LANGIT7.ID-Banyak pelajaran menarik dalam perjalanan kehidupan Thayeb M Gobel dalam memimpin perusahaan. Seperti yang dikisahkan dalam buku karya wartawan senior Nasihin Masha ini, ada bab-bab yang sengaja langit7.id pilih untuk di tulis kembali agar bisa menjadi referensi bagi anak bangsa dalam mengelola perusahaan.
Dalam bab; Butir Butir Pancasila Dalam Perusahaan”, Thayeb dengan cepat bertindak jika ada tiga hal yang menimpa kepada karyawannya: sakit, pernikahan dan kematian.
Prinsip kegotongroyongan dan kekeluargaan itu ia buktikan dengan sungguh sungguh. Pertama, ia menolak istilah kontrak kerja (KK) antara karyawan dengan perusahaan, yang biasa dilakukan banyak perusahaan. “Kontrak itu seperti mengontrak, bersifat sementara,” kata Ridwan Manoarfa, yang pernah menjadi ketua serikat pekerja di National Gobel.
Baca juga:
Dari Buku Praksis Pancasila Pengalaman Idieologis di Perusahaan Gobel (bagian 1): Masjid dan Berhijab Diprotes Jepang, Tapi..?Kedua, Thayeb membagikan saham pribadinya kepada karyawan secara Cuma Cuma. Oleh karena itu ia selalu menekankan bahwa perusahaan itu milik bersama. Hal itu ia sampaikan saat peringatan delapan tahun National Gobel. “Hari ini saya gariskan kebijakan untuk menyerahkan saham milik pribadi saya kepada segenap karyawan dan karyawati yang memenuhi persyaratan,”katanya. Pengumuman itu disambut riuh dan tepuk tangan para karyawan.
“kebijakan menyerahkan saham kepada karyawan memiliki dasar yang kuat dan tujuan yang pasti. Dasarnya tiada lain adalah kekeluargaan dan prinsip prinsip pokok perusahaan, sedangkan tujuan terakhirnya yang diwujudkan adalah memasyarakatkan perusahaan,” katanya.
Thayeb mengatakan, memasyarakatkan perusahaan tidak bisa terjadi seketika, tetapi berkembang setahap demi setahap. Menurutnya penyerahan saham ini agar terjadi rasa memiliki perusahaan, meningkatkan kegairahan kerja dan menumbuhan tanggungjawab yang lebih besar. Hal itu bukan sekedar karyawan sebagai salah satu faktor produksi, tetapi mereka sebagai kekuatan strategis yang mengelola modal, menggunakan alat perlengkapan dan mengelola manajemen.
Ada sekitar 1000 lebih karyawan yang bekerja lebih dari lima tahun dan menerima hadiah saham, saat pertama menerima saham, nilai saham 1000 perlembar, dan dalam dua tahun sudah meningkat menjadi 7000 perlembar. Thayeb memang mengakui konsep go public itu baik. Namun ia memiliki pemikiran sendiri. Tujuan go public adalah agar semua orang memiliki kesempatan untuk ikut memiliki perusahaan. Namun kenyataannya, hanya orang-orang yang memiliki uang yang bisa ikut membeli saham di bursa saham. Dengan demikian pemerataan tidak tercapai. “Kalau go public Cuma pergi ke orang-orang yang punya uang itu bukan tujuan saya,” ujarnya. Dalam kontek inilah kemudian ia menilai bahwa hal itu tidak sesuai dengan pasal 33nUUD 1945 yang menghendaki pemerataan ekonomi. Thayeb kemudian mengartikan Gobel sebagai Gerakan Organisasi Bina Ekonomi Lemah.
Untuk memasyarakatkan perusahaan tersebut, Thayeb mendirikan yayasan pendidikan Mas Gobel (YPMG). Melalui lembaga ini, ia mengembangkan jiwa wirausaha kepada karyawannya. “Selama 24 tahun saya telah mencoba menanam bibit-bobit unggul dalam perusahaan, melakukan pembinaan terhadap manusia pekerja untuk mengembangkan dirinya sebagai pemikir, pejuang dan pengusaha. Mana yang lebih unggul dari bibit-bibit yang tersedia, merekalah yang mendapat prioritas menempati pimpinan perusahaan. Kepada bibit bibit unggul lainnya diberikan kesempatan luas untuk menjadi pengusaha baru, baik yang bergabung dalam Gobel maupun yang tumbuh di luarnya,” katanya.
