John L. Esposito: Apa yang Dibawa Nabi Muhammad Lebih dari Sekadar Sintesis
Miftah yusufpati
Kamis, 15 Mei 2025 - 05:45 WIB
John Louis Esposito. Foto: Lehigh
LANGIT7.ID-Hijrah atau perpindahan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah, memiliki makna yang sangat penting, baik secara religius maupun historis. Peristiwa ini menandai lahirnya masyarakat Islam dan menjadi awal penanggalan dalam sejarah Islam.
"Hijrah mencerminkan perubahan besar dari era penyembahan berhala pra-Islam menuju kehidupan yang berpusat pada Tuhan, di mana ikatan kesukuan digantikan oleh keanggotaan dalam umat yang disatukan oleh iman," tulis John L. Esposito dalam bukunya berjudul "The Islamic Threat: Myth or reality?" yang dalam edisi Indonesia menjadi "Ancaman Islam Mitos atau Realitas" (Mizan).
Masyarakat Madinah saat itu terdiri dari berbagai klan, termasuk beberapa kelompok Yahudi. Dalam waktu singkat, Nabi Muhammad berhasil mengonsolidasikan kekuasaan dan mengajak keluarga-keluarga penyembah berhala untuk memeluk Islam. Beliau kemudian bukan hanya berperan sebagai Rasul, tetapi juga sebagai pemimpin masyarakat.
Dalam Islam, tidak dikenal pemisahan antara agama dan negara, antara kehidupan spiritual dan sosial. Prinsip ini tercermin dalam ayat Al-Qur’an: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya.”
Nabi Muhammad tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga merespons dinamika sosial umat. Beliau mengatur urusan kenegaraan, memimpin secara politik dan militer, menjadi hakim, serta pembaru masyarakat.
Dalam Islam, agama menyatu dalam struktur kehidupan dan kepemimpinan sosial, memberi pedoman dalam ibadah kepada Tuhan dan tanggung jawab terhadap masyarakat. Seorang Muslim diharapkan tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Madinah menjadi contoh nyata hubungan integral antara agama dan negara dalam Islam—sebuah idealisme yang terus memengaruhi pembentukan masyarakat Islam hingga kini.
"Hijrah mencerminkan perubahan besar dari era penyembahan berhala pra-Islam menuju kehidupan yang berpusat pada Tuhan, di mana ikatan kesukuan digantikan oleh keanggotaan dalam umat yang disatukan oleh iman," tulis John L. Esposito dalam bukunya berjudul "The Islamic Threat: Myth or reality?" yang dalam edisi Indonesia menjadi "Ancaman Islam Mitos atau Realitas" (Mizan).
Masyarakat Madinah saat itu terdiri dari berbagai klan, termasuk beberapa kelompok Yahudi. Dalam waktu singkat, Nabi Muhammad berhasil mengonsolidasikan kekuasaan dan mengajak keluarga-keluarga penyembah berhala untuk memeluk Islam. Beliau kemudian bukan hanya berperan sebagai Rasul, tetapi juga sebagai pemimpin masyarakat.
Dalam Islam, tidak dikenal pemisahan antara agama dan negara, antara kehidupan spiritual dan sosial. Prinsip ini tercermin dalam ayat Al-Qur’an: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya.”
Nabi Muhammad tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga merespons dinamika sosial umat. Beliau mengatur urusan kenegaraan, memimpin secara politik dan militer, menjadi hakim, serta pembaru masyarakat.
Dalam Islam, agama menyatu dalam struktur kehidupan dan kepemimpinan sosial, memberi pedoman dalam ibadah kepada Tuhan dan tanggung jawab terhadap masyarakat. Seorang Muslim diharapkan tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Madinah menjadi contoh nyata hubungan integral antara agama dan negara dalam Islam—sebuah idealisme yang terus memengaruhi pembentukan masyarakat Islam hingga kini.