home masjid

Kolom Ngabuburit Senja: Ashabiyah Modern

Selasa, 25 Maret 2025 - 17:40 WIB
Kolom Ngabuburit Senja: Ashabiyah Modern
LANGIT7.ID-Pada suatu periode, di masa silam, ketika ghirahIslam membuncah, ada hal yang sangat mengganggu pikiran. Narasinya cukup simpel tapi berputar-putar di pikiran, yakni ashabiyah, berjuang atau fanatisme demi kelompok. Bersumber dari hadits nabi, antara lain berbunyi: “…Siapa saja yang terbunuh di bawah panji buta, dia marah karena ashabiyah, atau berperang untuk ashabiyah atau menyerukan ashabiyah, maka dia mati jahiliah” (HR Ahmad).



Secara global, ashabiyah menyangkut golongan, kesukuan, kedaerahan, hingga negara (nasionalisme). Saya melihat, dalam kadar tertentu persoalan ashabiyahdiposisikan vis a vis, berhadap-hadapan, dibenturkan, menggunakan cara pandang oposisi biner antara nasionalisme dan Islam. Semangat nasionalisme, Garuda di dadaku, Merah-Putih di sanubariku, cinta tanah air, dianggap atau direduksi sebagai bentuk ashabiyah.

Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Poligami: Pembatasan Bukan Pembebasan



Untuk masuk ke sana, kita perlu melihat kondisi sosiopolitik di tanah Arab sebagai “tanah kelahiran” Islam. Di Arab, kekuatan berada di kabilah-kabilah (klan). Di Mekkah, Quraisy saja memiliki banyak kabilah, seperti Bani Hasyim (merupakan marga Nabi Muhammad), Bani Taim, Bani ‘Adi, Bani Makhzum, Bani Abdus Syam, Bani Al-Muthalib, Bani Abd’d-Dar, Bani Naufal, dan lain-lain. Di Madinah, ada Bani Aus, Bani Khazraj, juga ada kelompok Yahudi seperti Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Rivalitas di antara kelompok-kelompok itu sangat keras. Rebutan kekuasaan, tentunya dengan kekerasan, menjadi jalan penaklukan dalam tradisi masyarakat gurun. Mereka berjuang mati-matian mempertahankan kelompoknya.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya