home masjid

Bagaimana Umat Islam Membaca Bibel sebagai Nubuat atas Nabi Muhammad SAW?

Kamis, 12 Juni 2025 - 15:25 WIB
Keyakinan itu bukan sekadar spekulasi, tapi bagian dari dinamika peradaban yang berupaya memahami dan menempatkan dirinya di antara kitab-kitab suci yang bersaing menafsirkan kebenaran. Foto: Unsplash
LANGIT7.ID-Beliau tidak disebut dengan terang. Tapi sebagian umat meyakini tanda-tandanya ada. Bahwa nama “Ahmad”—sebutan alternatif bagi Muhammad SAWtelah disebut-sebut dalam kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an. Dan bahwa kabar kedatangannya telah ditulis jauh sebelum abad ke-7, namun disembunyikan atau diselewengkan oleh tangan-tangan penguasa agama sebelumnya.

Begitulah narasi yang tumbuh sejak masa awal Islam. Al-Qur’an secara eksplisit mencatat bahwa Nabi Muhammad adalah "rasul yang namanya tertulis di dalam Taurat dan Injil" (Q.S. 7:157). Dalam surah lain, Isa bin Maryam bahkan disebut berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah... dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul setelahku, yang namanya Ahmad” (Q.S. 61:6).

Ayat-ayat ini menjadi dasar bagi keyakinan umat Islam bahwa Muhammad bukan hanya nabi penutup, tapi juga yang diramalkan oleh para nabi sebelumnya. Dalam buku Titik Temu Islam dan Kristen: Persepsi dan Salah Persepsi, William Montgomery Watt menelusuri akar-akar keyakinan ini, termasuk jejak filologis dan polemik yang berkembang antara Islam dan Kristen sejak abad ke-8.

Menurut Watt, pada masa pemerintahan Khalifah al-Mahdi (sekitar 781 M), diskusi-diskusi antaragama berlangsung intens, terutama dengan umat Kristen Timur. Dalam dialog yang dicatat oleh seorang uskup Kristen bernama Timothy, disebutkan tiga ayat yang dijadikan dasar oleh kaum Muslim bahwa Bibel telah meramalkan kedatangan Muhammad: Deuteronomy 18:18, Isaiah 21:7, dan janji kedatangan "Paracletos" dalam Injil Yohanes.

Baca juga: Membaca Kristen dari Madinah Menurut Montgomery Watt

Di Deuteronomy, Tuhan berkata kepada Musa bahwa Ia akan membangkitkan seorang nabi seperti Musa dari kalangan “saudara-saudaramu”. Sebagian penafsir Muslim menekankan bahwa “saudara” Bani Israel di sini adalah Bani Ismail, keturunan Ibrahim dari jalur Hajar, yang diyakini sebagai leluhur bangsa Arab. Sementara dalam Isaiah disebut seorang “penunggang unta”, gambaran yang oleh pemikir Muslim dianggap sebagai simbol pengembara padang pasir, latar khas Jazirah Arab.

Namun yang paling kontroversial adalah janji Yesus tentang Paracletos (Yohanes 14:26 dan 16:7). Umat Kristen mengartikannya sebagai Ruh Kudus. Tapi sebagian kalangan Islam menilai ada perbedaan redaksi yang signifikan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya