home edukasi & pesantren

Jaga Aqidah, Toleransi Tidak Harus Membenarkan Semua Agama

Jum'at, 24 September 2021 - 06:51 WIB
ilustrasi toleransi dengan tetap memegang teguh keimanan masing-masing tanpa membenarkan semua agama (foto: langit7.id/istock)
Indonesia adalah negara majemuk yang terdiri dari beberapa agama. Atas nama toleransi, takjarang muncul pernyataan bahwa semua agama sama benarnya. Pemahaman semua agama benar bermula dari kajian mengenai agama di barat terkait komparasi agama di berbagai universitas. Kajian-kajian tersebut berakhir pada kesimpulan bahwa tidak ada definisi agama yang final.

Jika mendefinisikan agama dalam perspektif Islam, maka semua agama selain risalah Nabi Muhammad SAW tidak bisa dibenarkan. Hal tersebut karena agama dalam definisi Islam berarti ada Tuhan yang memiliki nama, ada wahyu, ada syariah, hingga aqidah. Poin-poin tersebut tidak ada dalam agama lain.

Sementara pemahaman yang keliru yang menyamakan semua agama sama merujuk kepada para profesor dalam studi agama-agama di barat. Mereka membuat terobosan menyatukan semua agama dengan berasumsi semua agama sejatinya sama.

Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Prof Dr KH Hamid Fahmi Zarkasyi, menilai sebagian umat Islam di Indonesia terjangkit pemikiran tersebut. mereka menjual ide pluralisme agama yang mulai muncul sejak 2001. Bahkan, ide tersebut marak menjadi tema diskusi di berbagai universitas Islam di Indonesia.

Baca Juga:Rektor Unida Gontor: Rusaknya Ilmu karena Terpisah dari Iman

Pluralisme, menurut Prof Hamid, bisa bermata dua, karena di dalam kata itu mengandung makna toleransi dan kerukunan. Sementara pluralisme di barat memiliki tiga makna yakni pluralisme yang berarti toleransi atau kerukunan, pluralisme dalam masalah sastra, dan pluralisme yang berarti relatif yang di dalamnya ada relativisme.

“Ketika orang berbicara relativisme, itu artinya bahwa kebenaran itu pluralisme, kebenaran itu banyak bukan hanya satu. Kebenaran dalam konteks apapun di barat, seperti kebenaran kultural dan kebenaran ideologi, tidak satu,” kata Prof dalam kajian MINJAH yang digelar MIUMI, Kamis malam (23/9/2021).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
toleransi kajian islam hamid fahmy zarkasyi
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya