Mampir ke Angkringan Pinggir Sungai ala Majapahit di Semarang
Arif purniawan
Selasa, 14 September 2021 - 01:02 WIB
Suasana Angkringan Pasar Jaten di pinggir sungai yang mengusung konsep Majapahit Foto: Langit7.id/Istock
Seruan bagi penggemar nasi kucing bila berkunjung ke Semarang. Sempatkan mampir ke angkringan Pasar Jaten Kampung Jawi di RT 02 RW 1 Kalialang, Sukorejo, Gunungpati.
Pasalnya tempat kuliner satu ini mengusung konsep lain daripada yang lain. Di sini, para pengunjung akan dibawa ke dalam suasana pusat jajanan zaman baheula, ketika listrik belum sampai ke pelosok desa.
Deretan meja dan kursi yang telah disusun tidak diberi penerangan lampu. Pengelola angkringan sengaja hanya memberikan penerangan berupa sentir maupun obor.
Bagian tepi meja dan kursi, berjajar 18 lapak angkringan dengan berbagai menu hidangan makanan siap comot dan minuman. Tapi jangan harap ada sedotan.
Suasananya mirip seperti pasar pada film-film Indonesia bertema kerajaan tempo dulu, sangat sederhana.
Sementara untuk makanan tak perlu khawatir, lidah modern masih diakomodasi. Tersedia aneka ragam menu seperti getuk goreng, sego bakar, tiwul, jamu jun, nasi berkat dengan bungkus daun jati, teh cengkeh serai, wedang rempah jawi, dan masih banyak makanan kekinian lainnya seperti sate sosis. Ada juga ayam geprek, dengan disajikan di atas piring dari lidi, maupun daun jati atau pisang.
Untuk membeli makanan di sana pengunjung harus menggunakan kepeng, atau kayu kecil berbentuk persegi panjang. Setiap kayu setara dengan harga Rp3.000. Pembeli bisa menukar kepeng dengan uang pecahan rupiah di sana.
Pasalnya tempat kuliner satu ini mengusung konsep lain daripada yang lain. Di sini, para pengunjung akan dibawa ke dalam suasana pusat jajanan zaman baheula, ketika listrik belum sampai ke pelosok desa.
Deretan meja dan kursi yang telah disusun tidak diberi penerangan lampu. Pengelola angkringan sengaja hanya memberikan penerangan berupa sentir maupun obor.
Bagian tepi meja dan kursi, berjajar 18 lapak angkringan dengan berbagai menu hidangan makanan siap comot dan minuman. Tapi jangan harap ada sedotan.
Suasananya mirip seperti pasar pada film-film Indonesia bertema kerajaan tempo dulu, sangat sederhana.
Sementara untuk makanan tak perlu khawatir, lidah modern masih diakomodasi. Tersedia aneka ragam menu seperti getuk goreng, sego bakar, tiwul, jamu jun, nasi berkat dengan bungkus daun jati, teh cengkeh serai, wedang rempah jawi, dan masih banyak makanan kekinian lainnya seperti sate sosis. Ada juga ayam geprek, dengan disajikan di atas piring dari lidi, maupun daun jati atau pisang.
Untuk membeli makanan di sana pengunjung harus menggunakan kepeng, atau kayu kecil berbentuk persegi panjang. Setiap kayu setara dengan harga Rp3.000. Pembeli bisa menukar kepeng dengan uang pecahan rupiah di sana.