home masjid

Zaid bin Amr: Sepupu Umar bin Khattab yang Bertauhid sebelum Datangnya Islam

Senin, 23 Juni 2025 - 04:30 WIB
Dalam sunyi langkahnya, ia menjadi poros yang tak kasat mata bagi peradaban tauhid. Ilustasi: AI
LANGIT7.ID- Makkah, masa jahiliah. Pasar Ukaz belum pernah seramai ini. Di tengah keramaian transaksi dan pujian-pujian untuk berhala, terdengar suara sorak kagum. “Demi Lata dan Uzza! Lihatlah kepiawaiannya menunggang kuda!” seru seorang pemuda Quraisy dengan mata berbinar. Umar bin Khattab, namanya.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menceritakan belum sempat kekaguman itu mendarah, sebuah kalimat mengejutkan menyusup dari rekannya. Kalimat yang menyebut nama Zaid bin Amr bin Nufail, sepupu Umar yang tersohor bukan karena kehebatan berperang, tapi karena keberaniannya menolak menyembah berhala.

“Semoga Uzza mengampuni sepupumu Zaid,” ejek si rekan, mengutip salah satu syair Zaid. Umar terdiam sejenak. Lalu wajahnya mengeras, menegang oleh kemarahan. “Celaka dia! Dia sudah ingkar!”

Namun sejarah berkata lain. Justru Zaid-lah yang mengarungi padang keimanan lebih dulu, jauh sebelum kenabian Muhammad dinyatakan. Ia tidak masuk Yahudi, tak pula Nasrani. Ia seorang hanif, pengikut keyakinan Nabi Ibrahim yang menolak menyekutukan Allah. Ia tak sembah Lata, tak sujud pada Uzza. Tak sudi memakan hewan yang disembelih untuk berhala.

Zaid hidup seolah dalam kekosongan agama, tapi justru dari kekosongan itulah ia mencari kebenaran. Di sebuah malam, di depan Kakbah, ia berseru, “Ya Allah! Sekiranya aku tahu cara menyembah-Mu yang paling Engkau sukai, niscaya aku akan melakukannya.” Kalimat seorang pencari yang tak menemukan kitab, tak beroleh nabi, tapi berserah dengan hati yang penuh iman.

Kekasih Tuhan Sebelum Risalah Turun

Zaid bukan hanya pemuja kebenaran. Ia juga pelindung kemanusiaan di zaman yang mencabik-cabik nilai hidup. Kala bayi perempuan dikubur hidup-hidup demi harga diri kabilah, Zaid berdiri di tengah padang itu sebagai pagar kehidupan. “Jangan bunuh anak itu. Serahkan padaku. Aku akan mengasuhnya,” katanya. Ia beri tempat, ia beri masa depan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya