LANGIT7.ID, Semarang - Seruan bagi penggemar nasi kucing bila berkunjung ke Semarang. Sempatkan mampir ke angkringan Pasar Jaten Kampung Jawi di RT 02 RW 1 Kalialang, Sukorejo, Gunungpati.
Pasalnya tempat kuliner satu ini mengusung konsep lain daripada yang lain. Di sini, para pengunjung akan dibawa ke dalam suasana pusat jajanan zaman baheula, ketika listrik belum sampai ke pelosok desa.
Deretan meja dan kursi yang telah disusun tidak diberi penerangan lampu. Pengelola angkringan sengaja hanya memberikan penerangan berupa sentir maupun obor.
![Mampir ke Angkringan Pinggir Sungai ala Majapahit di Semarang]()
Bagian tepi meja dan kursi, berjajar 18 lapak angkringan dengan berbagai menu hidangan makanan siap
comot dan minuman. Tapi jangan harap ada sedotan.
Suasananya mirip seperti pasar pada film-film Indonesia bertema kerajaan tempo dulu, sangat sederhana.
Sementara untuk makanan tak perlu khawatir, lidah modern masih diakomodasi. Tersedia aneka ragam menu seperti getuk goreng, sego bakar, tiwul, jamu jun, nasi berkat dengan bungkus daun jati, teh cengkeh serai, wedang rempah jawi, dan masih banyak makanan kekinian lainnya seperti sate sosis. Ada juga ayam geprek, dengan disajikan di atas piring dari lidi, maupun daun jati atau pisang.
![Mampir ke Angkringan Pinggir Sungai ala Majapahit di Semarang]()
Untuk membeli makanan di sana pengunjung harus menggunakan kepeng, atau kayu kecil berbentuk persegi panjang. Setiap kayu setara dengan harga Rp3.000. Pembeli bisa menukar kepeng dengan uang pecahan rupiah di sana.
“Kami konsep seperti era kerajaan Majapahit, di mana dalam jual beli menggunakan uang kepeng,” kata koordinator Angkringan Kampung Jawi, Siswanto, Senin (13/9).
Angkringan Kampung Jawi buka mulai pukul 17.00-23.00 WIB. Lokasinya berada di tepi sungai, yang dulu pernah digunakan untuk lapangan sepak bola.
Lapangan itu mangkrak dan ditumbuhi ilalang. Warga kemudian memanfaatkan lahan bondo desa tersebut sebagai sentra angkringan.
Siswanto menyampaikan, Angkringan Pasar Jaten melibatkan sekitar 70 warga setempat. Ibu-ibu yang tadinya hanya mengurus rumah tangga, kini lebih produktif dengan ikut menggelar lapak.
Bahkan, yang semula bekerja, memutuskan untuk resign fokus menggarap bisnis di sini. Termasuk kaum remaja, juga banyak terlibat.
![Mampir ke Angkringan Pinggir Sungai ala Majapahit di Semarang]()
Awalnya tutur Siswanto, hanya istrinya yang berjualan dibantu dengan keponakan dan 5 remaja. Saat itu angkringan buka pukul 20.00 WIB. Sekitar satu jam kemudian dagangan habis.
"Saya bahkan dikatakan edan oleh warga. Buka angkringan di tepi sungai malam hari, banyak nyinyiran. Daerahnya pelosok, banyak begal kalau malam,” kisahnya.
Lambat laun,pengunjung yang datang ke sana semakin banyak. Sejumlah warga pun kemudian berbondong-bondong turunt mendirikan lapak, dengan desain sesuai dengan yang telah ditentukan.
Usaha angkringanpun eksis sampai dengan saat ini. Bahkan, perancang busana ternama Anna Avantie, juga pernah jajan di angkringan tersebut.
![Mampir ke Angkringan Pinggir Sungai ala Majapahit di Semarang]()
Sebelum di tepi sungai, angkringan sempat berada di bawah pohon Jati, di tanah salah satu milik warga setempat, tepatnya 25 Februari 2018.
Akan tetapi Pasar Jaten yang hanya buka sebulan sekali, tiap Ahad Legi pukul 06.00-11.00 WIB ini tak bertahan lama karena para pedagang sulit di atur. Selain itu juga ada friksi dengan pemilik tanah.
Siswanto kemudian meminta kesanggupan para warga. Jika mau tetap berjualan, harus mau patuh dengan dirinya. "Karena jika satu orang mengikuti kemauan 25 pedagang akan menyulitkan," ujarnya.
Ia tak mungkin mengakomodasi semua keinginan semua pedagang, dan bila dibiarkan berlarut justru tidak memberi jalan keluar. "Sangat sulit (saat itu) mengatur ibu-ibu, khususnya dalam memberikan pemahaman mengenai share profit," tuturnya
“Akhirnya kami manfatkan tepi sungai, sebagai lokasi baru. Alhamdulillah sekarang pedagang sudah bisa berbagi keuntungan, dan kami bisa membeli pendopo,” ucapnya.
“Kami berharap angkringan ini tetap ada sampai kepada anak cucu kami kelak."
Foto-foto: Langit7.id/arif purniawan(arp)