Inspiratif, Santri Usia 5 Tahun Setor Hafalan Juz 30 Sekali Duduk
Muhajirin
Rabu, 29 September 2021 - 14:14 WIB
Adzkar Abqory Sakhyan (5) saat menyetorkan hafalan juz 30 (foto: SHQ)
Suaranya masih imut, seimut wajahnya yang masih berusia 5 tahun. Namun ia bukan bocah biasa. Semenjak bergabung bersama Sekolah Hafizh Qur’an (SHQ) pada 2020 lalu, ia berhasil menghafal juz 30. Itu prestasi yang sangat luas biasa.
Namanya Adzkar ‘Abqory Sakhyan, putra dari Arfan Ilman Laduni dan Hilwati. Kecil-kecil sudah menghafal Al-Qur’an. Kalimat itu secara otomatis membuat decak kagum. Terlebih ia bukan berasal dari keluarga penghafal Al-Qur’an. Ia lahir di tengah metropolitan Jakarta pada 22 Desember 2016 silam.
Baca Juga: Agar Anak Jadi Hafidz, Akrabkan Ia dengan Al-Qur'an Sejak Dini
“Dia santri SHQ berusia 5 tahun mampu simaan juz 30 sekali duduk. Sangat inspiratif karena dia tidak mondok layaknya santri pada umumnya. Satu lagi, dia santri ‘corona’,” kata Ustadz Pembimbing Adzkar di SHQ, Bayu Al-Khudry, kepada LANGIT7.ID, Rabu (29/9/2021).
Tak hanya itu, Adzkar mampu membuktikan pembelajaran daring tak selamanya berdampak negatif bagi anak. Kolaborasi antara guru dan dan orang tua menjadi kunci. Guru memberikan arahan, kemudian orang tua mendampingi dengan penuh kasih sayang.
Namanya Adzkar ‘Abqory Sakhyan, putra dari Arfan Ilman Laduni dan Hilwati. Kecil-kecil sudah menghafal Al-Qur’an. Kalimat itu secara otomatis membuat decak kagum. Terlebih ia bukan berasal dari keluarga penghafal Al-Qur’an. Ia lahir di tengah metropolitan Jakarta pada 22 Desember 2016 silam.
Baca Juga: Agar Anak Jadi Hafidz, Akrabkan Ia dengan Al-Qur'an Sejak Dini
“Dia santri SHQ berusia 5 tahun mampu simaan juz 30 sekali duduk. Sangat inspiratif karena dia tidak mondok layaknya santri pada umumnya. Satu lagi, dia santri ‘corona’,” kata Ustadz Pembimbing Adzkar di SHQ, Bayu Al-Khudry, kepada LANGIT7.ID, Rabu (29/9/2021).
Tak hanya itu, Adzkar mampu membuktikan pembelajaran daring tak selamanya berdampak negatif bagi anak. Kolaborasi antara guru dan dan orang tua menjadi kunci. Guru memberikan arahan, kemudian orang tua mendampingi dengan penuh kasih sayang.