Madinah: Dari Nama Kota ke Simbol Politik dan Peradaban Islam
Miftah yusufpati
Selasa, 10 Juni 2025 - 05:15 WIB
Madinah tahun 1907. Ilusrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pembicaraan tentang hubungan agama dan politik dalam Islam seringkali mengabaikan konteks historis yang mendasar: masyarakat Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW.
Dalam tulisannya di "Jurnal Pemikiran Islam Paramadina", Nurcholish Madjid yang akrab disapa Cak Nur menegaskan bahwa memahami Madinah adalah kunci untuk menangkap esensi politik Islam yang otentik dan relevan dengan persoalan kontemporer.
Madinah bukan sekadar nama geografis baru bagi sebuah kota oase di Jazirah Arab. Kota yang dulunya bernama Yatsrib itu, dihuni oleh suku-suku Arab pagan Aws dan Khazraj serta komunitas Yahudi, menyimpan makna yang jauh lebih dalam ketika Nabi mengganti namanya menjadi Madinah.
Dalam perspektif bahasa Arab, “madinah” berarti kota, tetapi akar kata ini mengandung makna kepatuhan (d-y-n), yang berhubungan dengan konsep agama (din) sebagai sistem kepatuhan total kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Konsep kepatuhan ini bukan hanya tentang ritual keagamaan, tetapi menjadi pijakan fundamental bagi tatanan sosial dan politik.
Islam sebagai agama yang benar adalah kepatuhan yang penuh pasrah dan integral, yang melahirkan kedamaian dan keselamatan—nilai-nilai yang berakar dari kata salam dan salim. Kepatuhan itu bukan hanya tuntutan spiritual, melainkan hukum alam bagi masyarakat dan alam semesta.
Baca juga: Masih di Madinah, Ivan Gunawan Asyik Bagi-Bagi Sarapan Sedekah Subuh
Dalam tulisannya di "Jurnal Pemikiran Islam Paramadina", Nurcholish Madjid yang akrab disapa Cak Nur menegaskan bahwa memahami Madinah adalah kunci untuk menangkap esensi politik Islam yang otentik dan relevan dengan persoalan kontemporer.
Madinah bukan sekadar nama geografis baru bagi sebuah kota oase di Jazirah Arab. Kota yang dulunya bernama Yatsrib itu, dihuni oleh suku-suku Arab pagan Aws dan Khazraj serta komunitas Yahudi, menyimpan makna yang jauh lebih dalam ketika Nabi mengganti namanya menjadi Madinah.
Dalam perspektif bahasa Arab, “madinah” berarti kota, tetapi akar kata ini mengandung makna kepatuhan (d-y-n), yang berhubungan dengan konsep agama (din) sebagai sistem kepatuhan total kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Konsep kepatuhan ini bukan hanya tentang ritual keagamaan, tetapi menjadi pijakan fundamental bagi tatanan sosial dan politik.
Islam sebagai agama yang benar adalah kepatuhan yang penuh pasrah dan integral, yang melahirkan kedamaian dan keselamatan—nilai-nilai yang berakar dari kata salam dan salim. Kepatuhan itu bukan hanya tuntutan spiritual, melainkan hukum alam bagi masyarakat dan alam semesta.
Baca juga: Masih di Madinah, Ivan Gunawan Asyik Bagi-Bagi Sarapan Sedekah Subuh