![Dari Buku Praksis Pengalaman Ideologi di Perusahaan Gobel (2); Karyawan Diberi Saham, Bonus, Diberangkatkan Haji dan Umroh]()
Gobel di sini bermakna Gerakan Organisasi Bina Ekonomi Lemah tersebut. Saat itu belum ada istilah usaha mikro, kecil dan menengah(UMKM) atau small middle enterprise (SME). Di sini terlihat idialisme Thayeb untuk menumbuhkan pengusaha pengusaha baru melalui pendidikan. “Melalui gerakan organisasi bina ekonomi lemah, kita mengharapkan lahirnya usahawan-usahawan dan industriawan baru yang mengabdikan pikiran dan perjuangannya kepada kemajuan negara dan bangsa,” katanya. Tak cukup dengan itu, ia mengembangkan pendidikan kewirausahaan melalui Kadin Indonesia. Ia berdiskusi dengan pengurus Kadin seperti Suwoto Sukendar, Sukamdani Sahid Gitosardjono dan Kemala Motik. Ia juga bertukar pikiran dengan pendiri Panasonic, Konosuke Matshushita tentang pendidikan kewirausahaan ini. Hingga akhirnya terjadi pelatihan pertama yang melibatkan National Gobel, Astra International dan Matahari Departemen Store. Setelah itu mereka mendapat bantuan senilai 1 juta dollar AS dari Matshushita untuk pendidikan kewirausahaan tingkat nasional oleh Kadin Indonesia dan berlangsungdi Gedung YPMG. Saat itu hadir Menaker Sudomo dan Menpora Abdul Gafur. Thayeb mengatakan dalam pendidikan itu selain diajarkan tentang aspek teknis dan wawasan, juga diajarkan tentang sikap mental dan pola pikir Pancasila. “Sebagai bentuk pengamalan Pancasila,” katanya.
Ketiga, Thayeb menolak konsep hak dan kewajiban. Baginya hanya ada kewajiban, taka da hak. “Yang disebut hak karyawan adalah kewajiban perusahaan. Demikian pula yang disebut hak perusahaan, adalah kewajiban karyawan. Karena itu saat rapat perencanaan yang terjadi adalah masing-masing bagian menyusun kewajiban masing-masing. Setelah semua selesai Pak Thayeb akan memutuskan jika target terlampaui sekian persen akan dapat bonus sekian kali gaji, jika lebih tinggi lagi, akan dapat bonus lebih besar lagi,” kata Ridwan Manoarfa.
Djoko Wahyudi, Presiden Serikat Pekerja Panasonic Global menerangkan, hingga kini tidak ada aksi unjukrasa karyawan menuntut sesuatu kepada perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara karyawan dan perusahaan berlangsung harmonis dan tidak saling mencederai.
Oleh karena itu, sebagai bentuk pengamalan Pancasila dalam sila-silanya, misalnya untuk sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, para karyawan diberi fasilitas untuk beribadah. Pada hari jumat, ada sholat jumat, bagi yang Kristen ada ibadah Jumat. Demikian juga berziarah ke tanah suci, bagi yang beragama Islam diberikan kesempatan ibadah haji dan umroh. Sedangkan bagi yang Kristen diberikan kesempatan untuk ziarah ke Vatikan dan Yerusalem.
Untuk sila kemanusiaan yang adil dan beradab, misalnya, ada kantin bersama. Pimpinan dan karyawan makan di kantin yang sama dengan menu yang sama. Kandungan gizi diukur untuk memenuhi standar kesehatan, untuk yang ada gangguan gula mendapatkan pelayanan khusus. Di sini klinik kesehatan disediakan, termasuk fasilitas donor darah secara rutin.
Untuk sila persatuan Indonesia, , terdapat upacara pengibaran bendera merah putih yang dilakukan pada setiap 17 Agustus. Bisa jadi kegiatan istimewa ini merupakan satu satunya kegiatan yang dilakukan perusahaan swasta. Para karyawan dipupuk kesadaran dan kecintaan kepada bangsa dan negaranya. Panasonic Gobel juga melakukan pelatihan kepemimpinan yang diadakan di satuan militer Batalyon Infanteri 201. Dalam pelatihan ini bukan saja dilatih kecakapan kepemimpinan, tetapi dibina rasa kebangsaannya. Panasonic Gobel juga menerima pekerja magang dari seluruh Indonesia. Mereka tinggal di asrama sehingga satu sama lain saling mengenal makna kebinikaan dan persatuan Indonesia, karena mereka memang datang dari beragam latar belakang, agama, suku dan budaya. Dalam lingkung perusahaan, sebagai pengalaman sila keempat; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan adalah kegiatan yang dinamakan free talking dan “kotak saran”. Hal itu dilakukan setiap pagi sebelum melakukan pekerjaan. Semua bebas berbicara tentang apa pun, langsung maupun tertulis. Suatu saat ada surat yang masuk dari karyawan yang ditujukan kepada Lukman Hakim, salah satu orang kepercayaan Thayeb, bahkan ditunjuk menjadi pengganti Thayeb ketika Thayeb mundur dari posisinya sebagai Direktur Utama.Surat itu kira kira berbunyi, agar Lukman bicara lebih jelas dan singkat serta tidak ngelantur ke sana kemari sehingga kehilangan fokus. Staf bagian tidak ada yang berani menyampaikan isi surat tersebut kepada Lukman.
Kemudian sebagai pengalaman sila ke lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, adalah pemberian penghargaan kepada karyawan berprestasi di segala bidang. Misalnya pengiriman karyawan berprestasi untuk belajar ke Jepang, pemberian apresiasi kepada karyawan yang bekerja dalam kurun waktu tertentu, pengembangan koperasi karyawan, mudik bersama, pemilikan rumah dan pelayanan gunting rambut untuk karyawan (bersambung)
(lam)