home masjid

Jejak Nabi Ibrahim di Makkah: Dinamika Sejarah Migrasi dan Wahyu

Sabtu, 07 Juni 2025 - 05:45 WIB
Apakah Ibrahim dan Ismail benar-benar menjejakkan kaki di lembah Makkah? Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID--Lembah itu kering. Gersang. Tak tampak kehidupan. Di kejauhan, hanya bukit-bukit batu. Tapi di balik sunyi dan tandusnya, sejarah besar pernah ditabur di sana. Sejarah tentang pengasingan, pengabdian, dan pendirian satu bangunan suci yang akan mengguncang dunia: Kakbah.

Cerita tentang Ibrahim dan anaknya, Ismail, datang ke lembah yang kini menjadi Makkah, nyaris menjadi konsensus dalam sejarah Islam. Namun bukan tanpa cela. Beberapa sejarawan, termasuk William Muir, sejarawan Inggris abad ke-19, menolaknya mentah-mentah. Menurut Muir, kisah itu hanyalah “Israeliyat”—cerita-cerita Yudaika yang disisipkan belakangan untuk membangun hubungan fiktif antara bangsa Arab dan Ibrani.

Ia menuduh: ini siasat orang Yahudi. Dengan menjadikan Ismail, putra Ibrahim dari Hajar, sebagai leluhur orang Arab, mereka menciptakan jembatan imajiner dengan bangsa Arab. Tujuannya, agar emigran Yahudi lebih mudah diterima, dan perdagangan mereka di Jazirah Arab menjadi lancar.

"Kita tidak melihat bahwa argumentasi demikian itu sudah cukup kuat untuk menghilangkan kenyataan sejarah," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad".

Baca juga: Iduladha di Istiqlal, Fadli Zon Serukan Teladan Nabi Ibrahim dan Perkuat Budaya Bangsa

Pendapat ini, meski sempat memengaruhi sejumlah orientalis, sulit diterima oleh banyak cendekiawan Muslim. Argumen baliknya sederhana tapi kuat: jika kisah itu hanya dongeng, mengapa sumber-sumber dari luar Islam, seperti Herodotus dan Diodorus Siculus, menyebut adanya rumah suci yang diagungkan di Makkah jauh sebelum Islam lahir? Apakah rumah itu bukan Kakbah?

Sejarawan Muslim melihat kehadiran Ibrahim dan Ismail di Makkah sebagai bagian dari dinamika sejarah migrasi dan wahyu. Ibrahim, seorang pengembara spiritual, meninggalkan tanah kelahirannya di Ur, Mesopotamia, untuk menyebarkan risalah tauhid. Ia menjelajahi Palestina dan Mesir, lalu membawa Hajar dan Ismail ke sebuah lembah terpencil yang kelak menjadi jantung dunia Islam.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya