Abu Bakar Ash-Shiddiq: Jejak Awal Sang Pembenar dalam Tahun-Tahun Gelap Makkah
Miftah yusufpati
Jum'at, 13 Juni 2025 - 04:15 WIB
Dia lelaki sunyi dari Banu Taim, yang sejak awal telah membenarkan dan menyertai Rasulullah SAW. Ilustrasi: Ist/mhy
LANGIT7.ID-Tak banyak yang tahu seperti apa masa kecil lelaki ini. Dalam buku-buku sejarah, sosoknya hanya muncul sebagai bayang: Abdullah bin Abi Quhafah, dari klan kecil Banu Taim. Ayahnya, Usman bin Amir, tak meninggalkan jejak besar dalam sejarah. Begitu pula ibunya, Salma bint Sakhr. Tapi dari rahim perempuan itu, lahirlah satu jiwa yang kelak akan menjadi bayang-bayang Nabi.
Dalam kabilahnya, Banu Taim dikenal sebagai penjaga urusan darah—*diat*, sebutannya. Abu Bakar muda sudah dipercaya menangani urusan ini. Satu posisi yang hanya diduduki oleh mereka yang punya silsilah bersih, akal sehat, dan dihormati.
"Jika Abu Bakar meminta Quraisy untuk menanggung tebusan darah, mereka akan patuh," tulis sejarawan klasik yang dikutip Ibn Sa’d dalam Ṭabaqāt al-Kubrā.
Tak seperti Banu Hasyim yang melahirkan Nabi Muhammad, atau Banu Umayyah yang kelak berkuasa, Banu Taim hidup di tepi sejarah. Tapi dari pinggiran itulah Abu Bakar meniti jalan sunyi menuju panggung sejarah Islam.
Baca juga: Sedikit yang Tahu, Siapa Sebenarnya Nama Asli Abu Bakar Ash-Shiddiq
Tetangga Nabi
Ia tinggal tak jauh dari rumah Khadijah bint Khuwailid. Lokasinya strategis: di antara jantung perdagangan Mekkah, tempat lalu-lalang para saudagar yang pergi ke Syam dan Yaman. Di situlah Abu Bakar mengenal Muhammad. Kedekatan mereka tumbuh pelan-pelan. Sama-sama berdagang, sama-sama menjauhi arak dan berhala. Ketika Muhammad menikahi Khadijah dan tinggal di rumah itu, hubungan mereka kian erat.
Dalam kabilahnya, Banu Taim dikenal sebagai penjaga urusan darah—*diat*, sebutannya. Abu Bakar muda sudah dipercaya menangani urusan ini. Satu posisi yang hanya diduduki oleh mereka yang punya silsilah bersih, akal sehat, dan dihormati.
"Jika Abu Bakar meminta Quraisy untuk menanggung tebusan darah, mereka akan patuh," tulis sejarawan klasik yang dikutip Ibn Sa’d dalam Ṭabaqāt al-Kubrā.
Tak seperti Banu Hasyim yang melahirkan Nabi Muhammad, atau Banu Umayyah yang kelak berkuasa, Banu Taim hidup di tepi sejarah. Tapi dari pinggiran itulah Abu Bakar meniti jalan sunyi menuju panggung sejarah Islam.
Baca juga: Sedikit yang Tahu, Siapa Sebenarnya Nama Asli Abu Bakar Ash-Shiddiq
Tetangga Nabi
Ia tinggal tak jauh dari rumah Khadijah bint Khuwailid. Lokasinya strategis: di antara jantung perdagangan Mekkah, tempat lalu-lalang para saudagar yang pergi ke Syam dan Yaman. Di situlah Abu Bakar mengenal Muhammad. Kedekatan mereka tumbuh pelan-pelan. Sama-sama berdagang, sama-sama menjauhi arak dan berhala. Ketika Muhammad menikahi Khadijah dan tinggal di rumah itu, hubungan mereka kian erat.