakan diskon tarif listrik bagi pelanggan dengan daya di bawah 2.200 VA. Disinflasi tercermin dari penurunan 7,7% secara tahunan pada inflasi yang diatur pemerintah dan kontraksi 16% pada inflasi energi.
Inflasi inti tetap melampaui inflasi umum dengan kenaikan 2,5% tahunan, menandakan permintaan yang stabil. Seiring berakhirnya dampak subsidi listrik, inflasi umum diperkirakan kembali menuju target Bank Indonesia 1,5%-3,5%.
Bank Indonesia diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan, namun terkendala kondisi rupiah yang rentan. Pertumbuhan ekonomi juga menghadapi tekanan dari tiga kebijakan Presiden Prabowo: program quick wins, efisiensi belanja, dan pembentukan Danantara.
Meski menghadapi tantangan, pemerintah tetap optimis pertumbuhan ekonomi 2025 akan mencapai 5,1% di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
(lam)