Dr.Beni Ahmad Saebani
(Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
LANGIT7.ID-Berita yang lagi viral sekarang ini adalah peristiwa bercandanya seorang Gus Miftah yang menurut netizen menggunakan kata-kata yang kasar untuk mengolok-olok seorang tukang es yang dagangannya belum ada yang membeli. Sebenarnya kalimat yang dilontarkan oleh Gus Miftah tidak dengan niat mengolok tukang es, karena kebiasaan bercandanya secara spontan bukan hanya dilakukan pada satu tempat, terbukti media sosial menayangkan beberapa candaan beliau di berbagai kesempatan, akan tetapi candaannya semakai fenomenal dikarenakan salah satu candaan yang ditayangkan terus menerus yang kemudian dirujak oleh netizen sehingga objek yang dicandai dengan kata kasar semakin memilukan, menyedihkan dan serasa amat terzalimi, meskipun sesungguhnya bagi seorang tukang es tidak begitu dipikirkan apalagi didramatisir.
Kata kasar, yakni "goblok" dapat diartikan bodoh, tolol, dan dungu, oleh karena itu tidak ada makna yang lain apalagi makna yang baik, yang bijak, dan yang menunjukkan kearifan serta akhlak yang mulia. Kata tersebut biasa saja apabila dilontarkan kepada sesama teman, sekelompok, dan sepergaulan, akan tetapi apibila dikemukakan di depan umum yang didengar dan disaksikan orang banyak tentu lain persoalannya meskipun yang dituju tidak merasakan sakit, namun pendengar yang lain berbeda, sehingga merasa iba dan bisa saja ikut empati dan merasa tersakiti, sehingga wajar apabila komentar negatif yang memojokkan pelakunya semakin viral hingga ke negeri orang.
Baca juga: Kolom Pakar: SosiologI Seksualitas Perempuan, Belajar dari Kisah Qobil-HabilNetizen terus menggoreng perilaku tersebut apalagi ditertawakan oleh beberapa orang yang merupakan tokoh agama dan seseorang yang dihormati oleh masyarakat. Sebenarnya permintaan maap secara langsung telah dilakukan oleh pelakunya, namun netizen memandang hal tersebut belum menghilangkan "rasa sedih dan luka" seorang tukang es yang sedang mencari nafkah halal untuk keluarganya, bahkan menginginkan pelaku supaya dicopot dari jabatannya sebagai utusan khusus bidang kerukunan umat beragama. Kejadian itu, akhirnya menjadi nasihat dan teguran, sekaligus ujian berat bagi Gus Miftah, dan dengan ksatria iapun mengundurkan diri dari jabatannya. Ini bagaikan canda membawa duka.
Canda Membawa BahagiaDi lain pihak, candaan Gus Miftah membawa kebahagiaan tersendiri bagi tukang es, yang terus menerus menerima berbagai bantuan, kebaikan masyarakat yang ingin memberi kebahagiaan melalui beragam sumbangan. Tukang es itu menerima uang ratusan juta rupiah, biaya untuk pendidikan anak-anaknya, mau diumrahkan ke tanah suci, menerima kendaraan mobil baru, bahkan ada yang mau membangunkan rumah sebagai tempat tinggalnya yang layak dan nyaman. Betapa hikmahnya di luar dugaan, candaan atau olok-olok yang dikatakan dengan sebutan yang menimbulkan empati masyarakat diubah oleh Allah SWT. menjadi rizki yang tidak terduga, bagaimana pun kita semua meyakini bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, apabila Tuhan berkehendak maka Kun Fayakun. Inilah candaan yang membawa kebahagiaan.
Baca juga: Kolom Pakar: Agama Rasional Etnik Sunda Melawan Kuntilanak, Jurig, Dedemit, KolongweweBaca juga: Kolom Pakar: Upacara Adat Suku Sunda Ngaruwat Dalam Perspektif Kebenaran UniversalHikmah KehidupanPeristiwa itu tentu amat disesalkan, akan tetapi kita sebagai manusia tentu tidak ada yang sempurna, khilaf dan dosa sering kita lakukan, oleh karena itu, yang paling penting dan utama peristiwa itu harus diambil hikmahnya supaya kita selalu introspeksi dan bercermin dari peristiwa itu, oleh karena itu setiap kata mengandung makna, maka gunakanlah kata yang diucapkan yang maknanya penuh kebaikan dan kemaslahatan, katakanlah yang baik, atau lebih baik diam. Bagi siapapun boleh bercanda dan bersenda gurau dan tertawa, akan tetapi kebanyakan bercanda dan tertawa dapat mematikan hati.
(lam)