Dr. Beni Ahmad Saebani,M.Si
Pengagum Kebudayaan Nusantara/Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
LANGIT7.ID-Perilaku diri manusia telah dipelajari dengan mekanisme penataan normatif dan teknik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan internal dan eksternal. Dalam prosesnya, menurut Abraham H. Maslow, Kebudayaan memiliki peran yang teraktualisasikan tidak hanya berupa penciptaan kreasi atau karya-karya berdasarkan bakat atau kemampuan khusus, melainkan juga adanya keinginan manusia akan perwujudan diri sesuai dengan kemampuannya. Kecenderungan yang diungkapkan melalui pelbagai kreasi yang menumbuhkan hakikat pertahanan hidup manusia, juga sebagai keinginan untuk semakin mengistimewakan kehidupan sejarah manusia.
Menurut Clifford Geertz, kebudayan menjadi net-working yang dibangun oleh manusia untuk mencari makna, jaring-jaring tersebut dirangkai oleh manusia karena dalam hidupnya manusia penuh ekspresi dan isyarat yang harus ditafsirkan maknanya secara inovatif. Dengan demikian, kreativitas manusia dalam membentuk kebudayaan dengan rasa, karya, karsa, dan ciptanya timbul dari akal budinya sebagai keseluruhan sistem, gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang dijadikan sebagai milik diri manusia dengan cara belajar secara berkesinambungan yang mengandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan lain dari seseorang sebagai anggota masyarakat yang meliputi teknologi sosial, ideologi, religi, kesenian, dan benda yang kesemuanya merupakan warisan sosial.
Baca juga: Kolom Pakar: Canda Membawa Duka dan BahagiaKreativitas manusia dalam membentuk kebudayaan dapat berupa hidup-kebatinannya mengenai keyakinan beragama, kesusilaan keharmonisan antara jiwa dan raga, angan-angan manusia yang dapat menimbulkan keluhuran bahasa, kesusasteraan dan etika, kepandaian manusia, kesenian, dan sesuatu yang bersifat keindahan. Pembentukan kebudayaan masyarakat yang membangun identitas dan karakter bangsa sebagai sarana bagi pembentukan pola pikir (mindset) dan sikap mental sebagai sarana pembentukan watak suatu bangsa atau karakter bangsa yang sesungguhnya.
Bangsa Indonesia, dengan pluralitas kulturalnya kaya dengan heterogenitas kebudayaan ekosistemik yang ditandai oleh tingginya intensitas pemanfaat sumber daya alam untuk memertahankan kehidupannya. Semua bentuk kebudayaan berkembang atas dasar keterampilan dalam pertanian, artinya perkembangan kebudayaan tidak berdiri sendiri akan tetapi saling menyesuaikan dalam percaturan hidup sehari-hari.
Baca juga: Kolom Pakar: SosiologI Seksualitas Perempuan, Belajar dari Kisah Qobil-HabilOleh karena itu, pemulyaan masyarakat tempo doeloe kepada sumber daya alam yang telah menyelamatkan kehidupannya menjadi pengalaman batin tersendiri. Para pengelola lahan pertanian merasakan kedekatan yang mendalam dengan alam dan meyakini bahwa terdapat kekuatan, kekuasaan, dan perlindungan yang diberikan oleh alam kepada manusia.
Dalam keyakinan itulah tumbuh dan berkembang keterikatan batin yang menjadi norma sosial dan moralitas keberagamaan (meskipun bukan agama dalam arti struktural), bahkan "Kekuasaan dan Pemberi Kehidupan berada pada alam itu sendiri, dan pada setiap alam terdapat sesuatu sebagai Penguasa" atau pada alam sebagai materi yang tanpak terdapat kekuatan yang tidak tanpak, maka setiap penerima kekayaan alam hendaknya memulyakannya melalui persembahan kepada simbol-simbol alamiahnya.
