Dari Buku Praksis Pengalaman Ideologi di Perusahaan Gobel (2); Karyawan Diberi Saham, Bonus, Diberangkatkan Haji dan Umroh
Sururi al faruq
Rabu, 30 Oktober 2024 - 08:06 WIB
Dari Buku Praksis Pengalaman Ideologi di Perusahaan Gobel (2) Karyawan Diberi Saham, Bonus, Diberangkatkan Haji dan Umroh
LANGIT7.ID-Banyak pelajaran menarik dalam perjalanan kehidupan Thayeb M Gobel dalam memimpin perusahaan. Seperti yang dikisahkan dalam buku karya wartawan senior Nasihin Masha ini, ada bab-bab yang sengaja langit7.id pilih untuk di tulis kembali agar bisa menjadi referensi bagi anak bangsa dalam mengelola perusahaan.
Dalam bab; Butir Butir Pancasila Dalam Perusahaan”, Thayeb dengan cepat bertindak jika ada tiga hal yang menimpa kepada karyawannya: sakit, pernikahan dan kematian.
Prinsip kegotongroyongan dan kekeluargaan itu ia buktikan dengan sungguh sungguh. Pertama, ia menolak istilah kontrak kerja (KK) antara karyawan dengan perusahaan, yang biasa dilakukan banyak perusahaan. “Kontrak itu seperti mengontrak, bersifat sementara,” kata Ridwan Manoarfa, yang pernah menjadi ketua serikat pekerja di National Gobel.
Baca juga: Dari Buku Praksis Pancasila Pengalaman Idieologis di Perusahaan Gobel (bagian 1): Masjid dan Berhijab Diprotes Jepang, Tapi..?
Kedua, Thayeb membagikan saham pribadinya kepada karyawan secara Cuma Cuma. Oleh karena itu ia selalu menekankan bahwa perusahaan itu milik bersama. Hal itu ia sampaikan saat peringatan delapan tahun National Gobel. “Hari ini saya gariskan kebijakan untuk menyerahkan saham milik pribadi saya kepada segenap karyawan dan karyawati yang memenuhi persyaratan,”katanya. Pengumuman itu disambut riuh dan tepuk tangan para karyawan.
“kebijakan menyerahkan saham kepada karyawan memiliki dasar yang kuat dan tujuan yang pasti. Dasarnya tiada lain adalah kekeluargaan dan prinsip prinsip pokok perusahaan, sedangkan tujuan terakhirnya yang diwujudkan adalah memasyarakatkan perusahaan,” katanya.
Thayeb mengatakan, memasyarakatkan perusahaan tidak bisa terjadi seketika, tetapi berkembang setahap demi setahap. Menurutnya penyerahan saham ini agar terjadi rasa memiliki perusahaan, meningkatkan kegairahan kerja dan menumbuhan tanggungjawab yang lebih besar. Hal itu bukan sekedar karyawan sebagai salah satu faktor produksi, tetapi mereka sebagai kekuatan strategis yang mengelola modal, menggunakan alat perlengkapan dan mengelola manajemen.
Dalam bab; Butir Butir Pancasila Dalam Perusahaan”, Thayeb dengan cepat bertindak jika ada tiga hal yang menimpa kepada karyawannya: sakit, pernikahan dan kematian.
Prinsip kegotongroyongan dan kekeluargaan itu ia buktikan dengan sungguh sungguh. Pertama, ia menolak istilah kontrak kerja (KK) antara karyawan dengan perusahaan, yang biasa dilakukan banyak perusahaan. “Kontrak itu seperti mengontrak, bersifat sementara,” kata Ridwan Manoarfa, yang pernah menjadi ketua serikat pekerja di National Gobel.
Baca juga: Dari Buku Praksis Pancasila Pengalaman Idieologis di Perusahaan Gobel (bagian 1): Masjid dan Berhijab Diprotes Jepang, Tapi..?
Kedua, Thayeb membagikan saham pribadinya kepada karyawan secara Cuma Cuma. Oleh karena itu ia selalu menekankan bahwa perusahaan itu milik bersama. Hal itu ia sampaikan saat peringatan delapan tahun National Gobel. “Hari ini saya gariskan kebijakan untuk menyerahkan saham milik pribadi saya kepada segenap karyawan dan karyawati yang memenuhi persyaratan,”katanya. Pengumuman itu disambut riuh dan tepuk tangan para karyawan.
“kebijakan menyerahkan saham kepada karyawan memiliki dasar yang kuat dan tujuan yang pasti. Dasarnya tiada lain adalah kekeluargaan dan prinsip prinsip pokok perusahaan, sedangkan tujuan terakhirnya yang diwujudkan adalah memasyarakatkan perusahaan,” katanya.
Thayeb mengatakan, memasyarakatkan perusahaan tidak bisa terjadi seketika, tetapi berkembang setahap demi setahap. Menurutnya penyerahan saham ini agar terjadi rasa memiliki perusahaan, meningkatkan kegairahan kerja dan menumbuhan tanggungjawab yang lebih besar. Hal itu bukan sekedar karyawan sebagai salah satu faktor produksi, tetapi mereka sebagai kekuatan strategis yang mengelola modal, menggunakan alat perlengkapan dan mengelola manajemen.