LANGIT7.ID-Beliau tidak disebut dengan terang. Tapi sebagian umat meyakini tanda-tandanya ada. Bahwa nama “Ahmad”—sebutan alternatif bagi
Muhammad SAW telah disebut-sebut dalam kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an. Dan bahwa kabar kedatangannya telah ditulis jauh sebelum abad ke-7, namun disembunyikan atau diselewengkan oleh tangan-tangan penguasa agama sebelumnya.
Begitulah narasi yang tumbuh sejak masa awal Islam.
Al-Qur’an secara eksplisit mencatat bahwa Nabi Muhammad adalah "rasul yang namanya tertulis di dalam Taurat dan Injil" (Q.S. 7:157). Dalam surah lain, Isa bin Maryam bahkan disebut berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah... dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul setelahku, yang namanya Ahmad” (Q.S. 61:6).
Ayat-ayat ini menjadi dasar bagi keyakinan umat Islam bahwa Muhammad bukan hanya nabi penutup, tapi juga yang diramalkan oleh para nabi sebelumnya. Dalam buku
Titik Temu Islam dan Kristen: Persepsi dan Salah Persepsi, William Montgomery Watt menelusuri akar-akar keyakinan ini, termasuk jejak filologis dan polemik yang berkembang antara
Islam dan Kristen sejak abad ke-8.
Menurut Watt, pada masa pemerintahan Khalifah al-Mahdi (sekitar 781 M), diskusi-diskusi antaragama berlangsung intens, terutama dengan umat Kristen Timur. Dalam dialog yang dicatat oleh seorang uskup Kristen bernama Timothy, disebutkan tiga ayat yang dijadikan dasar oleh kaum Muslim bahwa Bibel telah meramalkan kedatangan Muhammad: Deuteronomy 18:18, Isaiah 21:7, dan janji kedatangan "Paracletos" dalam Injil Yohanes.
Baca juga: Membaca Kristen dari Madinah Menurut Montgomery Watt Di Deuteronomy, Tuhan berkata kepada Musa bahwa Ia akan membangkitkan seorang nabi seperti Musa dari kalangan “saudara-saudaramu”. Sebagian penafsir Muslim menekankan bahwa “saudara” Bani Israel di sini adalah Bani Ismail, keturunan Ibrahim dari jalur Hajar, yang diyakini sebagai leluhur bangsa Arab. Sementara dalam Isaiah disebut seorang “penunggang unta”, gambaran yang oleh pemikir Muslim dianggap sebagai simbol pengembara padang pasir, latar khas Jazirah Arab.
Namun yang paling kontroversial adalah janji Yesus tentang Paracletos (Yohanes 14:26 dan 16:7). Umat Kristen mengartikannya sebagai Ruh Kudus. Tapi sebagian kalangan Islam menilai ada perbedaan redaksi yang signifikan.
Kata Periklutos dalam bahasa Yunani berarti “yang terpuji”—padanan semantik dari kata Muhammad atau Ahmad dalam bahasa Arab. Watt mencatat kemungkinan kesamaran antara kata Parakletos (penghibur) dan Periklutos (terpuji), yang huruf-huruf konsonannya mirip dalam transkripsi Semitik: prklts.
"Kesadaran linguistik ini mungkin telah memicu penafsiran awal bahwa Isa meramalkan Muhammad," tulis Watt. Apalagi, sejak pertengahan abad ke-8, nama Ahmad mulai muncul sebagai alternatif nama Muhammad dalam masyarakat Muslim. Sebelum itu, kata “Ahmad” belum dikenal luas sebagai nama pribadi.
Sejarawan awal seperti Ibn Ishaq (w. 768 M) mengutip Q.S. 61:6, tetapi tidak secara eksplisit menyebut Ahmad sebagai nama nabi. Bahkan Ibn Ishaq lebih tertarik pada tafsir tentang “manhamanna”—kata dari bahasa Syria yang diklaim memiliki makna serupa dengan Muhammad. Dalam biografi kenabiannya, ia juga menyebut kisah pendeta Bahira, seorang Kristen Suriah yang diyakini melihat tanda kenabian Muhammad ketika beliau masih muda dalam perjalanan dagang ke Syam.
Baca juga: Montgomery Watt : Ayat-Ayat Al-Qur’an Amat Bersahabat tentang Umat Nasrani Berbagai riwayat kemudian berkembang. Dari cerita tentang kaum Yahudi yang menyembunyikan halaman-halaman Taurat yang menyebut nabi akhir zaman, hingga penghapusan ayat-ayat oleh kaum Kristen yang disebut-sebut memotong atau mengganti bagian tertentu dari Injil. Watt melihat cerita-cerita ini berperan penting dalam membangun narasi identitas Islam, khususnya di tengah ketegangan teologis dan politik dengan komunitas agama lain.
Namun, umat Kristen punya tafsir sendiri. Dalam teologi modern, banyak ramalan dalam Perjanjian Lama, seperti dalam Yesaya 7:14 atau Yesaya 52–53, dibaca bukan sebagai prediksi literal tentang masa depan, melainkan sebagai respons teologis terhadap krisis zaman itu. Bahwa Tuhan akan hadir melalui “anak perawan” atau “hamba penderita”, lebih sebagai metafora kehadiran ilahi ketimbang kronologi kenabian.
Watt menekankan, umat Kristen masa kini tidak menganggap ramalan tersebut sebagai pembuktian kenabian dalam pengertian modern. “Yang penting bukan siapa yang diramalkan, tetapi kualitas pesan yang dibawanya,” tulisnya. Artinya, bagi tradisi Kristen, kenabian ditentukan oleh kekuatan moral dan spiritual, bukan kecocokan nama atau simbol semata.
Namun demikian, upaya intelektual Muslim tetap berjalan. Nama-nama seperti Ibn Qutaibah dan Ali Ibn Rabban al-Thabari berusaha mengumpulkan ayat-ayat dari Bibel yang mereka yakini merujuk pada Muhammad. Thabari bahkan menyusun argumen lengkap untuk mendukung bahwa Injil telah mengisyaratkan hadirnya seorang nabi dari bangsa lain.
Baca juga: Persepsi Al-Qur'an tentang Yahudi Menurut Montgomery Watt Narasi tentang Muhammad dalam Bibel bukan hanya soal tafsir ayat, tapi juga perebutan makna, otoritas, dan posisi dalam sejarah keselamatan. Keyakinan umat Islam tentang nubuatan ini merefleksikan semangat untuk memosisikan Islam bukan sebagai agama baru, tapi sebagai kelanjutan wahyu sebelumnya—penutup yang sah dari rangkaian kenabian sejak Ibrahim.
Dan sebagaimana yang digarisbawahi oleh William Montgomery Watt, keyakinan itu bukan sekadar spekulasi, tapi bagian dari dinamika peradaban yang berupaya memahami dan menempatkan dirinya di antara kitab-kitab suci yang bersaing menafsirkan kebenaran.
(mif)