HAMBATAN BUDAYA KEBATINANSetiap sukubangsa memiliki hambatan budayanya masing-masing dalam memahami hakikatnya yang berbeda antarsukubangsa yang ada. Oleh karena itu negara secara aktif bertugas memahami dan mengatasi hambatan budaya masing-masing sukubangsa dengan memberi dorongan dan peluang bagi timbulnya potensi budaya baru sebagai kekuatan bangsa.
Baca juga: Kolom Pakar: Agama Rasional Etnik Sunda Melawan Kuntilanak, Jurig, Dedemit, KolongweweSemua pihak perlu memberikan kesempatan bagi berkembangnya masyarakat multikultural yang masing-masing berhak untuk mengembangkan dirinya melalui kebudayaan di tanah asal leluhurnya. Masyarakat multikultural harus memperoleh kesempatan yang baik dan sama untuk menjaga dan mengembangkan kearifan budaya lokal ke arah kualitas dan pendayagunaan yang lebih baik.
Menurut J.W. Smith, kebudayaan sepatutnya menjadi perekat integritas nasional Indonesia dengan tetap mengutamakan dan membela kepentingan negara. Semua kreativitas kebudayaan menunjukkan kemajuan peradaban manusia yang harus diberdayakan. Hambatan sosial dan politik, maupun hambatan doktrin agama sebaiknya dihilangkan karena akan membentuk masyarakat yang pasif dan apatis untuk mengembangkan akal budinya dalam berkarya.
Secara sosiologis tidak semua kreativitas kebudayaan berbasis kepada norma agama, bahkan agama itu bertumbuh dan berterima disebabkan oleh kebudayaan masyarakat yang sudah berkembang dan rasional. Meskipun secara sosiologis pengalaman kebatinan masyarakat telah dipetakan sedemikian rupa oleh August Comte dengan tingkatan atau stadina yang bertahap sesuai dengan perkembangan pemikiran masyarakat, akan tetapi, dalam konteks sejarah keberagamaan tidak demikian masif sebagaimana analisis Comte, karena kebatinan dalam keberagamaan akan terus ada dan berada di dalam kehidupan spiritualitas masyatakat yang beragama, tidak berubaha begitu saja oleh adanya perilaku manusia yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Baca juga: Kolom Pakar: Upacara Adat Suku Sunda Ngaruwat Dalam Perspektif Kebenaran UniversalRealitasnya bahwa masyarakat akan terus mengalami pengalaman batini dalam beragama, dan pengalaman batin ini tidak dapat dikatakan sebagai masa kebodohan masyarakat atau akan hilang karena materialisme, rasionalisme, dan positivisme. Pada masyarakat industri atau masyarakat modern, dalam tantangan kehidupan globalisasi, nilai-nilai kebatinan, keyakinan dan spiritualitas akan menjadi bagian yang urgent dikarenakan keterbatasan manusia menghadapi tantangan kehidupan yang sulit dirasionalisasi, sehingga nilai kebatinan dan agama menjadi tempat mengadu, tempat curahan hati yang diyakini sebagai solusi kehidupan metafisik.
Dengan pemahaman tersebut tentu penganut agama yang telah terstruktul tidak elok menghambat perkembangan kebudayaan yang digali dari pengalaman kebatinan masyarakat sehingga menghilangkan jati diri suku bangsa dalam mencari dan menemukan ketenangan batin, sekaligus menemukan Tuhannya menurut spiritualitasnya masing-masing. Keberagaman yang digali dari pengalaman batin akan lebih mendalam dan memahami kesadaran rasional dan argumentasi yang akan menjawab pertanyaan, seberapa penting beragama, mengapa harus beragama?
NATIJAHAgama dan budaya tidak bisa dipisahkan meskipun budaya dan agama tidak bisa disatukan. Demikian pula, pengalaman kebatinan dalam budaya simbolik dapat membentuk keyakinan yang menjadi dasar lahirnya keberagamaan masyakat. Sedangkan semua agama mengajarkan berbudaya, mendukung peradaban manusia, mengamini pengalaman kebatinan, sehingga tidak dapat distratifikasikan sebagaimana yang dilakukan oleh August Comte.
(lam)