LANGIT7.ID-Tak banyak yang tahu seperti apa masa kecil lelaki ini. Dalam buku-buku sejarah, sosoknya hanya muncul sebagai bayang: Abdullah bin Abi Quhafah, dari klan kecil Banu Taim. Ayahnya, Usman bin Amir, tak meninggalkan jejak besar dalam sejarah. Begitu pula ibunya, Salma bint Sakhr. Tapi dari rahim perempuan itu, lahirlah satu jiwa yang kelak akan menjadi bayang-bayang Nabi.
Dalam kabilahnya, Banu Taim dikenal sebagai penjaga urusan darah—*diat*, sebutannya.
Abu Bakar muda sudah dipercaya menangani urusan ini. Satu posisi yang hanya diduduki oleh mereka yang punya silsilah bersih, akal sehat, dan dihormati.
"Jika Abu Bakar meminta Quraisy untuk menanggung tebusan darah, mereka akan patuh," tulis sejarawan klasik yang dikutip Ibn Sa’d dalam
Ṭabaqāt al-Kubrā.
Tak seperti Banu Hasyim yang melahirkan Nabi Muhammad, atau Banu Umayyah yang kelak berkuasa, Banu Taim hidup di tepi sejarah. Tapi dari pinggiran itulah Abu Bakar meniti jalan sunyi menuju panggung sejarah Islam.
Baca juga: Sedikit yang Tahu, Siapa Sebenarnya Nama Asli Abu Bakar Ash-Shiddiq Tetangga NabiIa tinggal tak jauh dari rumah Khadijah bint Khuwailid. Lokasinya strategis: di antara jantung perdagangan Mekkah, tempat lalu-lalang para saudagar yang pergi ke Syam dan Yaman. Di situlah Abu Bakar mengenal Muhammad. Kedekatan mereka tumbuh pelan-pelan. Sama-sama berdagang, sama-sama menjauhi arak dan berhala. Ketika Muhammad menikahi Khadijah dan tinggal di rumah itu, hubungan mereka kian erat.
Muhammad Husain Haekal mencatat, usia mereka hanya terpaut dua tahun. Persamaan watak dan ketenangan jiwa membuat Abu Bakar terikat secara batin dengan Muhammad. “Keakraban itu pula yang membuat Abu Bakar cepat-cepat menerima Islam,” tulisnya dalam
Abu Bakar ash-Shiddiq: Yang Lembut Hati.
Tapi tak semua sejarawan sepakat.
Tarikh al-Tabari menyebut, sebelum kenabian, Muhammad lebih suka menyendiri di Gua Hira. Kontak dengan Abu Bakar bisa jadi hanya terbatas pada urusan dagang dan tetangga. Namun ketika wahyu turun, Rasul mengingat kawan lamanya itu.
Ia mendatanginya. Berkata lirih: “Wahyu turun kepadaku.”
Dan Abu Bakar, menurut riwayat Ibn Ishaq, tak bertanya banyak. Ia menerima begitu saja. Tanpa jeda. Tanpa ragu. Nabi sampai berkata: “Tak seorang pun yang kuajak memeluk Islam kecuali ia ragu dan menunda-nunda, kecuali Abu Bakar. Ia langsung membenarkan.”
Baca juga: Kisah Ali bin Abi Thalib Menolak Membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah Membenarkan dan MenyebarkanDari situlah ia mendapat gelar
ash-Shiddiq, yang membenarkan.
Abu Bakar segera melanjutkan risalah yang baru dikenalnya itu. Ia mendekati kawan-kawan lamanya: Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, Sa’d bin Abi Waqqas, dan Zubair bin Awwam. Semua mereka masuk Islam di tangannya.
Dalam versi Ibn Sa’d, ia bahkan disebut sebagai "penggerak pertama dari kalangan elite Quraisy yang merelakan reputasinya demi agama baru."
Yang membuatnya istimewa: ia tak hanya percaya, tapi berdakwah. Terang-terangan. Padahal saat itu, semua masih sunyi, gentar, dan menunggu.
“Abu Bakar adalah lelaki lembut yang keras dalam keyakinan,” catat Ibn Ishaq. “Air matanya mudah jatuh, tapi semangatnya tak pernah padam.”
Dalam salah satu riwayat al-Tabari, ia disebutkan sebagai orang pertama yang berdiri di hadapan para pemuka Quraisy untuk membela Rasulullah, bahkan sebelum Umar masuk Islam.
Baca juga: Kisah Sayyidah Hafshah Dinikahi Rasulullah SAW setelah Ditolak Abu Bakar dan Utsman Lelaki dari GuaAbu Bakar bukan hanya pembenar; ia adalah pendamping. Dalam hijrah yang sunyi dari Mekkah ke Madinah, ketika Rasul bersembunyi di Gua Tsur, hanya satu orang menemaninya: Abu Bakar. Sumber al-Tabari menulis, saat itu Abu Bakar merintih: “Jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya mereka akan melihat kita.” Nabi menjawab: “Tenanglah, wahai Abu Bakar. Sesungguhnya Allah bersama kita.”
Itulah Abu Bakar. Penjaga sunyi di balik gemuruh wahyu. Ia bukan pembicara publik. Tapi keberaniannya mendahului kata. Ia tak memiliki pedang setajam Umar. Tak pula lidah setajam Ali. Tapi dalam hati, ia menggenggam dunia.
Ketika Nabi wafat, Mekkah terguncang. Banyak yang menyangkal. Umar bahkan menghunus pedangnya, tak percaya Rasul telah pergi.
Tapi Abu Bakar berdiri tenang di masjid. Ia berkata: “Barang siapa menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Barang siapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tak akan mati.”
Kata-kata itu menghentak Madinah.
Dan Islam pun menemukan nahkodanya yang baru: lelaki sunyi dari Banu Taim, yang sejak awal telah membenarkan dan menyertai.
Baca juga: Perkembangan Tafsir: Pada Mulanya Abu Bakar Ash-Shiddiq Saja Tidak Berani Menafsirkan Al-Qur'an(mif)