Wamendikdasmen: Waspada Brain Rot Pada Anak Usia Dini, Akibat Penggunaan Gawai Berlebihan
Lusi mahgriefie
Senin, 09 Juni 2025 - 15:52 WIB
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq dalam acara kegiatan Peningkatan Kapasitas Fasilitator PAUD HI Tahap 2. Foto: kemendikdasmen.go.id
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menyoroti dampak penggunaan gawai pada anak usia dini. Menurutnya, peran fasilitator PAUD Holistik Integratif (PAUD HI) menjadi garda terdepan melindungi anak di era digital ini.
Brain rot secara umum merupakan istilah informal yang menggambarkan kondisi penurunan fungsi kognitif dan mental akibat konsumsi berlebihan terhadap konten yang tidak berkualitas atau tidak menantang, terutama di dunia digital. Istilah ini sering dikaitkan dengan kebiasaan menghabiskan waktu lama di media sosial, menonton video receh, atau membaca berita dangkal.
Wamendikdasmen dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Fasilitator PAUD HI Tahap 2 mengatakan bahwa pentingnya peran fasilitator PAUD HI sebagai garda terdepan dalam mendampingi layanan pengasuhan, pendidikan, kesehatan, gizi, dan perlindungan bagi anak usia dini.
Baca juga:Angka Rabun Jauh pada Anak Meningkat, Penggunaan Gawai Jadi Salah Satu Penyebab
Ia menjabarkan dampak penggunaan gawai yang berlebihan pada anak usia dini yakni sebanyak 33,4% anak usia 0–6 tahun telah terbiasa menggunakan gawai. Bahkan 25% di antaranya berada di rentang usia 0–4 tahun. Sementara itu, pada kelompok usia 5–6 tahun, angkanya meningkat hingga 52%.
"Kita sedang menghadapi tantangan besar, yakni tsunami digital yang menyerang anak-anak kita sejak usia dini. Pola asuh dan interaksi anak dengan orang tua maupun guru telah banyak dipengaruhi oleh media sosial dan penggunaan gawai. Ini berisiko menimbulkan gejala brain rot, yaitu menurunnya stimulasi intelektual, emosional, dan sosial akibat paparan digital yang berlebihan," jelas Wamen Fajar, melansir dari laman Kemendikdasmen.
Fajar menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini seharusnya lebih menekankan pada metode belajar konvensional yang mengedepankan interaksi fisik, seperti membaca buku cetak dan bermain secara langsung, guna merangsang kecerdasan anak.
Brain rot secara umum merupakan istilah informal yang menggambarkan kondisi penurunan fungsi kognitif dan mental akibat konsumsi berlebihan terhadap konten yang tidak berkualitas atau tidak menantang, terutama di dunia digital. Istilah ini sering dikaitkan dengan kebiasaan menghabiskan waktu lama di media sosial, menonton video receh, atau membaca berita dangkal.
Wamendikdasmen dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Fasilitator PAUD HI Tahap 2 mengatakan bahwa pentingnya peran fasilitator PAUD HI sebagai garda terdepan dalam mendampingi layanan pengasuhan, pendidikan, kesehatan, gizi, dan perlindungan bagi anak usia dini.
Baca juga:Angka Rabun Jauh pada Anak Meningkat, Penggunaan Gawai Jadi Salah Satu Penyebab
Ia menjabarkan dampak penggunaan gawai yang berlebihan pada anak usia dini yakni sebanyak 33,4% anak usia 0–6 tahun telah terbiasa menggunakan gawai. Bahkan 25% di antaranya berada di rentang usia 0–4 tahun. Sementara itu, pada kelompok usia 5–6 tahun, angkanya meningkat hingga 52%.
"Kita sedang menghadapi tantangan besar, yakni tsunami digital yang menyerang anak-anak kita sejak usia dini. Pola asuh dan interaksi anak dengan orang tua maupun guru telah banyak dipengaruhi oleh media sosial dan penggunaan gawai. Ini berisiko menimbulkan gejala brain rot, yaitu menurunnya stimulasi intelektual, emosional, dan sosial akibat paparan digital yang berlebihan," jelas Wamen Fajar, melansir dari laman Kemendikdasmen.
Fajar menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini seharusnya lebih menekankan pada metode belajar konvensional yang mengedepankan interaksi fisik, seperti membaca buku cetak dan bermain secara langsung, guna merangsang kecerdasan anak.