home edukasi & pesantren

Dampak Perundungan Dalam Kesehatan Mental Manusia

Jum'at, 27 September 2024 - 21:39 WIB
Dampak Perundungan Dalam Kesehatan Mental Manusia
(Muhammad Zulvan, Mahasiswa Fakultas Kesehatan MasyarakatUIN Syarif Hidayatullah)

LANGIT7.ID-, Jakarta- - Kata perundungan atau disebut juga bullying dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya adalah mengganggu; menjahili terus-terusan; membuat susah; menyakiti orang lain baik fisik maupun psikisnya berbentuk kekerasan verbal, sosial, dan fisik terus menerus dan dari waktu ke waktu, seperti pemanggilan nama individu dengan julukan tertentu. Dampak dari perundungan itu—kini telah banyak meresahkan dan masalah di berbagai sektor masyarakat, terutama psikologis, dimana perundungan mempengaruhi kesehatan mental dan kejiwaan korban. Anehnya dalam perkembangan kasus – kasus perundungan saat ini telah merambah ke ranah daring karena kemajuan teknologi, sehingga menjadikan korban mengalami pelecehan di ranah publik dan mengganggu normalitas kehidupan sehari – hari. Berangkat dari fenomena dan realitas itu, penulis ingin menguraikan bagaimana perundungan mempengaruhi kesehatan mental korban, termasuk kecemasan, depresi, dan trauma jangka panjang, serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan kognitif dan keberhasilan akademis.

Di kasus perundungan dinamika kekuasaan memainkan peran penting selama ini. Dominasi atau bahaya terhadap korban dibangun dengan memanfaatkan kekuatan fisik, sosial, atau psikologis. Dampaknya korban sering merasa terjebak dalam situasi di luar kendali mereka, yang menyebabkan ketakutan dan ketidakberdayaan yang nyata. Sebuah survei yang dilakukan oleh Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menemukan bahwa individu yang dirundung sering kali mengalami penurunan harga diri dan perasaan rendah diri. Biasanya, mereka mulai berpikir bahwa jika sesuatu terus-menerus terjadi pada mereka, itu berarti mereka tidak layak untuk dihormati dan dicintai. Hal ini menyebabkan meningkatnya isolasi sosial dan menurunnya kesejahteraan mental mereka.Menjadi pelaku perundungan dapat menimbulkan rasa malu dan takut pada korbannya. Mereka mungkin suatu hari menjadi orang-orang yang dibicarakan di media karena menjadi pelaku perundungan, tetapi sekarang, sebagai remaja atau orang dewasa, mereka membela diri mereka sendiri setelah mengalami banyak kejadian penindasan secara emosional dan mental selama masa kecil mereka. Sebaliknya, individu tersebut memendam pengalaman tersebut dan percaya bahwa mereka berhak mendapatkannya atau sering kali merasa tidak berdaya untuk melawan. Perasaan tidak berdaya ini berdampak kuat pada kesejahteraan mental individu yang mengalami pelecehan. Informasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kemendikbud mengungkapkan bahwa perundungan di lingkungan sekolah sering kali menyebabkan korban merasa tidak aman dan enggan untuk masuk sekolah, sehingga mengakibatkan stres dan kecemasan.

Perundungan merupakan masalah yang meluas di berbagai sektor masyarakat, khususnya di lingkungan sekolah dan lingkungan sosial remaja. Perundungan dapat terjadi secara fisik, verbal, atau psikologis. Lebih jauh lagi, perundungan telah merambah ke ranah daring karena kemajuan teknologi. Meskipun korban perundungan mungkin memperlihatkan luka fisik, luka emosional mereka tetap tidak terlihat. Esai ini akan membahas bagaimana perundungan mempengaruhi kesehatan mental korban, termasuk kecemasan, depresi, dan trauma jangka panjang, serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan kognitif dan keberhasilan akademis.

Kemudian salah satu akibat psikologis yang sering terjadi akibat perundungan adalah gangguan kecemasan. Orang yang sering menjadi korban perundungan sering mengalami kecemasan sosial, gangguan kecemasan umum, atau bahkan serangan panik. Ketakutan konstan menjadi target perundungan dapat menyebabkan korban menjadi sangat hati-hati terhadap lingkungan sosial mereka, yang pada akhirnya mengganggu kehidupan sehari-hari mereka. Menurut Yayasan SEJIWA, yang menitikberatkan pada pencegahan perundungan di Indonesia, banyak korban perundungan mengalami kecemasan berlebih yang mempengaruhi kemampuan mereka dalam berinteraksi sosial, termasuk di luar lingkungan sekolah. Korban seringkali menghindari situasi sosial yang dianggap berpotensi risiko untuk menghindari pengalaman bullying yang berulang-ulang.

Selain kecemasan, depresi juga merupakan dampak umum dari bullying. Individu yang menjadi korban bullying sering kali mengalami perasaan putus asa, kurangnya motivasi, dan ketidaktertarikan pada tugas-tugas rutin mereka. Depresi ditandai dengan tanda-tanda seperti perubahan kebiasaan makan, gangguan tidur, kelelahan yang luar biasa, dan rasa putus asa yang mendalam. Sebuah penelitian oleh Yayasan Lentera Anak menunjukkan bahwa menjadi korban bullying selama masa kanak-kanak atau remaja dapat menyebabkan depresi jangka panjang di masa dewasa. Korban yang tidak memiliki dukungan yang tepat mungkin kesulitan untuk mengatasi trauma dan mungkin menanggung beban emosional untuk waktu yang lama.

Dampak Jangka Panjang
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya