Kolom Pakar: Upacara Adat Suku Sunda Ngaruwat Dalam Perspektif Kebenaran Universal
Tim langit 7
Senin, 02 Desember 2024 - 10:50 WIB
Kolom Pakar: Upacara Adat Suku Sunda Ngaruwat Dalam Perspektif Kebenaran Universal
Dr. Beni Ahmad Saebani, M.Si.
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung
LANGIT7.ID-Kebudayaan setiap etnik kaya dengan simbol. Setiap simbol memiliki makna tertentu yang mengisyaratkan suatu proses kognitif yang merepresentasikan hakikat konseptualisasi tujuan kehidupan masyarakat, baik tujuan material maupun imaterial hingga tujuan yang bertsifat metafisik. Pemaknaan simbol budaya memberi pencerahan kepada pemahaman masyarakat yang awam dan hanya melihatnya secara kasat mata atau yang terkadang dengan mudah menghakimi sebagai perbuatan yang menyimpang dari agama tertentu. Oleh karena itu, pemaknaan simbol budaya dengan jumlah makna yang beragam akan menepis pemahaman yang keliru.
Simbol kebudayaan memiliki makna yang ekslusif, di dalamnya terdapat makna mitologis mengenai sistem kepercayaan yang bersifat monistik-naturalistik yang berarti bahwa manusia hanya memanifestasikan Tuhan dalam wujud alamiah. Keyakinan tersebut dikarenakan masyarakat simbolik ini dibentuk oleh pola kebudayaan primordial yang hidup dari perladangan dan pertanian, sehingga keyakinannya terhadap makro dan mikrokosmos merupakan pengalaman kehidupannya sebagai petani yang setiap hari bergaul dengan alam. Kehidupan pertanian, palawija, pegunungan, bukit, dan lereng gunung menempa keyakinan teologisnya tentang kekuasaan alam. Keyakinan bahwa langit adalah pasangan oposisi dari bumi, langit basah (hujan, perempuan) dan bumi kering (tanah perbukitan, lelaki), sedangkan dunia manusia berada di tengah-tengahnya, inilah dunia tengah tempat kesatuan langit-bumi sehingga semua tumbuhan hidup. Dua dunia transenden (langit dan bumi) bersatu dalam dunia imanen manusia. Dunia tengah adalah paradoks, lelaki dan perempuan sekaligus. Namun situasi yang paradoks, ambivalen, ambigu, adalah kondisi yang diinginkan manusia agar tetap mampu bertahan hidup. Seluruh kegiatan hidup manusia Sunda mengupayakan kehadiran yang transenden dan paradoks untuk mendapatkan keselamatan dan kesempurnaan hidup.
Baca juga: Kolom Pakar: Perkawinan Dan Implikasi Hukum
Persepsi tentang simbol budaya itu beragam dikarenakan setiap orang memiliki pengalaman dan latar belakang berbeda. Perbedaan itu dapat diintegrasikan manakala keselamatan, keselarasan, kerukunan, keharmonisan menjadi tujuan kehidupan sosial, sebagaimana pituah Sunda "silih asih, silih asuh dan silih asah", sebagai intisari dari keselarasan kosmos dengan menyebarkan kasih sayang dan gotong royong demi kepentingan umum dengan meninggalkan sikap individualis dan egois. Magnis Suseno mengatakan bahwa perjalanan batin merupakan ungkapan emosi yang paling tinggi dalam mewujudkan perubahan dari yang lahir (yang selalu disimbolkan dengan keburukan), menuju pada yang batin (selalu disimbolkan dengan kesucian dan kebaikan).
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung
LANGIT7.ID-Kebudayaan setiap etnik kaya dengan simbol. Setiap simbol memiliki makna tertentu yang mengisyaratkan suatu proses kognitif yang merepresentasikan hakikat konseptualisasi tujuan kehidupan masyarakat, baik tujuan material maupun imaterial hingga tujuan yang bertsifat metafisik. Pemaknaan simbol budaya memberi pencerahan kepada pemahaman masyarakat yang awam dan hanya melihatnya secara kasat mata atau yang terkadang dengan mudah menghakimi sebagai perbuatan yang menyimpang dari agama tertentu. Oleh karena itu, pemaknaan simbol budaya dengan jumlah makna yang beragam akan menepis pemahaman yang keliru.
Simbol kebudayaan memiliki makna yang ekslusif, di dalamnya terdapat makna mitologis mengenai sistem kepercayaan yang bersifat monistik-naturalistik yang berarti bahwa manusia hanya memanifestasikan Tuhan dalam wujud alamiah. Keyakinan tersebut dikarenakan masyarakat simbolik ini dibentuk oleh pola kebudayaan primordial yang hidup dari perladangan dan pertanian, sehingga keyakinannya terhadap makro dan mikrokosmos merupakan pengalaman kehidupannya sebagai petani yang setiap hari bergaul dengan alam. Kehidupan pertanian, palawija, pegunungan, bukit, dan lereng gunung menempa keyakinan teologisnya tentang kekuasaan alam. Keyakinan bahwa langit adalah pasangan oposisi dari bumi, langit basah (hujan, perempuan) dan bumi kering (tanah perbukitan, lelaki), sedangkan dunia manusia berada di tengah-tengahnya, inilah dunia tengah tempat kesatuan langit-bumi sehingga semua tumbuhan hidup. Dua dunia transenden (langit dan bumi) bersatu dalam dunia imanen manusia. Dunia tengah adalah paradoks, lelaki dan perempuan sekaligus. Namun situasi yang paradoks, ambivalen, ambigu, adalah kondisi yang diinginkan manusia agar tetap mampu bertahan hidup. Seluruh kegiatan hidup manusia Sunda mengupayakan kehadiran yang transenden dan paradoks untuk mendapatkan keselamatan dan kesempurnaan hidup.
Baca juga: Kolom Pakar: Perkawinan Dan Implikasi Hukum
Persepsi tentang simbol budaya itu beragam dikarenakan setiap orang memiliki pengalaman dan latar belakang berbeda. Perbedaan itu dapat diintegrasikan manakala keselamatan, keselarasan, kerukunan, keharmonisan menjadi tujuan kehidupan sosial, sebagaimana pituah Sunda "silih asih, silih asuh dan silih asah", sebagai intisari dari keselarasan kosmos dengan menyebarkan kasih sayang dan gotong royong demi kepentingan umum dengan meninggalkan sikap individualis dan egois. Magnis Suseno mengatakan bahwa perjalanan batin merupakan ungkapan emosi yang paling tinggi dalam mewujudkan perubahan dari yang lahir (yang selalu disimbolkan dengan keburukan), menuju pada yang batin (selalu disimbolkan dengan kesucian dan kebaikan).