Kisah Tabi'in Urwah bin Zubair: Terkabulnya Doa di Kaki Kakbah
Tim langit 7
Jum'at, 13 Desember 2024 - 20:05 WIB
Kisah Tabi'in Urwah bin Zubair: Terkabulnya Doa di Kaki Kakbah
LANGIT7.ID-Pagi itu, mentari memancarkan benang-benang cahaya keemasan di atas Baitul Haram, menyapa ramah pelatarannya yang suci. Di Baitullah, sekelompok sahabat Rasulullah SAW yang masih hidup dan tokoh-tokoh tabiāin tengah mengharumkan suasana dengan lantunan tahlil dan takbir, menyejukkan sudut-sudutnya dengan doa-doa yang saleh.
Mereka membentuk halaqah-halaqah, berkelompok-kelompok di sekeliling Kakbah agung yang tegak berdiri di tengah Baitul Haram dengan kemegahan dan keagungannya.
Mereka memanjakan pandangan matanya dengan keindahannya yang menakjubkan dan berbagi cerita di antara mereka, tanpa senda gurau yang mengandung dosa.
Baca juga: Kisah Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik Meminta Fatwa dari Bekas Budak
Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya dalam bukunya berjudul "Shuwaru min Hayati A;-Tabi'in" yan diterjemahkan Abu Umar Abdillah menjadi "Mereka adalah Para Tabiin" berkisah, di dekat rukun Yamani, duduklah empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia.
Keempat remaja itu adalah Abdullah bin Zubair dan saudaranya yang bernama Mus'ab bin Zubair, saudaranya lagi bernama Urwah bin Zubair dan satu lagi adalah Abdul Malik bin Marwan.
Pembicaraan mereka semakin serius. Kemudian seorang di antara mereka mengusulkan agar masing-masing mengemukakan cita-cita yang didambakannya.
Mereka membentuk halaqah-halaqah, berkelompok-kelompok di sekeliling Kakbah agung yang tegak berdiri di tengah Baitul Haram dengan kemegahan dan keagungannya.
Mereka memanjakan pandangan matanya dengan keindahannya yang menakjubkan dan berbagi cerita di antara mereka, tanpa senda gurau yang mengandung dosa.
Baca juga: Kisah Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik Meminta Fatwa dari Bekas Budak
Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya dalam bukunya berjudul "Shuwaru min Hayati A;-Tabi'in" yan diterjemahkan Abu Umar Abdillah menjadi "Mereka adalah Para Tabiin" berkisah, di dekat rukun Yamani, duduklah empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia.
Keempat remaja itu adalah Abdullah bin Zubair dan saudaranya yang bernama Mus'ab bin Zubair, saudaranya lagi bernama Urwah bin Zubair dan satu lagi adalah Abdul Malik bin Marwan.
Pembicaraan mereka semakin serius. Kemudian seorang di antara mereka mengusulkan agar masing-masing mengemukakan cita-cita yang didambakannya.