Tafsir Al-Qur'an: Metode Tahliliy dan Maudhu'iy
Miftah yusufpati
Senin, 10 Februari 2025 - 17:30 WIB
Ada kelemahan dalam tafsir-tafsir yang menggunakan metode tahliliy. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Banyak cara pendekatan dan corak tafsir yang mengandalkan nalar. Dr Abdul Hay Al-Farmawiy dalam bukunya berjudul "Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-Maudhu'iy" membagi metode tafsir menjadi empat macam metode, yaitu tahliliy, ijmaliy, muqaran dan maudhu'iy.
Prof Dr Quraish Shihab mengatakan dalam bukunya "Membumikan Al-Quran" menjelaskan yang paling populer dari keempat metode itu, adalah metode tahliliy, dan metode maudhu'iy.
Metode tahliliy, atau yang dinamai oleh Baqir Al-Shadr sebagai metode tajzi'iy, adalah satu metode tafsir yang "Mufasirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Quran dari berbagai seginya dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat Al-Quran sebagaimana tercantum di dalam mushaf."
Segala segi yang dianggap perlu oleh seorang mufasir tajzi'iy/tahliliy diuraikan, bermula dari arti kosakata, asbab al-nuzul, munasabah, dan lain-lain yang berkaitan dengan teks atau kandungan ayat.
"Metode ini, walaupun dinilai sangat luas, namun tidak menyelesaikan satu pokok bahasan, karena seringkali satu pokok bahasan diuraikan sisinya atau kelanjutannya, pada ayat lain," jelas Quraish.
Baca juga: Tafsir Al-Qur'an: Keistimewaan dan Kelemahan Corak Ma'tsur
Pemikir Aljazair kontemporer, Malik bin Nabi, menilai bahwa upaya para ulama menafsirkan Al-Quran dengan metode tahliliy itu, tidak lain kecuali dalam rangka upaya mereka meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemukjizatan Al-Quran.
Prof Dr Quraish Shihab mengatakan dalam bukunya "Membumikan Al-Quran" menjelaskan yang paling populer dari keempat metode itu, adalah metode tahliliy, dan metode maudhu'iy.
Metode tahliliy, atau yang dinamai oleh Baqir Al-Shadr sebagai metode tajzi'iy, adalah satu metode tafsir yang "Mufasirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Quran dari berbagai seginya dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat Al-Quran sebagaimana tercantum di dalam mushaf."
Segala segi yang dianggap perlu oleh seorang mufasir tajzi'iy/tahliliy diuraikan, bermula dari arti kosakata, asbab al-nuzul, munasabah, dan lain-lain yang berkaitan dengan teks atau kandungan ayat.
"Metode ini, walaupun dinilai sangat luas, namun tidak menyelesaikan satu pokok bahasan, karena seringkali satu pokok bahasan diuraikan sisinya atau kelanjutannya, pada ayat lain," jelas Quraish.
Baca juga: Tafsir Al-Qur'an: Keistimewaan dan Kelemahan Corak Ma'tsur
Pemikir Aljazair kontemporer, Malik bin Nabi, menilai bahwa upaya para ulama menafsirkan Al-Quran dengan metode tahliliy itu, tidak lain kecuali dalam rangka upaya mereka meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemukjizatan Al-Quran.