Persepsi Al-Quran tentang Kristen Menurut William Montgomery Watt
Miftah yusufpati
Rabu, 30 April 2025 - 06:37 WIB
William Montgomery Watt. Foto: AP
LANGIT7.ID-William Montgomery Watt mengatakan secara umum persepsi Al-Qur'an tentang agama-agama lain di luar Islam, khususnya Yahudi dan Kristen, tak pelak lagi, tergantung atas tingkatan pemahaman historis mutakhir di Makkah dan letak Arabia sekitar tahun 600 Masehi.
"Tingkatan pemahaman ini jelas-jelas bersifat mendasar bagi persepsi tersebut," William Montgomery Watt dalam bukunya yang diterjemahkan Zaimudin berjudul "Titik Temu Islam dan Kristen, Persepsi dan Salah Persepsi" (Gaya Media Pratama Jakarta, 1996).
Menurutnya, Bangsa Arab tidak mempunyai dokumen sejarah tertulis. Ada beberapa prasasti dari kerajaan-kerajaan terdahulu, namun apabila orang dapat membacanya masih diragukan karena masih tetap kurang mengapresiasikan signifikansinya.
"Jadi bagi bangsa Arab, sejarah itu tergantung kepada tradisi oral dari mulut ke mulut," katanya.
Mereka mengetahui sesuatu dalam sejarah kesukuan dan klen-klen mereka berkenaan dengan sebagian kecil generasi sebelumnya. Akan tetapi kebanyakan sejarah suku-suku Arab ini berupa bagaimana suku-suku ini tumbuh-kembang pada kekuasaan lewat satu pemimpin terkemuka atau lebih, kemudian menjadi makin kuat selama satu atau dua generasi, lalu kembali lagi tidak menunjukkan peran signifikansinya.
Baca juga: Kristen Dipertemukan Islam, Montgomery Watt: Kristen Dulu Sungguh Amat Berbeda
Arti kesementaraan komunitas-komunitas manusia kemungkinan dapat diperteguh oleh pengamatan tempat-tempat yang satu saat dapat ditempati dalam waktu sekejap dan tidak tetap.
"Tingkatan pemahaman ini jelas-jelas bersifat mendasar bagi persepsi tersebut," William Montgomery Watt dalam bukunya yang diterjemahkan Zaimudin berjudul "Titik Temu Islam dan Kristen, Persepsi dan Salah Persepsi" (Gaya Media Pratama Jakarta, 1996).
Menurutnya, Bangsa Arab tidak mempunyai dokumen sejarah tertulis. Ada beberapa prasasti dari kerajaan-kerajaan terdahulu, namun apabila orang dapat membacanya masih diragukan karena masih tetap kurang mengapresiasikan signifikansinya.
"Jadi bagi bangsa Arab, sejarah itu tergantung kepada tradisi oral dari mulut ke mulut," katanya.
Mereka mengetahui sesuatu dalam sejarah kesukuan dan klen-klen mereka berkenaan dengan sebagian kecil generasi sebelumnya. Akan tetapi kebanyakan sejarah suku-suku Arab ini berupa bagaimana suku-suku ini tumbuh-kembang pada kekuasaan lewat satu pemimpin terkemuka atau lebih, kemudian menjadi makin kuat selama satu atau dua generasi, lalu kembali lagi tidak menunjukkan peran signifikansinya.
Baca juga: Kristen Dipertemukan Islam, Montgomery Watt: Kristen Dulu Sungguh Amat Berbeda
Arti kesementaraan komunitas-komunitas manusia kemungkinan dapat diperteguh oleh pengamatan tempat-tempat yang satu saat dapat ditempati dalam waktu sekejap dan tidak tetap.