home edukasi & pesantren

Ketika Cendekiawan Muslim Mulai Mempelajari Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Yunani

Kamis, 22 Mei 2025 - 16:01 WIB
Sejarah pemikiran Islam teologi rasional yang dipelopori oleh kaum Mutazilah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Tatkala datang ke Timur Tengah pada abad keempat sebelum Masehi, Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi juga kaum sipil. Tujuannya bukanlah semata-mata meluaskan wilayah kekuasaannya ke luar Makedonia, tetapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya.

"Untuk itu, ia mengadakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya dengan penduduk setempat," tulis Filsuf, Prof Dr Harun Nasution (1919-1998) dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" Bab "Filsafat Islam".

Dengan cara demikian, katanya, berkembanglah filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah, dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani seperti Iskandariah (dari nama Aleksander) di Mesir, Antakia di Suriah, Selopsia serta Jundisyapur di Irak, dan Baktra (sekarang Balkh) di Iran.

Menurut Harun, ketika para sahabat Nabi Muhammad menyampaikan dakwah Islam ke daerah-daerah tersebut, terjadi peperangan antara kekuatan Islam dan kekuatan Kerajaan Bizantium di Mesir, Suriah serta Irak, dan kekuatan Kerajaan Persia di Iran.

Daerah-daerah ini, setelah kekuatan Islam menang dalam peperangan tersebut, jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Akan tetapi penduduknya, sesuai dengan ajaran Al-Qur’an bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa kewajiban umat Islam hanyalah menyampaikan ajaran-ajaran yang dibawa Nabi, tidak dipaksa para sahabat untuk memeluk Islam. Mereka tetap memeluk agama mereka semula, terutama yang menganut agama Nasrani dan Yahudi.

Baca juga: Profil Singkat KH Said Aqil Siradj, Sosok Muslim Cerdas di Bidang Filsafat Islam

Dari warga negara non-Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan Islam dan oleh karena itu ingin menjatuhkan Islam.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya