Tragedi 1965 Beri Pelajaran, Komunisme dan Pancasila Tak Mungkin Bersatu
Ahmad zuhdi
Kamis, 30 September 2021 - 15:40 WIB
Lambang Negara Republik Indonesia, Burung Garuda. Foto: Langit7.id/iStock
Tanggal 30 September merupakan momen peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia yang selalu dikenang setiap tahunnya. Pasalnya, pada 1965 bangsa Indonesia mengalami peristiwa kelam atas kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memusuhi hingga membunuh ummat Islam.
Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag Muhammad Fuad Nasar menuturkan, tragedi 1965 memberi pelajaran bahwa komunisme dan Pancasila tidak dapat dipersatukan. Sama seperti halnya agama yang mengajarkan percaya kepada Allah dan paham komunis sejatinya bertentangan secara diametral.
Baca Juga:Kisah Anak-Anak Eks PKI yang Kini Jadi Ustadz dan Imam Masjid
"Bagi bangsa Indonesia, agama dan kekuatan umat beragama yang solid adalah benteng Pancasila dalam menghadapi rongrongan ideologi Komunis. Pasca G30S/PKI atau Gestapu, pemerintah menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila," kata Fuad dalam keterangannya, Kamis (30/9/2021).
Menurutnya, kesetiaan pada Pancasila sebagai dasar filsafat negara harus dibuktikan dalam tindakan dan kebijakan. Lima sila yang membentuk susunan Pancasila sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia dan ideologi pemersatu bangsa haruslah diamalkan secara murni dan konsekuen sehingga menjadi karakter bernegara.
"Perdebatan dan klaim kebenaran seputar peristiwa kelam tragedi 1965 tak pernah habisnya. Saya kira ada pesan yang lebih penting dan relevan untuk dimaknai bagi perjalanan bangsa dan negara kita ke depan, yaitu pidato bersejarah Jenderal TNI Dr. A.H. Nasution di Mabes AD pada 5 Oktober 1965 sewaktu melepas jenazah tujuh pahlawan revolusi yang ditemukan di Lubang Buaya," katanya.
Baca Juga:Masjid Jogokariyan Gelar Layar Tanjep Nonton Bareng Film G30S PKI
Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag Muhammad Fuad Nasar menuturkan, tragedi 1965 memberi pelajaran bahwa komunisme dan Pancasila tidak dapat dipersatukan. Sama seperti halnya agama yang mengajarkan percaya kepada Allah dan paham komunis sejatinya bertentangan secara diametral.
Baca Juga:Kisah Anak-Anak Eks PKI yang Kini Jadi Ustadz dan Imam Masjid
"Bagi bangsa Indonesia, agama dan kekuatan umat beragama yang solid adalah benteng Pancasila dalam menghadapi rongrongan ideologi Komunis. Pasca G30S/PKI atau Gestapu, pemerintah menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila," kata Fuad dalam keterangannya, Kamis (30/9/2021).
Menurutnya, kesetiaan pada Pancasila sebagai dasar filsafat negara harus dibuktikan dalam tindakan dan kebijakan. Lima sila yang membentuk susunan Pancasila sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia dan ideologi pemersatu bangsa haruslah diamalkan secara murni dan konsekuen sehingga menjadi karakter bernegara.
"Perdebatan dan klaim kebenaran seputar peristiwa kelam tragedi 1965 tak pernah habisnya. Saya kira ada pesan yang lebih penting dan relevan untuk dimaknai bagi perjalanan bangsa dan negara kita ke depan, yaitu pidato bersejarah Jenderal TNI Dr. A.H. Nasution di Mabes AD pada 5 Oktober 1965 sewaktu melepas jenazah tujuh pahlawan revolusi yang ditemukan di Lubang Buaya," katanya.
Baca Juga:Masjid Jogokariyan Gelar Layar Tanjep Nonton Bareng Film G30S PKI