Periode Pertama Turunnya dan Tujuan Pokok Al-Qur'an Menurut Quraish Shihab
Miftah yusufpati
Selasa, 14 Januari 2025 - 17:10 WIB
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-- Para ulama 'Ulum Al-Quran membagi sejarah turunnya Al-Quran dalam dua periode: (1) Periode sebelum hijrah; dan (2) Periode sesudah hijrah.
Ayat-ayat yang turun pada periode pertama dinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan ayat-ayat yang turun pada periode kedua dinamai ayat-ayat Madaniyyah.
Akan tetapi, Prof Dr Quraish Shihab membagi sejarah turunnya Al-Quran dalam tiga periode, meskipun pada hakikatnya periode pertama dan kedua dalam pembagian tersebut adalah kumpulan dari ayat-ayat Makkiyah, dan periode ketiga adalah ayat-ayat Madaniyyah.
"Pembagian demikian untuk lebih menjelaskan tujuan-tujuan pokok Al-Quran," tulis Quraish dalam bukunya berjudul "Membumikan Al-Quran, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat" (Mizan, 1996)
Baca juga: Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Al-Quran Menurut Quraish Shihab
Periode Pertama
Pada tulisan ini kita bahas untuk periode pertama. Quraish menjelaskan bahwa Muhammad SAW, pada awal turunnya wahyu pertama (iqra'), belum dilantik menjadi Rasul. Dengan wahyu pertama itu, beliau baru merupakan seorang nabi yang tidak ditugaskan untuk menyampaikan apa yang diterima.
Ayat-ayat yang turun pada periode pertama dinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan ayat-ayat yang turun pada periode kedua dinamai ayat-ayat Madaniyyah.
Akan tetapi, Prof Dr Quraish Shihab membagi sejarah turunnya Al-Quran dalam tiga periode, meskipun pada hakikatnya periode pertama dan kedua dalam pembagian tersebut adalah kumpulan dari ayat-ayat Makkiyah, dan periode ketiga adalah ayat-ayat Madaniyyah.
"Pembagian demikian untuk lebih menjelaskan tujuan-tujuan pokok Al-Quran," tulis Quraish dalam bukunya berjudul "Membumikan Al-Quran, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat" (Mizan, 1996)
Baca juga: Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Al-Quran Menurut Quraish Shihab
Periode Pertama
Pada tulisan ini kita bahas untuk periode pertama. Quraish menjelaskan bahwa Muhammad SAW, pada awal turunnya wahyu pertama (iqra'), belum dilantik menjadi Rasul. Dengan wahyu pertama itu, beliau baru merupakan seorang nabi yang tidak ditugaskan untuk menyampaikan apa yang diterima.