Kolom Ngabuburit Senja: Menemukan Tuhan di Jalanan
Tim langit 7
Senin, 17 Maret 2025 - 17:37 WIB
Kolom Ngabuburit Senja: Menemukan Tuhan di Jalanan
LANGIT7.ID-Semalam, seusai tarawih, saya teringat diskusi dengan KH Mustofa Bisri, ulama cum pujangga. Suatu waktu, sudah lama, di bulan Ramadhan juga, saya mengunjungi Gus Mus, panggilan KH Mustofa Bisri, di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin di Rembang, Jawa Tengah. Bahkan saya ikut mendengarkan di kelas Gus Mus saat bandongan kitab kuning bersama para santri. Duduk bersila di barisan belakang sambil nyender di dinding. Pas buka puasa, terhidanglah kepiting segar yang lezat.
Sampai hari ini apa yang disampaikan Gus Mus kala itu masih menempel di benak. Rasanya masih relevan. Kata Gus Mus begini: orang bersepeda merasa lebih berkuasa dari pejalan kaki; pengendara motor merasa lebih berkuasa dari pengayuh sepeda; pengendara mobil merasa lebih berkuasa dari pengendara motor; pengendara bus merasa lebih berkuasa dari pengendara mobil; dan sopir truk gandengan merasa lebih berkuasa dari sopir bus.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Getol Beribadah Tapi Doyan Korupsi
Ini semacam hierarki kekuasaan. Biasanya hierarki kekuasaan berada dalam lingkup organisasi dan masyarakat, yang mengacu pada struktur. Tetapi di jalanan hierarki kekuasaan bisa sangat problematik. Distribusi kekuasaan di jalanan lebih rumit dengan dinamika yang tak terduga. Bisa menimbulkan tekanan, diskriminasi, dan ketidakadilan. Di jalanan kita melihat ada kasta sosial, misal, berdasarkan jenis kendaraan, merek, harga, ukuran dimensi, hingga aksesorisnya. Kendaraan mahal, mewah (luxury brand) dan berukuran besar berpotensi membuat pengendaranya merasa “lebih punya kuasa” di jalan.
Kita menyaksikan, setidaknya mendengar, bukan sekali dua kali kejadiannya. Ada mobil-mobil bongsor seperti Alphard, Land Cruiser, Fortuner, Pajero, atau konvoi moge Harley Davidson, dan lain-lain yang sering menjadi perbincangan atau viral di media sosial. Pengendara jenis-jenis kendaraan itu didapati sering berulah, misalnya menerobos bahu jalan tol atau jalan raya di perkotaan, terjadi keributan dengan pengendara lain, atau saat konvoi serombongan pengendara moge yang menguasai jalan. Runyamnya, juga sering dilakukan mobil-mobil berpelat merah, kendaraan dinas polisi atau tentara. Jadi ada warga sipil dan aparat.
Sampai hari ini apa yang disampaikan Gus Mus kala itu masih menempel di benak. Rasanya masih relevan. Kata Gus Mus begini: orang bersepeda merasa lebih berkuasa dari pejalan kaki; pengendara motor merasa lebih berkuasa dari pengayuh sepeda; pengendara mobil merasa lebih berkuasa dari pengendara motor; pengendara bus merasa lebih berkuasa dari pengendara mobil; dan sopir truk gandengan merasa lebih berkuasa dari sopir bus.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Getol Beribadah Tapi Doyan Korupsi
Ini semacam hierarki kekuasaan. Biasanya hierarki kekuasaan berada dalam lingkup organisasi dan masyarakat, yang mengacu pada struktur. Tetapi di jalanan hierarki kekuasaan bisa sangat problematik. Distribusi kekuasaan di jalanan lebih rumit dengan dinamika yang tak terduga. Bisa menimbulkan tekanan, diskriminasi, dan ketidakadilan. Di jalanan kita melihat ada kasta sosial, misal, berdasarkan jenis kendaraan, merek, harga, ukuran dimensi, hingga aksesorisnya. Kendaraan mahal, mewah (luxury brand) dan berukuran besar berpotensi membuat pengendaranya merasa “lebih punya kuasa” di jalan.
Kita menyaksikan, setidaknya mendengar, bukan sekali dua kali kejadiannya. Ada mobil-mobil bongsor seperti Alphard, Land Cruiser, Fortuner, Pajero, atau konvoi moge Harley Davidson, dan lain-lain yang sering menjadi perbincangan atau viral di media sosial. Pengendara jenis-jenis kendaraan itu didapati sering berulah, misalnya menerobos bahu jalan tol atau jalan raya di perkotaan, terjadi keributan dengan pengendara lain, atau saat konvoi serombongan pengendara moge yang menguasai jalan. Runyamnya, juga sering dilakukan mobil-mobil berpelat merah, kendaraan dinas polisi atau tentara. Jadi ada warga sipil dan aparat.