YLKI Sebut Pelaku Usaha di Indonesia Belum Ambil Peluang Besar Produk Halal
Mahmuda attar hussein
Rabu, 22 September 2021 - 16:39 WIB
Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi dalam webinar langit7. Foto: Langit7
Semangat spiritualitas beragama masyarakat yang naik belakangan ini, perlu dimanfaatkan oleh semua pihak. Pangsa pasar produk halal yang menjadi kebutuhan besar masyarakat, menjadi peluang usaha yang harus dimaksimalkan umat Islam.
Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan, untuk itu, seharusnya Indonesia bukan hanya menjadi konsumen untuk kebutuhan produk halal yang ada, melainkan juga menjadi produsen produk halal sehingga mengembangkan perekonomian syariah di tanah air.
“Penyebab kita hanya menjadi pasar adalah karena konsumen kita muslim tapi yang menangkapnya produsen non muslim. Mungkin memang tidak bermasalah, tapi akan lebih esensial jika kita bisa berperan sebagai produsen,” katanya secara virtual di Webinar Langit7.id: Potensi Besar Konsumen Muslim yang Belum Digarap Maksimal, Rabu (22/9).
Baca juga:Muhammadiyah Sentil Pengusaha yang Jadikan Label Halal cuma Gimik
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dalam ekonomi digital juga turut menjadi langkah yang bisa dimanfaatkan dalam mengembangkan ekonomi syariah. Apalagi segala kebutuhan pendukung seperti gadget dan jaringan internet dalam hal ini juga sudah cukup banyak tersedia.
Selain itu, Presiden Joko Widodo juga menyebutkan pada 2025 mendatang, PDB Indonesia akan mendapatkan gelontoran kontribusi dari ekonomi digital sebesar Rp1,8 kuadtriliun. Sementara itu, e-commerce atau belanja daring juga menjadi bagian yang sangat signifikan dalam transaksi ekonomi di tanah air.
“Adapun dalam transaksi di sektor jasa keuangan digital (fintech) mencapai Rp190 triliun, dan e-commerce sebesar Rp261 triliun. Produk halal menjadi fokus bukan hanya makanan halal, tapi juga segala kebutuhan sehari –hari lainnya, seperti fesyen, farmasi, jasa, dan wisata halal,” kata dia.
Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan, untuk itu, seharusnya Indonesia bukan hanya menjadi konsumen untuk kebutuhan produk halal yang ada, melainkan juga menjadi produsen produk halal sehingga mengembangkan perekonomian syariah di tanah air.
“Penyebab kita hanya menjadi pasar adalah karena konsumen kita muslim tapi yang menangkapnya produsen non muslim. Mungkin memang tidak bermasalah, tapi akan lebih esensial jika kita bisa berperan sebagai produsen,” katanya secara virtual di Webinar Langit7.id: Potensi Besar Konsumen Muslim yang Belum Digarap Maksimal, Rabu (22/9).
Baca juga:Muhammadiyah Sentil Pengusaha yang Jadikan Label Halal cuma Gimik
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dalam ekonomi digital juga turut menjadi langkah yang bisa dimanfaatkan dalam mengembangkan ekonomi syariah. Apalagi segala kebutuhan pendukung seperti gadget dan jaringan internet dalam hal ini juga sudah cukup banyak tersedia.
Selain itu, Presiden Joko Widodo juga menyebutkan pada 2025 mendatang, PDB Indonesia akan mendapatkan gelontoran kontribusi dari ekonomi digital sebesar Rp1,8 kuadtriliun. Sementara itu, e-commerce atau belanja daring juga menjadi bagian yang sangat signifikan dalam transaksi ekonomi di tanah air.
“Adapun dalam transaksi di sektor jasa keuangan digital (fintech) mencapai Rp190 triliun, dan e-commerce sebesar Rp261 triliun. Produk halal menjadi fokus bukan hanya makanan halal, tapi juga segala kebutuhan sehari –hari lainnya, seperti fesyen, farmasi, jasa, dan wisata halal,” kata dia.