Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 11 Februari 2026
home edukasi & pesantren detail berita

John L. Esposito: Apa yang Dibawa Nabi Muhammad Lebih dari Sekadar Sintesis

miftah yusufpati Kamis, 15 Mei 2025 - 05:45 WIB
John L. Esposito: Apa yang Dibawa Nabi Muhammad Lebih dari Sekadar Sintesis
John Louis Esposito. Foto: Lehigh
LANGIT7.ID-Hijrah atau perpindahan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah, memiliki makna yang sangat penting, baik secara religius maupun historis. Peristiwa ini menandai lahirnya masyarakat Islam dan menjadi awal penanggalan dalam sejarah Islam.

"Hijrah mencerminkan perubahan besar dari era penyembahan berhala pra-Islam menuju kehidupan yang berpusat pada Tuhan, di mana ikatan kesukuan digantikan oleh keanggotaan dalam umat yang disatukan oleh iman," tulis John L. Esposito dalam bukunya berjudul "The Islamic Threat: Myth or reality?" yang dalam edisi Indonesia menjadi "Ancaman Islam Mitos atau Realitas" (Mizan).

Masyarakat Madinah saat itu terdiri dari berbagai klan, termasuk beberapa kelompok Yahudi. Dalam waktu singkat, Nabi Muhammad berhasil mengonsolidasikan kekuasaan dan mengajak keluarga-keluarga penyembah berhala untuk memeluk Islam. Beliau kemudian bukan hanya berperan sebagai Rasul, tetapi juga sebagai pemimpin masyarakat.

Dalam Islam, tidak dikenal pemisahan antara agama dan negara, antara kehidupan spiritual dan sosial. Prinsip ini tercermin dalam ayat Al-Qur’an: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya.”

Nabi Muhammad tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga merespons dinamika sosial umat. Beliau mengatur urusan kenegaraan, memimpin secara politik dan militer, menjadi hakim, serta pembaru masyarakat.

Dalam Islam, agama menyatu dalam struktur kehidupan dan kepemimpinan sosial, memberi pedoman dalam ibadah kepada Tuhan dan tanggung jawab terhadap masyarakat. Seorang Muslim diharapkan tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Madinah menjadi contoh nyata hubungan integral antara agama dan negara dalam Islam—sebuah idealisme yang terus memengaruhi pembentukan masyarakat Islam hingga kini.

Nabi Muhammad memegang peran eksekutif, yudikatif, dan legislatif sebagai kepala negara. Beliau mengurus urusan dalam dan luar negeri, militer, perpajakan, dan menyelesaikan perselisihan masyarakat.

Umat Islam tidak hanya dituntut menaati perintah Tuhan, tetapi juga menyebarkannya. Dalam menjalankan misinya, Nabi menggabungkan kekuatan militer dengan diplomasi.

Ia kembali ke Makkah dengan kemenangan, dan sebelum wafat pada tahun 632 Masehi, telah berhasil menyatukan berbagai suku di Jazirah Arab.

Apa yang dibawa Nabi Muhammad lebih dari sekadar sintesis atau penafsiran atas agama dan budaya yang telah ada (Arab, Yahudi, Kristen).

Ia menciptakan tatanan masyarakat baru yang religiopolitik—masyarakat yang berakar pada dan disatukan oleh visi keagamaan. Tradisi dan lembaga lama tetap digunakan, tetapi disesuaikan dengan norma-norma Islam. Lahir pula cita baru mengenai identitas, solidaritas, komunitas, dan otoritas.

Inti dari gerakan ini adalah “agama baru”—pemahaman khusus tentang makna dan implikasi visi monoteistik Islam: keesaan Tuhan yang transenden dan Mahakuasa; kehendak-Nya yang mengatur kehidupan pribadi dan sosial; keharusan untuk tunduk kepada kehendak tersebut; serta peran setiap Muslim untuk merealisasikan dan menyebarkan hukum Tuhan. Keyakinan akan kesempurnaan wahyu Al-Qur’an dan bahwa Muhammad adalah Rasul terakhir menjadi fondasi utama.

Visi inilah yang mengubah masyarakat Arab dan membawa dampak besar dalam sejarah serta peradaban dunia.

Profesor Agama

John Louis Esposito adalah seorang akademisi Amerika, profesor dari Timur Tengah dan studi agama, dan sarjana dari studi Islam.

Orientalis kelahiran 19 Mei 1940 ini menjabat sebagai Profesor Agama, Urusan Internasional, dan Kajian Islam di Georgetown University di Washington, DC. Dia juga direktur pendiri Pusat Pangeran Alwaleed untuk Pemahaman Muslim–Kristen di Georgetown.

John Louis Esposito dikenal sebagai seorang pengamat Islam atau ―Islamisis yang netral dan relatif proporsional- sebagai pembedaan dengan Orientalis- terkemuka di Barat.

Esposito juga dikenal sebagai salah seorang cendekiawan yang sangat aktif menyuarakan dialog peradaban, dialog antarumat beragama, terutama antara Islam dan Kristen.

Ia juga dikenal sebagai penulis yang sangat produktif sekaligus kritis terhadap kajian yang dilakukan oleh para pakar Islam di Barat dan telah melahirkan puluhan karya baik dalam bentuk buku, ratusan artikel, penelitian tentang Islam yang menjadi referensi penting bagi sarjana Muslim dan Barat pada umumnya.

Beberapa karya terpenting Esposito adalah buku The Islamic Threat: Myth or Reality, Dalam buku ini, Esposito mengambil sikap yang berbeda dengan pakar keislaman di Barat dalam melihat kebangkitan Islam dan membantah teori para pakar Islam di Barat yang menyatakan Islam sebagai ancaman baru pasca tumbangnya komunisme yang dibesar-besarkan para pakar dan dilestarikan oleh media-media di Barat.

Karya terpenting lainnya adalah, Islam: The Straight Path, Unholy War: Terror in the Name of Islam dan The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World.

Posisi Esposito seringkali diterjemahkan berbagai kalangan sebagai juru bicara Islam dan Barat mengajak untuk selalu bekerja sama dan tidak tenggelam dalam konflik peradaban.

Oleh karena itu, menurut Esposito bahwa saat ini perjumpaan Islam dan Barat harus dimaknai membangun dialog peradaban, bukan konfrontasi atau saling curiga.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 11 Februari 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
12:10
Ashar
15:25
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan