Kisah Sufi: Mullah Nasrudin dan Pintu Istana yang Tertutup Bagi Rakyat
Miftah yusufpati
Sabtu, 14 Juni 2025 - 15:56 WIB
Ketika kebenaran dikunci dari luar, ia akan masuk lewat senyum seorang sufi. Ilustrasi: chatgpt
LANGIT7.ID-Hari itu Nasrudin Hoja sedang berada di kota raja. Di depan gerbang istana, suasana tampak sibuk luar biasa. Para penjaga berjaga dengan sikap siaga. Kuda-kuda mewah dan kereta para bangsawan memenuhi halaman. Bendera-bendera negara asing berkibar.
Nasrudin, yang terkenal sebagai sufi nyentrik, penasaran. Ia mendekat, tapi segera dihardik oleh seorang pengawal: "Menjauhlah engkau, hai mullah!"
Dengan nada tenang Nasrudin bertanya: "Mengapa aku harus menjauh?"
Pengawal menjelaskan: "Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Pembicaraan penting tengah berlangsung. Menyangkut nasib rakyat. Jangan sampai terganggu!"
Nasrudin terdiam sejenak, lalu menanggapi: "Tapi bukankah aku ini rakyat? Mengapa justru rakyat harus dijauhkan dari pembicaraan tentang nasibnya sendiri?"
Baca juga: Kisah Sufi Ajaran Nizamudin Aulia: Tuan Rumah dan Tamu
Pengawal mulai kesal: "Kami hanya menjalankan perintah. Kami menjaga agar tak ada perusuh masuk."
Nasrudin, yang terkenal sebagai sufi nyentrik, penasaran. Ia mendekat, tapi segera dihardik oleh seorang pengawal: "Menjauhlah engkau, hai mullah!"
Dengan nada tenang Nasrudin bertanya: "Mengapa aku harus menjauh?"
Pengawal menjelaskan: "Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Pembicaraan penting tengah berlangsung. Menyangkut nasib rakyat. Jangan sampai terganggu!"
Nasrudin terdiam sejenak, lalu menanggapi: "Tapi bukankah aku ini rakyat? Mengapa justru rakyat harus dijauhkan dari pembicaraan tentang nasibnya sendiri?"
Baca juga: Kisah Sufi Ajaran Nizamudin Aulia: Tuan Rumah dan Tamu
Pengawal mulai kesal: "Kami hanya menjalankan perintah. Kami menjaga agar tak ada perusuh masuk."