Imam Al-Ghazali Peringatkan tentang Siksaan Jiwa yang Dimulai di Dunia
Miftah yusufpati
Jum'at, 20 Juni 2025 - 16:29 WIB
Dan yang paling menakutkan: neraka itu bisa sudah mengelilingi kita, bahkan sebelum kita mati. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Pada suatu malam yang tak dicatat dalam kalender, seorang lelaki tua duduk dalam keterasingannya dan berkata: “Mereka bertanya, di mana ular-ular itu? Padahal ular-ular itu telah ada di dalam dirinya.” Begitulah cara Imam Al-Ghazali menjawab orang-orang yang menyangsikan adanya siksa kubur. Baginya, neraka bukan realitas eksternal, tapi sesuatu yang tumbuh dan membiak dalam jiwa.
Lebih dari sembilan abad sebelum dunia mengenal psikologi eksistensial dan psikoanalisis, Al-Ghazali sudah menelusuri lorong-lorong jiwa manusia dan menemukan kenyataan yang mengerikan: bahwa manusia menanam api nerakanya sendiri. Bahwa setelah kematian, jiwa tidak lenyap, melainkan telanjang—dihadapkan dengan dirinya sendiri.
Inilah satu dari sekian ajaran besar yang termuat dalam Kimia Kebahagiaan(The Alchemy of Happiness), karya klasik Al-Ghazali yang diterjemahkan oleh Haidar Bagir dan diterbitkan ulang oleh Penerbit Mizan. Buku itu bukan semata risalah filsafat atau sufisme. Ia adalah peta jalan bagi jiwa yang ingin mengenal hakikat keberadaannya.
Al-Ghazali menolak gagasan bahwa kehidupan setelah mati memerlukan kebangkitan jasad fisik. Ia berpihak pada pembuktian spiritual bahwa jiwa manusia tetap eksis setelah tubuh terurai. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad: “Kematian adalah jembatan yang menyatukan sahabat dengan sahabat.”
Namun, tidak semua jiwa akan berjumpa dengan Tuhan dalam keadaan bahagia. Banyak di antaranya justru akan berhadapan dengan diri mereka sendiri—dan tak sanggup menanggungnya.
Baca juga: Surga Tanpa Taman, Neraka Tanpa Api Menurut Imam Al-Ghazali
Tiga Neraka
Lebih dari sembilan abad sebelum dunia mengenal psikologi eksistensial dan psikoanalisis, Al-Ghazali sudah menelusuri lorong-lorong jiwa manusia dan menemukan kenyataan yang mengerikan: bahwa manusia menanam api nerakanya sendiri. Bahwa setelah kematian, jiwa tidak lenyap, melainkan telanjang—dihadapkan dengan dirinya sendiri.
Inilah satu dari sekian ajaran besar yang termuat dalam Kimia Kebahagiaan(The Alchemy of Happiness), karya klasik Al-Ghazali yang diterjemahkan oleh Haidar Bagir dan diterbitkan ulang oleh Penerbit Mizan. Buku itu bukan semata risalah filsafat atau sufisme. Ia adalah peta jalan bagi jiwa yang ingin mengenal hakikat keberadaannya.
Al-Ghazali menolak gagasan bahwa kehidupan setelah mati memerlukan kebangkitan jasad fisik. Ia berpihak pada pembuktian spiritual bahwa jiwa manusia tetap eksis setelah tubuh terurai. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad: “Kematian adalah jembatan yang menyatukan sahabat dengan sahabat.”
Namun, tidak semua jiwa akan berjumpa dengan Tuhan dalam keadaan bahagia. Banyak di antaranya justru akan berhadapan dengan diri mereka sendiri—dan tak sanggup menanggungnya.
Baca juga: Surga Tanpa Taman, Neraka Tanpa Api Menurut Imam Al-Ghazali
Tiga Neraka