Kisah Hikmah Mullah Nasrudin dan Kengerian Timur Lenk: Pedang Keadilan dari Langit
Miftah yusufpati
Ahad, 15 Juni 2025 - 05:15 WIB
Terkadang hikmah bukan soal siapa yang benar atau salah. Tapi bagaimana selamat membawa kebenaran ke tengah dunia yang suka membungkamnya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pada masa kekuasaan Timur Lenk, dunia Islam dicekam ketakutan. Raja berkaki pincang itu, dengan wajah membara dan ambisi sebesar kerajaannya, tidak hanya menaklukkan negeri demi negeri, tapi juga menundukkan nurani. Seolah-olah pedang di tangannya tak hanya merobek daging, tapi juga melumpuhkan akal sehat. Ia tidak hanya memerangi pemberontak, tapi juga mencurigai orang bijak.
Salah satu ritual kekuasaannya yang paling menakutkan adalah pertanyaan yang ditujukan kepada para ulama setiap kali ia menaklukkan satu wilayah: “Apakah aku adil atau lalim?”
Sebuah pertanyaan maut. Karena, jika sang ulama menjawab “adil”, maka ia akan digantung dengan alasan keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Tapi jika menjawab “lalim”, ia akan dipenggal karena dianggap menghina kekuasaan. Beberapa ulama besar sudah menjadi korban permainan retoris yang keji ini.
Namun, pada suatu waktu, tibalah giliran seorang ulama eksentrik, filsuf rakyat yang sering dianggap gila sekaligus bijak: Mullah Nasrudin Hoja. Ia dikenal suka melontarkan jawaban nyentrik yang justru menyelamatkan orang dari belenggu nalar yang buntu.
Baca juga: Belajar dari Nasruddin Hoja, Tetap Bijaksana Meski Sedang Melucu
Dengan wajah tanpa rasa takut, Nasrudin berdiri di hadapan Timur Lenk.
Raja itu mengulang ancamannya, kali ini dengan nada yang bahkan lebih dingin daripada baja pedangnya:
Salah satu ritual kekuasaannya yang paling menakutkan adalah pertanyaan yang ditujukan kepada para ulama setiap kali ia menaklukkan satu wilayah: “Apakah aku adil atau lalim?”
Sebuah pertanyaan maut. Karena, jika sang ulama menjawab “adil”, maka ia akan digantung dengan alasan keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Tapi jika menjawab “lalim”, ia akan dipenggal karena dianggap menghina kekuasaan. Beberapa ulama besar sudah menjadi korban permainan retoris yang keji ini.
Namun, pada suatu waktu, tibalah giliran seorang ulama eksentrik, filsuf rakyat yang sering dianggap gila sekaligus bijak: Mullah Nasrudin Hoja. Ia dikenal suka melontarkan jawaban nyentrik yang justru menyelamatkan orang dari belenggu nalar yang buntu.
Baca juga: Belajar dari Nasruddin Hoja, Tetap Bijaksana Meski Sedang Melucu
Dengan wajah tanpa rasa takut, Nasrudin berdiri di hadapan Timur Lenk.
Raja itu mengulang ancamannya, kali ini dengan nada yang bahkan lebih dingin daripada baja pedangnya: