Dr. Beni Ahmad Saebani, M.Si.
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung
LANGIT7.ID-Kebudayaan setiap etnik kaya dengan simbol. Setiap simbol memiliki makna tertentu yang mengisyaratkan suatu proses kognitif yang merepresentasikan hakikat konseptualisasi tujuan kehidupan masyarakat, baik tujuan material maupun imaterial hingga tujuan yang bertsifat metafisik. Pemaknaan simbol budaya memberi pencerahan kepada pemahaman masyarakat yang awam dan hanya melihatnya secara kasat mata atau yang terkadang dengan mudah menghakimi sebagai perbuatan yang menyimpang dari agama tertentu. Oleh karena itu, pemaknaan simbol budaya dengan jumlah makna yang beragam akan menepis pemahaman yang keliru.
Simbol kebudayaan memiliki makna yang ekslusif, di dalamnya terdapat makna mitologis mengenai sistem kepercayaan yang bersifat monistik-naturalistik yang berarti bahwa manusia hanya memanifestasikan Tuhan dalam wujud alamiah. Keyakinan tersebut dikarenakan masyarakat simbolik ini dibentuk oleh pola kebudayaan primordial yang hidup dari perladangan dan pertanian, sehingga keyakinannya terhadap makro dan mikrokosmos merupakan pengalaman kehidupannya sebagai petani yang setiap hari bergaul dengan alam. Kehidupan pertanian, palawija, pegunungan, bukit, dan lereng gunung menempa keyakinan teologisnya tentang kekuasaan alam. Keyakinan bahwa langit adalah pasangan oposisi dari bumi, langit basah (hujan, perempuan) dan bumi kering (tanah perbukitan, lelaki), sedangkan dunia manusia berada di tengah-tengahnya, inilah dunia tengah tempat kesatuan langit-bumi sehingga semua tumbuhan hidup. Dua dunia transenden (langit dan bumi) bersatu dalam dunia imanen manusia. Dunia tengah adalah paradoks, lelaki dan perempuan sekaligus. Namun situasi yang paradoks, ambivalen, ambigu, adalah kondisi yang diinginkan manusia agar tetap mampu bertahan hidup. Seluruh kegiatan hidup manusia Sunda mengupayakan kehadiran yang transenden dan paradoks untuk mendapatkan keselamatan dan kesempurnaan hidup.
Baca juga:
Kolom Pakar: Perkawinan Dan Implikasi HukumPersepsi tentang simbol budaya itu beragam dikarenakan setiap orang memiliki pengalaman dan latar belakang berbeda. Perbedaan itu dapat diintegrasikan manakala keselamatan, keselarasan, kerukunan, keharmonisan menjadi tujuan kehidupan sosial, sebagaimana pituah Sunda "silih asih, silih asuh dan silih asah", sebagai intisari dari keselarasan kosmos dengan menyebarkan kasih sayang dan gotong royong demi kepentingan umum dengan meninggalkan sikap individualis dan egois. Magnis Suseno mengatakan bahwa perjalanan batin merupakan ungkapan emosi yang paling tinggi dalam mewujudkan perubahan dari yang lahir (yang selalu disimbolkan dengan keburukan), menuju pada yang batin (selalu disimbolkan dengan kesucian dan kebaikan).
Makna pituah sosial tersebut merupakan kosmologi Sunda yang berisi agama darigama agar manusia selalu hidup serasi dan harmonis mengeksiskan diri bersama masyarakat dan bersama Tuhan yang Tunggal. Menurut Jakob Sumardjo, ajaran Kosmologi Sunda secara filosofis mengajarkan bahwa "Aku adalah kosong, yang adalah berisi, Aku berisi adalah kosong. Saya adalah kamu, kamu adalah saya. Semua orang boleh berubah, tapi sebenarnya kita semua tetap bersaudara.
Makna simbolik dari kehidupan adalah kehampaan yang harus diisi olehy wujud Tuhan sehingga mendapatkan kesejatian dalam hidup. Penyatuan diri dengan Tuhan adalah hakikat yang tertinggi. Konsep Buana Jatiniskala adalah kesatuan antara Pencipta dengan ciptaan, hamba dan Tuhan. Alam nyata sebenarnya sifat dari Dzat Tuhan yang Maha Pengada. Oleh karena itu, hubungan manusia dengan alam harus mampu mengatur emosi jiwanya sendiri, dengan mengambil sikap yang tepat terhadap masyarakat dan dengan mengolah serta menyatu dengan alam. Manusia harus menjaga supaya memiliki kehalusan budi, dengan mengendalikan emosi jiwanya ssehingga terhindar dari hidup yang serakah dan dikuasai nafsu dunia. Mircea Eliade mengatakan bahwa manusia religius memiliki sikap tertentu terhadap kehidupan, dunia, manusia, dan apa yang dianggapnya suci (sakral). Dunia baginya terbatas pada wilayah yang sudah dikenal sebagai kosmos, suatu wilayah yang sudah "dikonsentrasikan". Sementara di luar wilayah itu, dunia yang kacau (chaos) dijadikan sebagai tempat tinggal para roh, jin, setan, dan sejenisnya. Daerah itu bisa teratur kembali apabila dilakukan penciptaan kembali kosmogoni (semesta alam) oleh para dewa atau kekuatan supranatural melalui upacara. Pada prinsipnya semesta alam terdiri dari tiga lapisan, yaitu dunia atas merupakan dunia Illahi, surga, tempat para dewa, dan para leluhur; dunia tengah merupakan dunia yang dihuni oleh makhluk hidup yaitu manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan; dan dunia bawah merupakan tempat dimana makhluk hidup itu mati. Ketiga lapisan ini dihubungkan oleh satu poros yang disebut axis mundi. Axis mundi ini terletak pada pusat dunia yang menghubungkan satu lapisan dengan lapisan yang lain. Melalui axis mundi manusia dapat berhubungan dengan dunia atas dan dunia bawah.
Baca juga:
Kolom Pakar: Konsep Negara Hukum Dalam Perspektif Politik IslamPITUAH KASUNDAANManusia diwajibkan untuk berusaha berbuat kebaikan agar kelak sukma bisa kembali ke kodrat sejati di kahyangan (Surga tertinggi) yang disebut mencapai moksa. Sementara manusia yang terlalu terbawa nafsu angkara murka, akan menjadi raksasa yang serakah, tamak, dan rakus terhadap hal-hal lain. Sukma mereka hanya bisa kembali ke alam niskala sebagai penghuni Kawah (neraka). Meskipun menurut aturan para dewa, mereka bisa mendapat keringanan, namun sukma itu harus mengalami reinkarnasi ke alam sakala. Penghuni Jatiniskala adalah dzat Yang Maha Tunggal yang dinamakan Sang Hyang Manon. Dzat Maha Pencipta yang disebut sebagai Si Ijunajati Nistemen, pencipta batas tetapi tidak terkena batas.
Kepercayaan, keyakinan, keberagamaan, adalah manifestasi simbolik dari peradaban manusia tentang evolusi spiritualitasnya, bahkan agama pun tidak dapat melepaskan diri dari pengejewantahan simbol-simbol kepercayaan dan keyakinannnya yang bersifat fisik namun bernuangsa metafisik, sebagaimana dalam ajaran Islam, banyak cara pelaksanaan ajaran Islam yang diungkapkan dengan beragam simbol yang dimaknai sebagai wujud sumerah diri ka Gusti Allah nu murbeng alam.
Roger M. Keesing berpendapat bahwa orang akan banyak mendapat pengertian kalau memusatkan pikirannya atas cara dunia makhluk hidup itu berubah dalam penciptaan model kosmos. Proses pemahaman manusia terhadap kosmos, biasa dilakukan dengan melaksanakan ragam ritual yang diselimuti banyak makna dan simbol-simbol. Sehingga ritus-ritus yang berhubungan dengan peristiwa kehidupan manusia mengambil titik-titik poros insidental. Titik yang secara turun menurun dianggap mempunyai makna penting dan vital, sebagai inti kejadian pada dimensi ruang dan waktu. Dari kejadian insidental itulah suatu tanda hidup bermula dan berakhir ke titik tanpa ujung. Adapun titik poros insidental ini menyangkut awal dan akhir manusia yang ada di dunia, dan di tengah-tengah proses tersebut terdapat ritus pelengkap yang bervariasi jenis dan jumlahnya. Oleh karena itu, hubungan mikro (bumi sangkala dan buana niskala) dan makro (Buana Jatiniskala) kosmos, adalah hubungan yang sangat kuat dan teratur. Manusia dalam pandangan kosmologi Sunda merupakan pusat dari perputaran mikro dan makro kosmos. Hidup di bumi bagi mereka, dipandang sebagai suatu bayangan belaka dari yang lebih tinggi dan kepada kebenaran itu setiap individu harus menyerahkan diri. Sejauh manusia merupakan suatu ungkapan fisik dari tata kehidupan di semesta alam, ia diberitugas untuk mengendalikan badannya, hawa-nafsu dan emosi-emosinya. Dengan demikian ia akan mewujudkan hidupnya secara indah sambil memenuhi kewajibannya untuk menjaga keselarasan dan keharmonisan dengan alam dan Tuhan.
Baca juga:
Kolom Pakar: Hindari Kekaburan Filosofi Kearifan LokalFilosofi kosmologi Sunda kuna jagat raya terbagi kedalam tiga alam, yaitu bumi sangkala (dunia nyata, alam dunia), buana niskala (dunia gaib, alam gaib), dan buana jatiniskala (dunia atau alam kemahagaiban sejati). Bumi sangkala adalah alam nyata di dunia tempat kehidupan makhluk yang memiliki jasmani (raga) dan rohani (jiwa). Buana niskala adalah alam gaib sebagai tempat tinggal makhluk gaib yang wujudnya hanya tergambar dalam imajinasi manusia, seperti dewa-dewi. Buana jatiniskala adalah alam kemahagaiban sejati sebagai tempat tertinggi di jagad rraya. Penghuninya adalah Zat Maha Tunggal yang disebut Sang Hyang Manon. Sehingga penampakan lahiriah manusia tidak lagi berarti, dan segala pengalaman hidup di dunia merupakan kenyataan yang harus diterima. Penerimaan ini membebaskan seseorang untuk menyadari akunya yang sejati (ingsun sejati). Untuk itulah maka seseorang harus menyesuikan rasa batinnya kepada komunikasi intuitif dengan rahasia kehidupan, dan akhirnya menjadi satu dengan hakekat kehidupan. Mengendalikan sikap lahiriah berguna untuk mencapai kesadaran diri, dan dengan demikian menikmati keheningan bathin, poros yang tidak bergerak ditengah-tengah dunia lahir yang selalu berputar. Kehidupan bathin merupakan integritas dan pengendalian diri, sedangkan kehidupan lahir merupakan hanya sebagai pagar. Oleh karenanya setiap orang memiliki kemungkinan untuk merangkul semesta alam. Penyatuan dengan semesta, tidak sekedar dalam konsep, tapi merupakan bentuk konkrit yang diwujudkan melalui peliharaan-peliharaan maupun upara ritual yang memiliki simbol-simbol tertentu. Misalnya, hanya akan menumbangkan sebuah pohon saja, harus melakukan upacara-upacara tertentu dan memohon ijin pada karuhun. Itu merupakan salah satu bentuk penjagaan terhadap lingkungan. Selain itu, hendak bercocok tanam juga harus melalui proses ritual yang diselenggarkan hamper setiap tahun, misalnya upacara-upacara ritual dalam bentuk ruatan.
UPACARA ADAT SUNDA NGARUATRuat, jika ditulis ruwat, jika dipadankan dalam bahasa Arab, rowa, yarwi, riwayatan, ruwatan. Maknanyanya riwayat, dikisahkan, diberitakan, disebarkan. Makna kebudayaan dari ngaruwat atau ruwatan adalah menjaga warisan leluhur, memelihara kekayaan yang telah diwariskan secara temurun. Manusia tidak ada yang bisa dan mampu hidup sendirian, selalu membutuhkan orang lain. Semua manusia memiliki nasabnya masing-masing, ada kisah di balik setiap kehidupan manusia. Maka semuanya harus menjadi rawi, orang yang menjaga kisah kehidupan leluhur, dengan menjaga warisan budayanya hingga akhir zaman.
Dalam bahasa Sansakerta, Kata ruwatan atau ngaruat, asal kata ruat, yang berarti patah (potong). Jadi ngaruat mengandung makna mematahkan akibat-akibat yang buruk seperti malapetaka, bala bencana, atau pembawaan negatif dari seseorang yang telah ditentukan. Walaupun ngaruat mendasarkan pada cerita wayang, namun tidak selamanya ngaruat selalu menggunakan media wayang. Cerita wayang dalam hal ini berperan utama dalam mitos ruwatan, karena lakon yang menjadi latar belakang ngaruat itu ialah Batara Kala. Suatu ketika Batara Kala minta ijin kepada Batara Guru untuk menggunakan daging manusia sebagai bahan makanannya. Mendapat permintaan itu, sulit rasanya Batara Guru mengambil keputusan. Sebab bila dibiarkan, manusia isi alam nantinya akan habis, punah. Bila dilarang, memang Buta makanannya adalah daging manusia. Maka Batara Guru pun mengijinkan Batara Kala untuk memakan daging manusia.
Baca juga:
Kolom Pakar: Deep Learning, Konstruksi Metode dan Tujuan Pendidikan IslamDiawali dengan pentas seni gembyung buhun pada malam menjelang hari pelaksanaan, prosesi dilanjutkan dengan ritual potong padi, numbal dan menyimpan sesaji, selamatan, arak-arakan, dan berziarah ke makam leluhur sejak pagi hingga siang. Dan Tradisi ziarah pada masyarakat sunda terjadi sejak lama, terutama ketika Islam masuk ke tanah Sunda, dan itu terlihat pada ritual keagamaan yang dilaksanakan orang Sunda dalam menghargai para leluhur banyak dipengaruhi oleh tradisi Islam.
Pertunjukan seni tradisional dalam ruwatan semula dipergunakan untuk meruwat manusia sukerta, bumi yang dianggap angker, dan hewan peliharaan. Dalam perkembanganya, ruwatan dapat juga digunakan untuk ruwatan masal, untuk penyembuhan, dan digunakan untuk suatu harapan dalam mencapai kehidupan. Ruwetan bagi masyarakat agraris merupakan upacara spiritual yang dapat dipergunakan untuk membebaskan roh-roh jahat yang menghinggapi pada seorang atau masyarakat yang dianggap sukerta yang mengakibatkan orang bernasib buruk.
Menurut Koentjaraningrat upacara ngruwat merupakan ilmu gaib protektif, yaitu upacara yang dilakukan dengan maksud untuk menghalau penyakit dan wabah, membasmi hama tanaman dan sebagainya, yang seringkali menggunakan mantra-mantra untuk menjauhkan penyakit dari bencana.
Upacara ruwatan dilengkapi dengan pertunjukan tradisional wayang golek. Dalam pertunjukan wayang ini disajikan lakon wayang Murwakala dan Sudamala. Baik lakon Murwakala dan Sudamala, keduanya termasuk wayang pada zaman purwa. Wayang zaman purwa terbagi atas 4 bagian, yaitu: mitos-mitos permulaan kosmos mengenai dewa, raksasa, dan manusia. Arjunasasrabau, yang memuat pendahuluan epos Ramayana; Ramayana; dan Mahabharata. Di dalam wayang dikandung hakikat kehidupan. Aspek penting dalam kaitannya dengan hakikat wayang ialah masyarakat sering mengaitkan antara peristiwa yang terjadi di dalam dunia wayang dengan dunia nyata. Hakikat wayang adalah bayangan dunia nyata, yang didalamnya terdapat makhluk ciptaan Tuhan, seperti: manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan dunia seisinya. Pembayangan itu berisi tentang gambaran kehidupan manusia, terutama mengenai sifat keutamaan atau kemuliaan dan keangkaraan atau kejahatan. Peristiwa yang terjadi dalam dunia nyata yang disebabkan oleh sesuatu sehingga seseorang terkena sukerta, akan menjadi mangsa Batara Kala. Dengan demikian, wayang adalah sarana ideal untuk dijadikan sebagi media dalam mengadakan upacara ruwatan, sebab dengan wayang, maksudnya adalah wayang di zaman paling kuna (wayang purwa), dapat menyingkirkan mara bahaya, bahwa dengan wayang dimaksudkan dapat menolak bala atau menolak mala petaka yang akan tiba.
Baca juga:
Kolom Pakar: Filsafat Nietzsche 'KEMATIAN TUHAN'Upacara ruwatan dijadikan sebagai ritual yang dipercaya dapat menangkal petaka, mendekatkan pada sang pencipta, dan mampu membuat manusia lebih mengutamakan keluhuran budi daripada memburu kuasa dan harta. Karena ruwatan sesungguhnya merupakan suatu usaha untuk membangun keselarasan dan komunikasi antarmanusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, serta manusia dengan alam. Usaha tersebut dipertajam melalui upaya-upaya serta perbuatan yang lebih mengutamaan keluhuran budi.
Pemahaman keliru mengenai upacara ruwatan adalah menilainya dengan keyakinan dan ajaran agama, misalnya dinilai dalam perspektif ajaran agama Islam. Tentu dalam ajaran Islam upacara Suka Sunda Ngaruat atau Ruwatan tidak akan ditemukan, dikarenakan ngaruwat merupakan produk budaya lokal masyarakat Sunda yang kehadirannya terpisah dari agama Islam. Oleh karena itu, dalam konsepsi kebudayaan etnik diperlukan interpretasi simbol budaya terutama pada local wisdom yang menjadi misi utamanya. Nilai-nilai kebaikan dari upacara ngaruwat bersifat universal, sebagaimana esensinya bahwa manusia harus mampu mengendalikan hawa nafsunya, memelihara warisan leluhurnya menjaga alam, dan dilarang bersekutu dengan jin batara kala yang akan memakan semua unsur kebajikan pada manusia.
SIMPULANRuwatan hanyalah salah satu bentuk kebudayaan dan memiliki esensi tentang kecerdasan masyarakat Sunda dalam mengekpresikan kepercayaannnya tentang kehidupan manusia dan tantangan yang harus dihadapi, terutama hawa nafsu manusia yang harus dikenbalikan dikarenakan akan membahayakan kehidupan dirinya dan kehidupan orang lain. Ngaruwat berarti bahwa manusia harus menjaga diri, menjaga keluarga, menjaga harta kekayaan, menjaga alam, dan terutama menjaga keyakinan agamanya.
(lam)