home edukasi & pesantren

Kolom Pakar: Potret Inklusivisme Pondok Pesantren Darussalam Sumedang

Selasa, 10 Desember 2024 - 10:33 WIB
Kolom Pakar: Potret Inklusivisme Pondok Pesantren Darussalam Sumedang
Drs. KH. Syamsul Falah, M.Ag

Dosen FSH UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Sumedang



LANGIT7.ID-Pada tahun 1980 salah seorang murid Pesantren Pagelaran Sumedang, yaitu KH. Thalib Abdulrachman mendirikan Pondok Pesantren Bhakti Muslim Assalam di Sumedang. Kegiatan belajar masih menggunakan metode salaffiyah, baru pada tahun 1986 didirikan Yayasan Bhakti Muslim Assalam dengan akta notaris Cristy S. Sutadikusumah, SH. No. 15 tahun 1986 untuk menjadi pengelola pesantren. Pesantren Bhakti Muslim Assalam diubah namanya menjadi Pesantren Persatuan Islam 44 Darussalam seiring dengan perubahan yayasan yang menaunginya yaitu Yayasan Darussalam yang berdiri pada tanggal 1 Oktober 1999 di Sumedang.

Seiring perkembangan jaman, Pesantren Darussalam mengalami daya sanding dengan masyarakat Sumedang. Pemahaman pimpinan Pesantren Darussalam bahwa; "pesantren sebagai ujung tombak bagi pembinaan dan pengembangan hukum Islam dengan menampilkan berbagai sistem pemahaman ajaran Islam untuk menghadapi kondisi zaman". Pada awalnya pesantren ini diharapkan mampu menghadang arus fanatisme golongan. Namun dalam perkembangannya pesantren ini harus berubah dari fanatisme yang eksklusif menjadi pesantren yang inklusif. Keberanian merubah citra pesantren menjadi inklusif dari pimpinannya disebabkan oleh kepemilikan pesantren adalah milik yayasan keluarga pimpinan pesantren. Dipahami keberadaan Darussalam merupakan jasa dari keluarga KH. Thalib Abdulrachman yang sekarang diwakili oleh puteranya, Kyai Hasan Bisri dan masyarakat sekitarnya yang mengharapkan pesantren Darussalam mempunyai citra inklusif atau antarlintas organisasi keagamaan Islam.

Baca juga: Kolom Pakar: Metode Istinbath Hukum Nahdhatul Ulama Dalam Upaya Pengembangan Sistem Keuangan dan Bisnis Syariah
Berita Lainnya