Qushayy dan Panggung Pertama Makkah: Menukar Kunci Kakbah dengan Khamar
Miftah yusufpati
Ahad, 08 Juni 2025 - 04:15 WIB
Ia membangun dengan visi, mengambil dengan siasat, dan mencatatkan dirinya sebagai arsitek pertama dari kota paling suci di dunia Islam. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Ketika gurun belum semegah peradaban, Qushayy memulai skenarionya dari balik sepi Kakbah yang sunyi. Ia bukan sekadar pemimpin, ia pengarsitek lahirnya Makkah sebagai kota di tengah benturan kabilah, sumur yang dikubur, dan rumah suci yang dipertaruhkan.
Sejarah tak pernah mencatat tepuk tangan pertama bagi seorang pendiri kota. Barangkali karena ketika Qushayy bin Kilab mulai menapaki gurun sunyi Makkah, belum ada tapal batas untuk disebut kota. Yang ada hanyalah Kakbah, rumah batu tua yang disebut sebagai Rumah Tuhan, dikelilingi perkampungan nomadik yang masih menyimpan bau unta dan jejak kafilah dari Yaman, Najd, dan Syam.
Makkah kala itu bukan kota. Bahkan menyebutnya permukiman pun agak berlebihan. Ia hanyalah titik temu—antara pasir dan peluh, antara kabilah yang bersaing dan sumur yang mengering karena kealpaan para penghuninya.
Namun di tengah itulah seorang anak muda bernama Qushayy hadir, dan diam-diam mengukir namanya sebagai pendiri struktur sosial paling awal dari kota yang kelak menjadi pusat dunia Islam.
Baca juga: Kiswah Kakbah Diangkat Setinggi 3 Meter, Tanda Musim Haji Dimulai
Dari Sumur yang Dilenyapkan
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menyebut sejarah Kakbah tak bisa dilepaskan dari cerita sumur. Zamzam, yang kini dikagumi dan diperebutkan, pernah ditinggalkan, dikubur dalam-dalam oleh Mudzadz dari Jurhum.
Sejarah tak pernah mencatat tepuk tangan pertama bagi seorang pendiri kota. Barangkali karena ketika Qushayy bin Kilab mulai menapaki gurun sunyi Makkah, belum ada tapal batas untuk disebut kota. Yang ada hanyalah Kakbah, rumah batu tua yang disebut sebagai Rumah Tuhan, dikelilingi perkampungan nomadik yang masih menyimpan bau unta dan jejak kafilah dari Yaman, Najd, dan Syam.
Makkah kala itu bukan kota. Bahkan menyebutnya permukiman pun agak berlebihan. Ia hanyalah titik temu—antara pasir dan peluh, antara kabilah yang bersaing dan sumur yang mengering karena kealpaan para penghuninya.
Namun di tengah itulah seorang anak muda bernama Qushayy hadir, dan diam-diam mengukir namanya sebagai pendiri struktur sosial paling awal dari kota yang kelak menjadi pusat dunia Islam.
Baca juga: Kiswah Kakbah Diangkat Setinggi 3 Meter, Tanda Musim Haji Dimulai
Dari Sumur yang Dilenyapkan
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menyebut sejarah Kakbah tak bisa dilepaskan dari cerita sumur. Zamzam, yang kini dikagumi dan diperebutkan, pernah ditinggalkan, dikubur dalam-dalam oleh Mudzadz dari Jurhum.