Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 25 Mei 2026
home masjid detail berita

Puncak Haji 2026 Dimulai, Jemaah Haji Menuju Mina untuk Hari Tarwiyah 1447 Hijriah

miftah yusufpati Senin, 25 Mei 2026 - 09:25 WIB
Puncak Haji 2026 Dimulai, Jemaah Haji Menuju Mina untuk Hari Tarwiyah 1447 Hijriah
Bagi jemaah yang memiliki kesiapan fisik matang dan memilih jalur Tarwiyah, kepatuhan terhadap sistem manajemen keselamatan mutlak diperlukan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Puncak pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah kini memasuki fase krusial. Pergerakan massa dalam jumlah besar mulai terlihat di kota suci Makkah, Arab Saudi. Sejak Minggu, 24 Mei 2026, atau bertepatan dengan 7 Zulhijah 1447 Hijriah, sebagian jemaah haji asal Indonesia telah mulai bergerak meninggalkan pemondokan mereka. Tujuan mereka adalah kawasan Mina, sebuah wilayah berlembah yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari Masjidilharam. Pergerakan awal ini dilakukan untuk melaksanakan ibadah mabit atau bermalam pada Hari Tarwiyah.

Berdasarkan laporan visual dari tim Media Center Haji (MCH) Kementerian Agama Republik Indonesia melalui saluran komunikasi resmi, armada bus yang membawa jemaah dengan pakaian ihram putih mulai memadati jalur-jalur utama kota Makkah yang mengarah ke Mina. Kepadatan lalu lintas ini terus bertahan sejak Minggu sore hingga memasuki waktu dini hari waktu Arab Saudi. Kontras dengan pergerakan reguler, mobilisasi pada 7 Zulhijah ini didominasi oleh kelompok-kelompok jemaah yang bergerak atas inisiatif sendiri.

Di kawasan Syisyah, salah satu titik konsentrasi pemondokan jemaah Indonesia, antrean panjang terlihat di depan hotel-hotel. Para jemaah tampak tertib menunggu giliran untuk menaiki bus yang disewa secara mandiri oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) atau rombongan mereka. Langkah mendahului pergerakan ini diambil agar proses mabit di Mina dapat terlaksana sebelum jalur transportasi ditutup total untuk persiapan logistik wukuf.

Hari Tarwiyah yang jatuh pada 8 Zulhijah merupakan tradisi napak tilas spiritual yang bersumber dari amalan sunah Nabi Muhammad. Pada hari tersebut, para jemaah haji dianjurkan untuk memperbanyak zikir, membaca talbiyah, dan melaksanakan salat lima waktu secara qasar tanpa jamak di dalam tenda-tenda Mina. Momentum ini dinamakan Tarwiyah yang berarti mengairi atau memberi minum, karena pada masa klasik, hari ini digunakan oleh jemaah untuk mengumpulkan pasokan air bersih sebagai bekal perjalanan panjang menuju Padang Arafah pada hari berikutnya.

Dilema Regulasi dan Prosedur Mandiri

Meskipun memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat, pemerintah Indonesia tidak memasukkan Hari Tarwiyah ke dalam struktur program pelayanan haji reguler. Musyrif Diny Haji 2026, KH Haris Muslim, memberikan penjelasan resmi mengenai kebijakan ini melalui siaran pers yang dipublikasikan di akun media sosial resmi Kementerian Agama. Haris menegaskan bahwa kebijakan operasional pemerintah menetapkan jadwal pemberangkatan massal jemaah haji Indonesia dilakukan langsung dari hotel di Makkah menuju Padang Arafah pada pagi hari tanggal 8 Zulhijah untuk persiapan wukuf.

Karena tidak termasuk dalam skema pelayanan standar, jemaah yang memilih untuk menjalankan sunah Tarwiyah diwajibkan untuk mengurus seluruh akomodasi dan transportasi secara mandiri. Pemerintah tidak memfasilitasi penyediaan bus maupun konsumsi tambahan selama proses mabit awal di Mina tersebut. Jemaah atau KBIHU yang bersangkutan harus mendaftarkan diri secara resmi kepada syarikah atau perusahaan maktab penyedia layanan di Arab Saudi.

Selain urusan logistik, faktor administratif juga menjadi aspek perlindungan yang ketat. PPIH mewajibkan setiap jemaah yang berangkat Tarwiyah untuk memberikan laporan tertulis kepada pihak sektor dan ketua kelompok terbang (kloter) masing-masing. Prosedur pelaporan ini sangat krusial agar posisi dan jumlah jemaah tetap terpantau dalam sistem pengawasan data nasional, mengingat esok harinya mereka harus segera bergabung dengan jutaan jemaah lain di Arafah.

Skema waktu pergerakan jemaah Tarwiyah sengaja didorong lebih cepat, yaitu sejak sore dan malam hari pada 7 Zulhijah. Pengaturan linimasa ini bertujuan untuk menghindari benturan fisik dan kemacetan total dengan armada bus reguler. Menurut Haris Muslim, pada tanggal 8 Zulhijah pagi, seluruh unit bus maktab akan difokuskan penuh untuk melakukan penjemputan massal jemaah reguler dari Makkah langsung menuju Arafah. Jika jemaah Tarwiyah terlambat bergerak, mereka berisiko terjebak di antara dua arus massa yang bertolak belakang.

Manajemen Risiko Fisik di Tengah Suhu Ekstrem

Keputusan untuk melaksanakan Tarwiyah membawa konsekuensi fisik yang berat. Tantangan utama yang dihadapi jemaah bukan hanya masalah kepadatan ruang di Mina, melainkan juga faktor iklim makro di Jazirah Arab selama musim haji 2026. Data meteorologi lokal menunjukkan paparan suhu udara di kawasan Makkah dan sekitarnya berada pada tingkat yang sangat tinggi. Kondisi ini menuntut ketahanan tubuh yang prima dari setiap individu yang berada di luar ruangan.

Studi ilmiah mengenai manajemen risiko kesehatan haji, seperti yang tertuang dalam buku Manajemen Kesehatan Haji Indonesia (2021) karya Sukmana dkk., menyebutkan bahwa akumulasi kelelahan fisik sebelum fase wukuf di Arafah merupakan pemicu utama munculnya kasus kedaruratan medis pada jemaah usia lanjut. Berjalan kaki atau berdesakan di area terbuka saat Tarwiyah dapat menguras cadangan cairan tubuh secara drastis, yang berpotensi menyebabkan heat stroke atau serangan sengatan panas.

Menyikapi potensi bahaya tersebut, PPIH mengeluarkan instruksi keras terkait tata cara mobilisasi. Pemerintah melarang keras jemaah melakukan perjalanan Tarwiyah secara perorangan atau mandiri tanpa kepengurusan kelompok yang jelas. Pergerakan individu tanpa koordinasi dinilai sangat membahayakan keselamatan jiwa karena tidak didukung oleh tim pemandu dan ketiadaan posko medis mandiri di sepanjang jalur perlintasan menuju tenda Mina pada hari tersebut.

Haris Muslim menegaskan bahwa koordinasi kelompok (KBIHU) adalah batas aman yang minimal. Jemaah diminta untuk tidak memisahkan diri dari rombongan, selalu menggunakan alat pelindung diri dari sengatan matahari, dan memastikan asupan air minum tetap terjaga. Petugas haji yang tersebar di wilayah sektor terus melakukan patroli guna menyisir jemaah yang kebingungan atau mengalami kendala fisik di jalanan.

Teologi Kemudahan di Tengah Kepadatan Massa

Secara fikih ibadah, pelaksanaan Tarwiyah kedudukannya adalah sunah dan bukan bagian dari rukun atau wajib haji yang jika ditinggalkan dapat membatalkan keabsahan haji atau mengharuskan pembayaran dam (denda). Keabsahan ibadah haji seorang Muslim sepenuhnya bertumpu pada kehadiran mereka di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah. Landasan hukum ini bersumber dari hadis sahih riwayat Tirmidzi, di mana Nabi Muhammad menegaskan: Al-Hajju 'Arafah. Artinya: Inti dari ibadah haji itu adalah wukuf di Arafah.

Oleh sebab itu, dalam konteks fikih kontemporer, para ulama sering kali menekankan pentingnya prinsip taysir atau kemudahan dalam ibadah, terutama ketika dihadapkan pada situasi kepadatan massa yang mengancam keselamatan jiwa. Pakar hukum Islam, KH Ahmad Azhar Basyir, dalam kajiannya mengenai fiqh haji, menyebutkan bahwa menjaga keselamatan jiwa (hifzhun nafs) memiliki tingkatan hukum yang lebih tinggi dan wajib diutamakan daripada mengejar amalan yang bersifat sunah namun mendatangkan kemudaratan fisik yang nyata.

Kebijakan pemerintah Indonesia yang langsung mengarahkan jemaah menuju Arafah didasarkan pada pertimbangan kemaslahatan publik tersebut. Dengan jumlah kuota jemaah Indonesia yang mencapai ratusan ribu orang, mobilisasi langsung ke Arafah dinilai sebagai skema paling aman untuk menekan angka kesakitan dan kematian jemaah, khususnya bagi kelompok risiko tinggi dan lanjut usia.

Kendati demikian, bagi jemaah yang memiliki kesiapan fisik matang dan memilih jalur Tarwiyah, kepatuhan terhadap sistem manajemen keselamatan mutlak diperlukan. Disiplin dalam mengikuti arahan petugas, tidak memaksakan diri berjalan kaki dalam jarak jauh di bawah terik matahari, serta kesiapan logistik mandiri menjadi kunci agar amalan sunah ini tidak berubah menjadi petaka medis sebelum rukun utama haji dimulai.

Pemberitahuan berkala terus disiarkan oleh PPIH melalui berbagai kanal komunikasi, termasuk aplikasi digital haji, agar jemaah yang saat ini berada di Mina tetap memprioritaskan istirahat yang cukup. Energi yang tersisa harus disimpan dengan baik untuk menghadapi puncak ibadah sesungguhnya, yaitu wukuf di Arafah pada esok hari, yang disusul dengan mabit di Muzdalifah dan melempar jumrah di Mina pada hari-hari berikutnya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 25 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)