Kemenag Bikin Gebrakan Lagi: 20 Ulama Muda Indonesia Dikasih Beasiswa Perdalam Tahqiqut Turats di Arab Islamic Manuscript
Tim langit 7
Jum'at, 22 November 2024 - 13:51 WIB
Kemenag Bikin Gebrakan Lagi: 20 Ulama Muda Indonesia Dikasih Beasiswa Perdalam Tahqiqut Turats di Arab Islamic Manuscript
LANGIT7.ID-Mesir; Kementerian Agama Tidak pernah berhenti membuat terobosan. Kali ini, Kemenag memberikan kesempatan kepada sejumlah ulama muda Indonesia dari sejumlah Ma’had Aly untuk memperdalam Tahqiqut Turats di Arab Islamic Manuscript, Mesir.
Ada 20 ulama muda Indonesia yang mendapat beasiswa untuk mengikuti Pelatihan Kepengarangan Turots.
Program yang dibiayai Dana Abadi Pesantren ini diselengarakan oleh Direktorat Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Kementrian Agama bekerja sama dengan Institute of Arabic Manuscripts Mesir. Pelatihan berlangsung selama sebulan, sejak 1 – 30 November 2024.
Pelatihan Kepengarangan Turot dibuka oleh Direktur Institute of Arabic Manuscripts Mesir, Prof. Dr. Ali Abdullah Al-Naim. Pelatihan berlangsung selama 22 pertemuan dengan 43 jam pelatihan. Kursus ini diasuh oleh banyak profesor ahli dalam bidang makhtutot (manuskrip), di antaranya: Prof. Dr. Hasan asy-Syafi’i, Prof. Dr. Abdul Sattar Al-Halouji, Prof. Dr. Ayman Fuad Sayed, Dr. Ahmed Abdul Basit, dan para profesor pakar lainnya.
Prof. Dr. Ali Abdullah Al-Naim menyambut kedatangan 20 ulama muda Indonesia dan senang atas kerja sama yang produktif ini. Tujuannya, memperkenalkan warisan umat Islam yang merupakan salah satu fondasi identitas Arab dan Islam, serta mekanisme penyebaran teks-teks warisan tersebut secara kritis sesuai dengan dasar-dasar ilmiah yang kokoh, yang telah diletakkan oleh Institute of Arabic Manuscripts Mesir selama beberapa dekade.
“Institute of Arabic Manuscripts Mesir sebagai lembaga nasional yang berfokus pada naskah Arab dan ilmu manuskrip tidak pernah berhenti memberikan berbagai pengalaman dan layanan kepada para penerima manfaat baik di dunia Arab maupun luar negeri, serta berharap akan lebih banyak kegiatan bersama antara kedua belah pihak di masa depan,” ujar Prof. Dr. Al-Naim pada pembukaan acara, tersebut baru baru ini.
Sebagai pemateri pertama, Prof. Dr. Abdul Sattar Al-Halouji menyampaikan tentang Makhtutot: Esensi dan Sejarahnya. Prof. Dr. Abdul Sattar Al-Halouji menjelaskan bahwa makhtutot ‘arabiyyah adalah istilah yang digunakan untuk menyebut setiap naskah yang ditulis tangan dalam bahasa arab, tanpa memperhatikan siapa yang menulisnya, apa sukunya, rasnya, agamanya, atau dimana tempat asalnya. Tentang pentingnya makhtutot dalam sejarah ilmu pengetahuan, khususnya dalam tradisi Islam, Prof. Dr. Abdul Sattar Al-Halouji menjelaskan bahwa makhtutot adalah salah satu warisan intelektual yang sangat bernilai dan memiliki kedudukan yang penting dalam menyebarkan dan melestarikan ilmu pengetahuan. Ia mengungkapkan bagaimana makhtutot berfungsi sebagai jembatan antara generasi ulama terdahulu dengan generasi masa kini, memelihara tradisi ilmiah, dan menjadi sumber utama dalam pemahaman ajaran agama.
Ada 20 ulama muda Indonesia yang mendapat beasiswa untuk mengikuti Pelatihan Kepengarangan Turots.
Program yang dibiayai Dana Abadi Pesantren ini diselengarakan oleh Direktorat Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Kementrian Agama bekerja sama dengan Institute of Arabic Manuscripts Mesir. Pelatihan berlangsung selama sebulan, sejak 1 – 30 November 2024.
Pelatihan Kepengarangan Turot dibuka oleh Direktur Institute of Arabic Manuscripts Mesir, Prof. Dr. Ali Abdullah Al-Naim. Pelatihan berlangsung selama 22 pertemuan dengan 43 jam pelatihan. Kursus ini diasuh oleh banyak profesor ahli dalam bidang makhtutot (manuskrip), di antaranya: Prof. Dr. Hasan asy-Syafi’i, Prof. Dr. Abdul Sattar Al-Halouji, Prof. Dr. Ayman Fuad Sayed, Dr. Ahmed Abdul Basit, dan para profesor pakar lainnya.
Prof. Dr. Ali Abdullah Al-Naim menyambut kedatangan 20 ulama muda Indonesia dan senang atas kerja sama yang produktif ini. Tujuannya, memperkenalkan warisan umat Islam yang merupakan salah satu fondasi identitas Arab dan Islam, serta mekanisme penyebaran teks-teks warisan tersebut secara kritis sesuai dengan dasar-dasar ilmiah yang kokoh, yang telah diletakkan oleh Institute of Arabic Manuscripts Mesir selama beberapa dekade.
“Institute of Arabic Manuscripts Mesir sebagai lembaga nasional yang berfokus pada naskah Arab dan ilmu manuskrip tidak pernah berhenti memberikan berbagai pengalaman dan layanan kepada para penerima manfaat baik di dunia Arab maupun luar negeri, serta berharap akan lebih banyak kegiatan bersama antara kedua belah pihak di masa depan,” ujar Prof. Dr. Al-Naim pada pembukaan acara, tersebut baru baru ini.
Sebagai pemateri pertama, Prof. Dr. Abdul Sattar Al-Halouji menyampaikan tentang Makhtutot: Esensi dan Sejarahnya. Prof. Dr. Abdul Sattar Al-Halouji menjelaskan bahwa makhtutot ‘arabiyyah adalah istilah yang digunakan untuk menyebut setiap naskah yang ditulis tangan dalam bahasa arab, tanpa memperhatikan siapa yang menulisnya, apa sukunya, rasnya, agamanya, atau dimana tempat asalnya. Tentang pentingnya makhtutot dalam sejarah ilmu pengetahuan, khususnya dalam tradisi Islam, Prof. Dr. Abdul Sattar Al-Halouji menjelaskan bahwa makhtutot adalah salah satu warisan intelektual yang sangat bernilai dan memiliki kedudukan yang penting dalam menyebarkan dan melestarikan ilmu pengetahuan. Ia mengungkapkan bagaimana makhtutot berfungsi sebagai jembatan antara generasi ulama terdahulu dengan generasi masa kini, memelihara tradisi ilmiah, dan menjadi sumber utama dalam pemahaman ajaran agama.