Menyiasati Hambatan-Hambatan Belajar Daring di Tengah Pandemi
Muhajirin
Selasa, 13 Juli 2021 - 11:37 WIB
ilustrasi seorang muslimah sedang belajar daring (foto: langit7.id/istock)
Belajar daring mau tidak mau menjadi pilihan pada masa pandemi Covid-19, tidak ada cara lain. Sudah satu tahun lebih dunia pendidikan tidak diwarnai riuh bocah-bocah berseragam di kelas. Keputusan itu menjadi pilihan berat, mengingat proses transfer ilmu dari guru ke murid membutuhkan interaksi. Daring bisa melihat dan mendengar, sebatas itu. Sementara aspek lain terlebih intensitas interaksi banyak berkurang.
Co-Founder GreatEdu, Ade Irma Setyanegara, berbagi cerita dengan LANGIT7.ID terkait efektivitas belajar daring di tengah pandemi. Ia menilai belajar daringjadi hambatan karena kondisi siswa yang berbeda-beda, sehingga efektivitas tentu sangat bergantung diantaranya pada kondisi keluarga anak yang bersangkutan.
Dia menyampaikan sebuah riset yang menyebut anak dari pekerja serabutan tidak efektif belajar daring. Ini berbeda dengan anak dari orang tua PNS atau orang berduit. Minimal sang anak memiliki asisten untuk mendampingi selama proses belajar daring.
“Karena anak belajar (daring) tidak didampingi itu tidak efektif, Kecuali anak itu memiliki keinginan belajar tinggi. Jadi dari segi efektifitas sangat tidak menjadi kualitas pendidikan,” kata Ade Irma melalui sambungan telepon, pekan lalu.
Masalah serupa tak hanya dialami oleh murid saja, para guru pun merasakan hal demikian. Perkembangan teknologi yang pesat dan berdampak pada kebijakan sekolah daring pada masa pandemi. Sementara tidak semua guru mampu mengendalikan gawai atau pun perangkat pendukung lain seperti laptop dan notebook. Terlebih guru yang berada di luar pulau Jawa, apalagi mereka yang tinggal di pelosok.
“Makanya kita sering lihat, ada guru yang mendatangi muridnya untuk belajar. Fenomena seperti itu menunjukkan online tidak bisa otomatis diterapkan di seluruh Indonesia,” kata Ade Irma.
Daring memang tak bisa dihindari, maka manusia sebagai makhluk inovatif tentu harus mampu menyiasati keadaan. Ade Irma mengatakan, ada banyak cara untuk menyiasati. Misalnya bagi anak yang bosan sekolah daring bisa mencoba mendekorasi ruangan agar nyaman atau mengubah cara belajar dalam bentuk podcast.
Co-Founder GreatEdu, Ade Irma Setyanegara, berbagi cerita dengan LANGIT7.ID terkait efektivitas belajar daring di tengah pandemi. Ia menilai belajar daringjadi hambatan karena kondisi siswa yang berbeda-beda, sehingga efektivitas tentu sangat bergantung diantaranya pada kondisi keluarga anak yang bersangkutan.
Dia menyampaikan sebuah riset yang menyebut anak dari pekerja serabutan tidak efektif belajar daring. Ini berbeda dengan anak dari orang tua PNS atau orang berduit. Minimal sang anak memiliki asisten untuk mendampingi selama proses belajar daring.
“Karena anak belajar (daring) tidak didampingi itu tidak efektif, Kecuali anak itu memiliki keinginan belajar tinggi. Jadi dari segi efektifitas sangat tidak menjadi kualitas pendidikan,” kata Ade Irma melalui sambungan telepon, pekan lalu.
Masalah serupa tak hanya dialami oleh murid saja, para guru pun merasakan hal demikian. Perkembangan teknologi yang pesat dan berdampak pada kebijakan sekolah daring pada masa pandemi. Sementara tidak semua guru mampu mengendalikan gawai atau pun perangkat pendukung lain seperti laptop dan notebook. Terlebih guru yang berada di luar pulau Jawa, apalagi mereka yang tinggal di pelosok.
“Makanya kita sering lihat, ada guru yang mendatangi muridnya untuk belajar. Fenomena seperti itu menunjukkan online tidak bisa otomatis diterapkan di seluruh Indonesia,” kata Ade Irma.
Daring memang tak bisa dihindari, maka manusia sebagai makhluk inovatif tentu harus mampu menyiasati keadaan. Ade Irma mengatakan, ada banyak cara untuk menyiasati. Misalnya bagi anak yang bosan sekolah daring bisa mencoba mendekorasi ruangan agar nyaman atau mengubah cara belajar dalam bentuk podcast.