home masjid

Kolom Ngabuburit Senja: La Tahzan, Jangan Bersedih!

Ahad, 23 Maret 2025 - 16:29 WIB
Kolom Ngabuburit Senja: La Tahzan, Jangan Bersedih!
LANGIT7.ID-Fatimah berlinang air mata. Menangis tersedu-sedu. Gadis usia 14 tahun itu syok ketika melihat sang ayah, Muhammad, pulang dalam keadaan berlumuran tanah dan kotoran di sekujur tubuh. Bagian kepala kotor sampai ke rambut. Pakaian dan jubahnya kotor. Nabi dilempari tanah dan kotoran oleh orang-orang Quraisy.

Putri mana yang tidak sedih melihat ayahnya dipersekusi? Tambah sedih karena Fatimah masih berduka ditinggal ibunda, Khadijah.

Sambil sesenggukan Fatimah membersihkan tubuh dan baju ayahnya. Pelan-pelan, dengan agak gemetar menahan tangis, ia menyingkirkan butiran-butiran tanah dan kotoran dari tubuh ayahnya.

Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Para Pencari Kebenaran

Bagi seorang ayah, tangisan anak perempuan seakan sembilu mengiris hati. Dada terasa berat. Tetapi nabi adalah manusia mulia, dengan reaksi yang tenang, bijak, dan terukur. "Jangan menangis anakku," kata nabi kepada putri kesayangannya itu. "Tuhan akan menolong ayahmu." Nabi menguatkan hati sang anak. Padahal nabi juga tengah berduka sebagaimana sang anak. Nabi baru kehilangan dua orang yang disayanginya. Pamannya, Abu Thalib, dan istri tercinta, Khadijah, yang wafat nyaris beruntun.



Abu Thalib (nama aslinya Abdul Manaf) adalah sosok pelindung nabi. Abu Thalib berdiri di depan nabi ketika diserang para pemuka Quraisy, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Utbah bin Rabi'ah, Umayyah bin Khalaf, An-Nadhr bin al-Harits. Di antara mereka juga ada kerabat dekat nabi, yakni Abu Lahab. Nama aslinya Abdul ‘Uzza, anak Abdul Muthalib. Berarti saudara Abdullah, ayah nabi. Sebetulnya Abu Lahab sangat bahagia menyambut kelahiran nabi, sang kemenakan. Saking girangnya, ia sampai memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, sebagai rasa syukur. Tetapi ketika nabi membawa risalah kebenaran, Abu Lahab menjadi musuh besar, terabadikan dalam Al-Quran (QS. Al-Lahab).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya