Kisah Nabi Nuh: Menjadi Bapak Kedua dan Membangun Kampung untuk 80 Orang Beriman
Miftah yusufpati
Sabtu, 22 Maret 2025 - 05:00 WIB
Awal terjadinya banjir besar adalah pada bulan Rajab dan akhirnya pada akhir bulan Dzulhijjah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID--Bahtera Nabi Nuh AS berlabuh di gunung Judi, sebuah gunung yang dekat dengan Maushil (sebuah kota di Irak yang suka disebut Hadaba). Setelah 40 hari, tanah yang tadinya merupakan genangan air, mengering dan di sana tumbuh berbagai jenis rerumputan.
قِيلَ يَٰنُوحُ ٱهْبِطْ بِسَلَٰمٍ مِّنَّا وَبَرَكَٰتٍ عَلَيْكَ وَعَلَىٰٓ أُمَمٍ مِّمَّن مَّعَكَ ۚ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami". (QS Huud : 48).
Kemudian Allah menyuruh Nabi Nuh agar melepaskan burung, binatang liar, binatang melata, dan serangga yang ada bersamanya.
Atas perintah tersebut, Nabi Nuh melepaskan mereka semua. Semuanya berpencar untuk menempati tempat-tempat seperti sediakala.
Lalu Allah menampakkan siang, malam, matahari, bulan, dan bintang seperti sediakala. Setelah itu, Dia menurunkan hujan rahmat dan menampungkan air banjir besar dari bumi dan menjadikannya asin lagi pahit.
Sejarawan Mesir yang paling penting pada zamannya, Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas (1448-1522) dalam buku yang diterjemahkan oleh Abdul Halim berjudul “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman” menceritakan dengan semua ini, Nabi Nuh merasa gembira dan mendapatkan kabar menggembirakan mendapatkan keridaan dari Allah.
قِيلَ يَٰنُوحُ ٱهْبِطْ بِسَلَٰمٍ مِّنَّا وَبَرَكَٰتٍ عَلَيْكَ وَعَلَىٰٓ أُمَمٍ مِّمَّن مَّعَكَ ۚ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami". (QS Huud : 48).
Kemudian Allah menyuruh Nabi Nuh agar melepaskan burung, binatang liar, binatang melata, dan serangga yang ada bersamanya.
Atas perintah tersebut, Nabi Nuh melepaskan mereka semua. Semuanya berpencar untuk menempati tempat-tempat seperti sediakala.
Lalu Allah menampakkan siang, malam, matahari, bulan, dan bintang seperti sediakala. Setelah itu, Dia menurunkan hujan rahmat dan menampungkan air banjir besar dari bumi dan menjadikannya asin lagi pahit.
Sejarawan Mesir yang paling penting pada zamannya, Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas (1448-1522) dalam buku yang diterjemahkan oleh Abdul Halim berjudul “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman” menceritakan dengan semua ini, Nabi Nuh merasa gembira dan mendapatkan kabar menggembirakan mendapatkan keridaan dari Allah.