home masjid

Pakaian dalam Al-Quran: Pertarungan antara Jalan Kembali dan Jalan Tersesat

Sabtu, 07 Juni 2025 - 04:15 WIB
Dalam Surah Ibrahim (14):50, pakaian menjadi alat siksa: sar?b?l min qatir?n, pakaian dari pelangkin, bahan menyiksa bagi mereka yang durhaka. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pakaian, bagi manusia modern, adalah ekspresi identitas, gaya, status, bahkan ideologi. Namun, di dalam Al-Qur’an, pakaian tidak sekadar lembar kain penutup tubuh. Ia adalah isyarat—tentang kodrat, godaan, dan jalan kembali kepada fitrah. Selembar pakaian bisa mengungkap perang abadi antara ide asal manusia dan bisikan abadi dari setan.

Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul “Wawasan Al-Quran” menjelaskam tiga kata digunakan Al-Qur’an untuk menyebut pakaian: libās, tsiyāb, dan sarābīl. Masing-masing muncul dalam konteks dan muatan makna yang berbeda, menyuguhkan perspektif filosofis yang dalam mengenai apa sejatinya fungsi pakaian dalam hidup manusia.

Libās, disebut sebanyak sepuluh kali, berasal dari akar kata yang berarti “menutupi”. Ia adalah penutup, baik secara fisik maupun simbolik. Dalam Surah Al-Nahl (16):14, kata ini digunakan saat Allah menggambarkan laut yang memunculkan “perhiasan yang kamu pakai”—mutiara. Di sini, libās tidak lagi sekadar kain, melainkan perlambang kemewahan, estetika, dan eksistensi sosial.

Tapi tak selalu libās bermakna positif. Dalam konteks spiritual, ia juga menjadi metafora bagi pakaian batin: kesalehan, kehormatan, atau bahkan kemunafikan. Pakaian tak hanya menutupi tubuh, tapi juga bisa menutupi niat. Al-Qur’an menyebut bahwa dalam relasi suami istri, mereka adalah libās satu sama lain—penutup, pelindung, dan penenang.

Baca juga: Mengapa Binatang atau Makanan Tertentu Diharamkan? Begini Penjelasan Quraish Shihab

Sementara itu, tsiyāb yang berasal dari akar kata tsaaba (kembali), menyiratkan sebuah filosofi eksistensial: bahwa pakaian adalah kembalinya sesuatu pada tujuan awalnya.

Ide dasar pakaian bukan sekadar menutup, melainkan mengembalikan manusia pada kodrat aslinya—yakni tertutupnya aurat. Sebuah kenangan primordial yang terekam jelas dalam Surah Al-A’raf (7):20-22, ketika Adam dan Hawa kehilangan pakaian surgawi akibat tipu daya setan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya