Menghitung Hilal, Mencari Kesatuan: Mengapa NU dan Muhammadiyah Berbeda?
Miftah yusufpati
Jum'at, 30 Mei 2025 - 05:45 WIB
Jika satu bulan bisa menyatukan dua miliar umat, maka hilal bukan hanya cahaya di ufuk. Ilustrasi: Muhammadiyah
LANGIT7.ID-Kalender Hijriah Global Tunggal digagas demi menyatukan umat Islam. Tapi di langit yang sama, rukyat dan hisab tetap bersilang jalan.
Senja baru saja beringsut dari langit Kota Surakarta ketika Ruswa Darsono menyesap teh di teras rumahnya. Langit barat berpendar jingga. Di sanalah, dalam lipatan cahaya langit itu, umat Islam menggantungkan awal dan akhir ibadah puasa. Tapi, tahun ini, bulan sabit di ufuk tak hanya menandai 1 Syawal. Ia juga kembali menyibakkan perbedaan yang belum reda.
“Wujudul hilal dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sama-sama punya dasar kuat. Tapi kita belum bisa lari dari yang satu ke yang lain begitu saja,” ujar Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Tengah Jumat, 25 April lalu.
KHGT, gagasan yang dirancang sejak 1978 dan dikokohkan melalui forum Istanbul 2016, bertujuan sederhana tapi ambisius: menyatukan penanggalan Islam di seluruh dunia. Satu kalender, satu umat, satu hari raya. Tapi pada Lebaran 1446 Hijriah yang baru lewat, mimpi itu masih sebatas visi. Bahkan Muhammadiyah—yang sejak Musyawarah Nasional Tarjih ke-32 di Pekalongan 2024 telah menyatakan menerima KHGT, masih menetapkan Idulfitri berdasarkan hisab wujudul hilal.
KHGT dan wujudul hilal ibarat dua jendela pada langit yang sama. Yang satu menggunakan prinsip imkanur rukyah global, jika hilal terlihat di satu titik di bumi, seluruh dunia memasuki bulan baru pada waktu lokal masing-masing. Yang lain, metode hisab wujudul hilal, tetap berpijak pada posisi geometris bulan dari horizon lokal.
Baca juga: Kuatnya Paham Rukyat Literal dan Matlak Lokal Menyebabkan Konsep KHGT Tak Diterima
Perbedaan itu menghasilkan perayaan Idulfitri yang tak serempak: versi KHGT jatuh pada Ahad, 30 Maret 2025. Sedangkan versi hisab wujudul hilal, karena posisi bulan masih di bawah ufuk Indonesia, jatuh sehari setelahnya.
Senja baru saja beringsut dari langit Kota Surakarta ketika Ruswa Darsono menyesap teh di teras rumahnya. Langit barat berpendar jingga. Di sanalah, dalam lipatan cahaya langit itu, umat Islam menggantungkan awal dan akhir ibadah puasa. Tapi, tahun ini, bulan sabit di ufuk tak hanya menandai 1 Syawal. Ia juga kembali menyibakkan perbedaan yang belum reda.
“Wujudul hilal dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sama-sama punya dasar kuat. Tapi kita belum bisa lari dari yang satu ke yang lain begitu saja,” ujar Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Tengah Jumat, 25 April lalu.
KHGT, gagasan yang dirancang sejak 1978 dan dikokohkan melalui forum Istanbul 2016, bertujuan sederhana tapi ambisius: menyatukan penanggalan Islam di seluruh dunia. Satu kalender, satu umat, satu hari raya. Tapi pada Lebaran 1446 Hijriah yang baru lewat, mimpi itu masih sebatas visi. Bahkan Muhammadiyah—yang sejak Musyawarah Nasional Tarjih ke-32 di Pekalongan 2024 telah menyatakan menerima KHGT, masih menetapkan Idulfitri berdasarkan hisab wujudul hilal.
KHGT dan wujudul hilal ibarat dua jendela pada langit yang sama. Yang satu menggunakan prinsip imkanur rukyah global, jika hilal terlihat di satu titik di bumi, seluruh dunia memasuki bulan baru pada waktu lokal masing-masing. Yang lain, metode hisab wujudul hilal, tetap berpijak pada posisi geometris bulan dari horizon lokal.
Baca juga: Kuatnya Paham Rukyat Literal dan Matlak Lokal Menyebabkan Konsep KHGT Tak Diterima
Perbedaan itu menghasilkan perayaan Idulfitri yang tak serempak: versi KHGT jatuh pada Ahad, 30 Maret 2025. Sedangkan versi hisab wujudul hilal, karena posisi bulan masih di bawah ufuk Indonesia, jatuh sehari setelahnya.